MUṢḤAF ʿABDULLĀH IBN MASʿŪD
Kajian Historis-Kritis terhadap Kodifikasi, Susunan Surah, Varian Bacaan, Status Tekstual, dan Hubungannya dengan Kanonisasi ʿUtsmānī
Abstrak
Muṣḥaf ʿAbdullāh b. Masʿūd merupakan salah satu persoalan paling penting sekaligus paling sensitif dalam penelitian sejarah teks Al-Qur’an. Signifikansinya berasal dari posisi Ibn Masʿūd sendiri: ia merupakan sahabat awal Nabi Muhammad, seorang pengajar Al-Qur’an yang sangat dihormati, dan dalam hadis Ṣaḥīḥ al-Bukhārī disebut sebagai salah satu dari empat tokoh yang menjadi rujukan pembelajaran Al-Qur’an. Ia juga menyatakan telah menerima lebih dari tujuh puluh surah secara langsung dari Nabi. Pada saat yang sama, sumber-sumber Islam klasik mempertahankan tradisi bahwa muṣḥaf pribadinya berbeda dari mushaf yang kemudian distandardisasi pada masa ʿUtsmān, baik dalam susunan surah, beberapa bacaan, beberapa redaksi yang dinisbatkan kepadanya, maupun dalam persoalan al-Fātiḥa dan al-Muʿawwidhatayn. (Sunnah)
Penelitian ini bertujuan merekonstruksi sejarah muṣḥaf Ibn Masʿūd dengan pendekatan historical-critical textual criticism, dengan membedakan secara ketat antara empat hal: (1) keberadaan historis Ibn Masʿūd sebagai otoritas Qur’ani; (2) keberadaan sebuah corpus atau muṣḥaf yang dinisbatkan kepadanya; (3) bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd; dan (4) setiap laporan mengenai isi, susunan, atau varian teks dalam muṣḥaf tersebut. Pembedaan ini penting karena sumber yang tersedia tidak memberikan sebuah manuskrip asli Ibn Masʿūd yang dapat diperiksa secara langsung. Pengetahuan tentang muṣḥafnya terutama berasal dari riwayat literer yang ditransmisikan beberapa generasi setelah wafatnya. Arthur Jeffery mengumpulkan berbagai laporan tersebut dalam Materials for the History of the Text of the Qur’an, sedangkan penelitian lebih baru oleh François Déroche, Ramon Harvey, Shady H. Nasser, dan peneliti lainnya memberikan kerangka baru untuk menilai status dan fungsi bacaan-bacaan tersebut. (Bible.ca)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara historis sangat sulit mempertahankan pandangan bahwa semua informasi mengenai muṣḥaf Ibn Masʿūd merupakan fabrikasi belakangan. Tradisi tentang keberadaan corpusnya, pengaruhnya di Kufah, dan keberadaan bacaan Masʿūdian yang bertahan dalam literatur awal memiliki jejak yang luas. Akan tetapi, tidak semua riwayat mengenai isi muṣḥaf tersebut memiliki tingkat kepastian yang sama. Bahkan dua daftar susunan surah yang dikaitkan dengan tradisi Ibn Masʿūd tidak sepenuhnya identik, dan sumber-sumber kemudian memberi angka yang berbeda mengenai jumlah surah. (Bible.ca)
Persoalan al-Fātiḥa dan dua surah perlindungan, al-Falaq dan al-Nās, merupakan kasus paling kontroversial. Tradisi tertentu menyatakan ketiganya tidak tercantum dalam muṣḥaf Ibn Masʿūd; riwayat lain menunjukkan bahwa persoalannya mungkin lebih kompleks, khususnya antara tidak menuliskan suatu surah dalam sebuah muṣḥaf pribadi dan menyangkal status Qur’aninya. Bukhārī 4977 secara eksplisit memelihara laporan bahwa Ibn Masʿūd menganggap dua al-Muʿawwidhatayn bukan bagian dari Qur’an menurut tradisi yang dilaporkan kepada Ubayy b. Kaʿb, sedangkan Ubayy menolaknya dengan menyatakan bahwa Nabi mengatakan kedua surah itu telah diturunkan dan beliau membacanya sebagai bagian dari Qur’an. (Sunnah)
Di sisi lain, bacaan Ibn Masʿūd bukan hanya masalah dua atau tiga surah. Sejumlah bacaan yang dinisbatkan kepadanya menunjukkan varian leksikal dan frasal, misalnya Q. 92:3 وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ dibandingkan dengan teks kanonik وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ, suatu perbedaan yang bahkan muncul dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan dikaitkan dengan bacaan Ibn Masʿūd serta Abū al-Dardāʾ. Varian lain yang dikaitkan dengan Ibn Masʿūd mencakup Q. 5:89 dengan tambahan مُتَتَابِعَاتٍ, Q. 6:153 dengan redaksi وَهَٰذَا صِرَاطُ رَبِّكُمْ, Q. 33:6 dengan tambahan وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ, serta sejumlah varian lain yang memiliki implikasi tafsir atau hukum. (Sunnah)
Kajian ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa muṣḥaf Ibn Masʿūd merupakan bukti penting tentang pluralitas tekstual Qur’ani pada masa awal, tetapi bukan bukti sederhana bahwa terdapat “Qur’an lain” yang sepenuhnya berbeda dari tradisi ʿUtsmānī. Data lebih cocok dipahami sebagai bukti bahwa sebelum dan selama proses standardisasi terdapat sejumlah corpus, bacaan, dan praktik pembukuan pribadi yang mempunyai tingkat keseragaman yang belum sepenuhnya seperti tradisi kanonik kemudian. Standardisasi ʿUtsmān kemudian menghasilkan bentuk tekstual yang menjadi dominan, sementara sebagian bacaan pra-kanonik terus bertahan melalui tradisi lisan, tafsir, fikih, dan literatur qirāʾāt. (JSTOR)
Kata kunci: Ibn Masʿūd, muṣḥaf sahabat, qirāʾāt, rasm ʿUtsmānī, al-Fātiḥa, al-Muʿawwidhatayn, Kufah, textual criticism, kanonisasi Al-Qur’an, varian Qur’ani.
1. Pendahuluan
Sejarah teks Al-Qur’an sering dibahas melalui dua narasi ekstrem.
Narasi pertama menegaskan bahwa sejak masa Nabi tidak terdapat persoalan tekstual yang berarti; seluruh sahabat mengetahui teks yang sama dan mushaf ʿUtsmān hanya menyalin apa yang sejak awal sudah tunggal.
Narasi kedua menggambarkan periode awal sebagai situasi dengan begitu banyak “Qur’an” yang berbeda sehingga teks kanonik dianggap tidak lebih dari hasil kemenangan politik salah satu versi.
Kedua narasi tersebut terlalu sederhana.
Kasus ʿAbdullāh b. Masʿūd memperlihatkan bahwa sejarah sebenarnya lebih kompleks.
Ibn Masʿūd adalah tokoh yang sulit diposisikan sebagai saksi marginal. Tradisi Sunni sendiri memelihara hadis bahwa Nabi memerintahkan umat untuk mengambil pembelajaran Al-Qur’an dari empat orang, dan Ibn Masʿūd disebut pertama dalam salah satu formulasi riwayat tersebut. (Sunnah)
Dalam riwayat lain, Ibn Masʿūd menyatakan:
وَاللَّهِ لَقَدْ أَخَذْتُ مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ بِضْعًا وَسَبْعِينَ سُورَةً
Wa-Llāhi la-qad akhadhtu min fī Rasūli Allāhi biḍʿan wa-sabʿīna sūrah.
“Demi Allah, aku telah menerima lebih dari tujuh puluh surah langsung dari mulut Rasulullah.”
Riwayat tersebut tercantum dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 5000. (Sunnah.com)
Pernyataan ini penting karena ia menampilkan Ibn Masʿūd sebagai otoritas memori Qur’ani, bukan sekadar penyalin biasa.
Masalahnya muncul ketika sumber-sumber yang sama juga mempertahankan informasi bahwa corpus Ibn Masʿūd berbeda dari bentuk ʿUtsmānī.
Maka timbul sejumlah pertanyaan:
Apakah Ibn Masʿūd benar-benar memiliki muṣḥaf tersendiri?
Kapan muṣḥaf itu dibuat?
Apakah ia merupakan mushaf lengkap atau catatan pribadi?
Apakah ia merepresentasikan teks yang diajarkan Nabi, atau bacaan pribadi seorang sahabat?
Apakah perbedaannya hanya berkaitan dengan susunan dan catatan tafsir?
Apakah al-Fātiḥa dan al-Muʿawwidhatayn memang tidak dianggap Qur’an oleh Ibn Masʿūd?
Seberapa kuat laporan tersebut?
Mengapa varian Ibn Masʿūd kemudian tetap digunakan dalam fikih Kufah dan mazhab Ḥanafī?
Bagaimana hubungan corpus tersebut dengan proses standardisasi ʿUtsmān?
Apakah terdapat bukti manuskrip yang dapat dikaitkan langsung dengan Ibn Masʿūd?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan inti penelitian ini.
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki enam tujuan utama.
Pertama, merekonstruksi profil Ibn Masʿūd sebagai otoritas Qur’ani.
Kedua, menilai bukti mengenai keberadaan dan karakter muṣḥaf yang dinisbatkan kepadanya.
Ketiga, mengidentifikasi kategori varian yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd.
Keempat, membedakan antara varian tekstual, bacaan, catatan tafsir, dan masalah susunan surah.
Kelima, menguji secara kritis hubungan muṣḥaf Ibn Masʿūd dengan standardisasi ʿUtsmān.
Keenam, menentukan kesimpulan yang paling masuk akal berdasarkan bukti tanpa terlebih dahulu menerima atau menolak klaim teologis mengenai kemurnian Al-Qur’an.
3. Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-kritis dengan lima prinsip.
3.1. Kritik sumber
Setiap laporan dievaluasi berdasarkan:
siapa yang meriwayatkan;
kapan sumber tersebut hidup;
seberapa dekat ia dengan periode Ibn Masʿūd;
apakah laporan memiliki lebih dari satu jalur;
apakah isi laporan bersifat independen;
dan apakah laporan tersebut dapat dibandingkan dengan bukti lain.
3.2. Kritik bentuk
Satu laporan yang menyebut “bacaan Ibn Masʿūd” tidak otomatis menggambarkan muṣḥaf Ibn Masʿūd.
Ini merupakan perbedaan fundamental.
Arthur Jeffery sendiri memperingatkan bahwa sebagian data yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd berasal secara eksplisit dari “codex”, sementara sebagian lain hanya dicatat sebagai ḥarf atau qirāʾa Ibn Masʿūd. (Bible.ca)
3.3. Kritik transmisi
Sebuah bacaan dapat menjadi tua tanpa harus berarti bahwa bentuknya persis sama dengan yang terdapat dalam muṣḥaf fisik Ibn Masʿūd.
Oleh sebab itu penelitian ini membedakan:
Ibn Masʿūd → muṣḥaf Ibn Masʿūd → sekolah Ibn Masʿūd → bacaan Masʿūdian → tafsir yang menisbatkan bacaan kepadanya.
3.4. Kritik manuskrip
Karena muṣḥaf asli Ibn Masʿūd belum tersedia secara material untuk diuji langsung, maka posisi epistemologisnya berbeda dari manuskrip Ṣanʿāʾ.
Kita memiliki:
bukti literer tentang muṣḥaf Ibn Masʿūd
tetapi:
bukan manuskrip Ibn Masʿūd yang masih utuh dan dapat diverifikasi secara paleografis.
Ini harus selalu dinyatakan.
3.5. Perbandingan interdisipliner
Data literer dibandingkan dengan:
qirāʾāt;
tafsir;
fikih;
rasm;
manuskrip Qur’an awal;
dan penelitian kanonisasi modern.
4. Siapa Ibn Masʿūd?
ʿAbdullāh b. Masʿūd merupakan salah satu Muslim awal dan sahabat yang sangat dekat dengan Nabi.
Tradisi biografis menggambarkannya sebagai figur yang mengalami periode awal Islam dan kemudian menjadi salah satu tokoh pengajar Qur’an terpenting di Kufah.
Dalam tradisi hadis, Nabi disebut bersabda:
خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ
Khudhū al-Qurʾāna min arbaʿah.
“Ambillah/pelajarilah Al-Qur’an dari empat orang.”
Salah satunya adalah Ibn Masʿūd. (Sunnah)
Signifikansi riwayat tersebut sangat besar.
Apabila kita hanya memiliki laporan polemis berabad-abad kemudian bahwa Ibn Masʿūd mempunyai bacaan tertentu, kita dapat mencurigai proyeksi belakangan.
Namun masalahnya lebih sulit karena Ibn Masʿūd sudah diposisikan oleh tradisi hadis sebagai otoritas Qur’ani sebelum persoalan muṣḥafnya muncul sebagai kontroversi akademik modern.
5. Ibn Masʿūd dan Hubungan Langsung dengan Nabi
Riwayat Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 5000 menyatakan:
لَقَدْ أَخَذْتُ مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ بِضْعًا وَسَبْعِينَ سُورَةً
Artinya kurang lebih:
“Aku telah mengambil lebih dari tujuh puluh surah langsung dari mulut Rasulullah.” (Sunnah.com)
Ini bukan bukti bahwa setiap bacaan Ibn Masʿūd harus identik dengan teks kanonik.
Namun ia menunjukkan sesuatu yang sangat penting:
Ibn Masʿūd mengklaim dasar transmisi yang bersifat langsung dan oral.
Dari perspektif sejarah transmisi, ini sangat relevan karena memperlihatkan bahwa oral transmission dan personal codex dapat berhubungan erat tetapi tidak identik.
6. Apakah Ibn Masʿūd Mempunyai Muṣḥaf?
Bukti literer mengarah kepada jawaban:
sangat mungkin ya.
Arthur Jeffery menunjukkan bahwa tradisi tentang corpus Ibn Masʿūd sangat luas, termasuk informasi mengenai:
susunan surah;
varian bacaan;
persoalan al-Fātiḥa;
al-Muʿawwidhatayn;
dan keberadaan salinan-salinan sekunder yang dikaitkan dengan tradisinya. (Bible.ca)
Namun “ada muṣḥaf” tidak berarti kita memiliki bentuk fisiknya.
Tidak terdapat naskah yang dapat diterima secara konsensus oleh paleografi modern sebagai:
“ini adalah manuskrip Ibn Masʿūd asli.”
Karena itu rekonstruksinya bersifat indirect reconstruction.
7. Kapan Muṣḥaf Ibn Masʿūd Dibuat?
Tidak ada jawaban yang pasti.
Terdapat beberapa kemungkinan:
Hipotesis A — dimulai sejak masa Nabi
Ibn Masʿūd mungkin mencatat materi Qur’ani secara bertahap ketika wahyu masih berlangsung.
Hipotesis B — dibentuk setelah wafat Nabi
Catatan-catatan tersebut mungkin baru disusun sebagai corpus setelah wafat Nabi.
Hipotesis C — berkembang di Kufah
Sebagian besar karakter muṣḥaf dapat terbentuk ketika Ibn Masʿūd telah menjadi otoritas Qur’an di Kufah.
Arthur Jeffery menilai kronologi pembentukan corpus tidak dapat dipastikan secara langsung. Ia menyebut kemungkinan bahwa Ibn Masʿūd mengumpulkan materi sejak masa Nabi dan kemudian menyusunnya dalam bentuk codex setelah berada di Kufah. (Bible.ca)
Secara metodologis, kita harus berhenti pada tingkat:
“mungkin”, bukan “terbukti”.
8. Muṣḥaf Pribadi vs Muṣḥaf Resmi
Salah satu kesalahan paling umum adalah menyamakan:
muṣḥaf sahabat
dengan:
edisi kanonik negara.
Keduanya tidak harus memiliki fungsi sama.
Muṣḥaf pribadi mungkin berisi:
teks;
tanda bacaan;
tafsir;
catatan hukum;
urutan pedagogis;
kata penjelas;
atau materi yang dianggap membantu hafalan.
Dengan kata lain:
sebuah personal codex tidak otomatis merupakan “edisi alternatif kitab suci” dalam pengertian modern.
Namun fakta tersebut juga tidak boleh digunakan untuk menghapus varian yang jelas-jelas diperlakukan sebagai bacaan.
9. Konflik dengan Standardisasi ʿUtsmān
Tradisi kemudian menghubungkan Ibn Masʿūd dengan konflik terhadap standardisasi ʿUtsmān.
Jeffery mengutip laporan bahwa ketika mushaf-mushaf lain diperintahkan untuk disingkirkan, Ibn Masʿūd pada awalnya menolak menyerahkan salinannya dan bahwa tradisinya memiliki pengikut kuat di Kufah. (Bible.ca)
Kita harus berhati-hati di sini.
Laporan ini tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi:
“Ibn Masʿūd menolak Al-Qur’an ʿUtsmān karena ia memiliki Al-Qur’an yang benar.”
Itu adalah interpretasi polemis.
Yang dapat disimpulkan dengan lebih aman adalah:
tradisi historis memelihara memori mengenai resistensi atau ketegangan antara corpus Ibn Masʿūd dan proyek standardisasi ʿUtsmān.
10. Mengapa Konflik Itu Masuk Akal Secara Historis?
Jika seseorang telah membangun reputasi sebagai guru Qur’an di Kufah selama bertahun-tahun, standardisasi dari pusat Madinah berpotensi menjadi persoalan otoritas.
Masalahnya bukan hanya:
“kata mana yang benar?”
tetapi:
“siapa yang memiliki kewenangan menetapkan bentuk bacaan yang menjadi standar?”
Dengan perspektif ini, konflik Ibn Masʿūd–ʿUtsmān dapat dibaca sebagai:
konflik epistemik + konflik otoritas + konflik standardisasi.
Bukan semata-mata konflik teologis.
11. Kedudukan Kufah
Kufah menjadi penting karena merupakan salah satu pusat utama pembelajaran Qur’an.
Ibn Masʿūd memiliki pengaruh besar di sana.
Jeffery mencatat bahwa corpus Ibn Masʿūd memiliki cukup banyak pengikut di Kufah dan bahwa sejumlah codices sekunder dikaitkan dengan tradisi tersebut. (Bible.ca)
Ini membantu menjelaskan mengapa beberapa bacaan Masʿūdian terus hidup bahkan setelah standardisasi.
12. Sekolah Ibn Masʿūd
Yang menarik bukan hanya “apa yang ada dalam mushafnya”, tetapi apa yang terjadi setelahnya.
Ibn Masʿūd memiliki murid-murid seperti:
ʿAlqama b. Qays;
al-Aswad b. Yazīd;
al-Rabīʿ b. Khuthaym;
dan tradisi yang kemudian berhubungan dengan qurrāʾ Kufah.
Kemudian sejumlah bacaan Kufah ditemukan dalam:
tafsir;
fikih;
karya qirāʾāt;
dan tradisi bahasa.
Karena itu:
Ibn Masʿūd lebih tepat dipelajari sebagai suatu tradisi sekolah Qur’ani daripada semata-mata sebagai sebuah buku yang hilang.
13. Susunan Surah Muṣḥaf Ibn Masʿūd
Salah satu aspek paling menarik adalah urutan surah.
Dua daftar utama telah ditransmisikan.
Daftar yang dinisbatkan melalui Ibn al-Nadīm/al-Fihrist dan daftar yang ditransmisikan melalui tradisi Ibn Ashta menunjukkan kemiripan umum tetapi tidak identik.
Dalam salah satu daftar, urutan awal misalnya:
2, 4, 3, 7, 6, 5, 10, 9, 16, 11, 12, ...
sedangkan daftar lain memiliki sedikit perbedaan pada beberapa posisi. (Bible.ca)
Ini menunjukkan bahwa:
tradisi mengenai susunan mushaf Ibn Masʿūd sendiri telah mengalami transmisi yang tidak sepenuhnya seragam.
14. Apakah Daftar Susunan Itu Akurat?
Tidak dapat dipastikan seratus persen.
Jeffery menyoroti bahwa salah satu daftar memiliki klaim 110 surah, tetapi daftar yang diwariskan hanya memuat 105 entri. Ini merupakan indikasi kuat adanya masalah transmisi atau penyalinan dalam daftar yang sampai kepada kita. (Bible.ca)
Daftar kedua juga memiliki beberapa surah yang tampak hilang, tetapi sebagian dapat dijelaskan sebagai kesalahan penyalinan karena bacaan Ibn Masʿūd dari surah-surah tersebut diketahui dalam sumber lain. (Bible.ca)
Maka kita tidak boleh mengatakan:
“Muṣḥaf Ibn Masʿūd pasti memiliki tepat 105 atau tepat 110 surah.”
Kesimpulan itu terlalu kuat.
15. Surah-surah yang Dilaporkan Tidak Tercantum
Tradisi yang paling terkenal menyebut bahwa yang tidak tercantum adalah:
al-Fātiḥa (Q. 1);
al-Falaq (Q. 113);
al-Nās (Q. 114).
Namun daftar lain menunjukkan ketidakhadiran beberapa nomor tambahan akibat kesalahan transmisi daftar. Jeffery menilai beberapa surah yang “hilang” dari salah satu daftar sebenarnya diketahui memiliki varian bacaan Ibn Masʿūd sehingga kemungkinan besar masalahnya berada pada daftar, bukan pada corpus aslinya. (Bible.ca)
Dengan demikian:
“Mushaf Ibn Masʿūd hanya memiliki 111 surah” tidak dapat dinyatakan sebagai fakta pasti.
Yang lebih kuat adalah:
“Tradisi yang cukup luas menyatakan bahwa al-Fātiḥa dan dua al-Muʿawwidhatayn tidak tercantum dalam salah satu bentuk yang dinisbatkan kepada muṣḥaf Ibn Masʿūd.”
16. Persoalan Al-Fātiḥa
Al-Fātiḥa adalah kasus yang sangat menarik.
Sumber tradisional tertentu menyatakan Ibn Masʿūd tidak menulisnya.
Tetapi ada laporan lain yang memberikan penjelasan bahwa al-Fātiḥa tidak ditulis karena fungsi khususnya sebagai doa pembuka.
Salah satu laporan yang dipelihara dalam literatur kemudian menyatakan:
لو كتبتها لكتبتها مع كل سورة
Law katabtuhā la-katabtuhā maʿa kulli sūrah.
“Seandainya aku menulisnya, niscaya aku akan menulisnya pada setiap surah.”
Riwayat ini digunakan oleh para ulama untuk menjelaskan bahwa tidak menulis al-Fātiḥa tidak sama dengan menyangkal bahwa ia Qur’an. (ICRAA.org)
Namun secara kritis perlu diperhatikan:
riwayat penjelas tersebut lebih terlambat daripada masa Ibn Masʿūd dan tidak boleh digunakan begitu saja untuk menghapus laporan yang lebih tua.
17. Problem Historis Al-Fātiḥa
Ada tiga kemungkinan utama:
Kemungkinan pertama
Ibn Masʿūd memang tidak menganggap al-Fātiḥa sebagai bagian corpus Qur’an.
Kemungkinan kedua
Ia menganggapnya Qur’an tetapi tidak memasukkannya dalam personal codex karena fungsi liturgis.
Kemungkinan ketiga
Tradisi tentang ketiadaan al-Fātiḥa merupakan rekonstruksi kemudian atas sebuah manuskrip yang tidak dipahami secara tepat.
Data tidak memungkinkan kita menutup persoalan secara absolut.
18. Al-Muʿawwidhatayn
Persoalan al-Falaq dan al-Nās lebih kuat karena ada hadis Bukhārī yang secara eksplisit menghubungkannya dengan sikap Ibn Masʿūd.
Riwayat tersebut berbunyi dalam bentuk ringkas:
إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ كَذَا وَكَذَا
“Saudaramu, Ibn Masʿūd, mengatakan demikian dan demikian [tentang dua Muʿawwidhat].”
Ubayy menjawab bahwa ia bertanya kepada Nabi dan menerima konfirmasi bahwa keduanya telah diturunkan serta dibaca sebagai Qur’an. (Sunnah)
Ini merupakan bukti penting karena:
laporan tersebut masuk dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī;
sanadnya jelas;
konflik tersebut ditempatkan di antara dua sahabat Qur’ani yang sangat berotoritas.
19. Apakah Hadis Ini Membuktikan Ibn Masʿūd Menolak Al-Falaq dan Al-Nās?
Dalam kerangka teks hadis, ya: riwayat tersebut secara eksplisit mengatribusikan kepada Ibn Masʿūd pandangan bahwa kedua surah tersebut “tidak termasuk Qur’an”.
Tetapi dalam kerangka sejarah Ibn Masʿūd, kita masih harus bertanya:
apakah pendapat tersebut konsisten sepanjang hidupnya?
apakah berkaitan dengan pemahaman liturgis?
apakah ia kemudian berubah?
apakah “qur’an” di sini berarti “bagian dari mushaf”?
atau apakah riwayat tersebut merekam perdebatan sekolah?
Tidak ada bukti yang cukup untuk menjawab semua pertanyaan itu.
20. Ada atau Tidaknya Retraksi Ibn Masʿūd
Klaim populer bahwa:
“Ibn Masʿūd kemudian secara resmi mencabut pandangannya”
perlu diperlakukan hati-hati.
Dalam penelitian modern, tidak ada bukti yang benar-benar kuat untuk membangun narasi sederhana mengenai suatu “retracted opinion” yang kemudian didokumentasikan secara jelas.
Maka lebih aman mengatakan:
tradisi mempertahankan adanya pandangan awal Ibn Masʿūd yang berbeda mengenai al-Muʿawwidhatayn; apakah ia kemudian menarik pandangan itu tidak dapat dipastikan secara historis.
21. Varian Q. 92:3: Salah Satu Bukti Terkuat
Teks kanonik:
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ
Wa-mā khalaqa al-dhakara wa-l-unthā.
“Dan demi Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan.”
Bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd:
وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ
Wa-l-dhakari wa-l-unthā.
“Demi laki-laki dan perempuan.”
Perbedaannya adalah penghilangan وَمَا خَلَقَ.
Yang sangat penting adalah bahwa varian ini bukan hanya muncul dalam karya polemis modern.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4944 memelihara laporan bahwa para pengikut Ibn Masʿūd membaca versi tersebut kepada Abū al-Dardāʾ, dan Abū al-Dardāʾ menyatakan bahwa ia sendiri mendengar Nabi membacanya dengan cara tersebut. (Sunnah)
Ini merupakan salah satu bukti paling kuat bahwa setidaknya beberapa bacaan yang dikaitkan dengan Ibn Masʿūd mempunyai transmisi yang sangat awal dalam literatur Islam.
22. Signifikansi Q. 92:3
Perbedaan ini penting karena:
melibatkan kata/frasa yang jelas;
bukan sekadar variasi ortografis;
memiliki perbedaan struktur kalimat;
dan secara teoritis dapat ditulis dalam rasm tanpa kesulitan.
Namun justru karena Abū al-Dardāʾ menyatakan Nabi membacanya demikian, kasus ini juga menunjukkan bahwa:
perbedaan bacaan awal tidak otomatis merupakan “kesalahan penyalin”.
Dalam kerangka tradisional, ia dapat merupakan bacaan yang diizinkan.
Dalam kerangka sejarah-kritis, ia membuktikan bahwa pluralitas tekstual/bacaan sudah tercatat sangat awal.
23. Q. 5:89 — متتابعات
Teks kanonik berbicara tentang puasa:
فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
Fa-ṣiyāmu thalāthati ayyām.
“maka berpuasa tiga hari.”
Bacaan Masʿūdian dilaporkan:
فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مُتَتَابِعَاتٍ
“… tiga hari berturut-turut.”
Riwayat tersebut dikenal dalam al-Ṭabarī, Abū ʿUbayd dan sumber lainnya serta berkaitan dengan tradisi Ubayy dan murid Ibn Masʿūd. (WikiIslam)
24. Signifikansi Fikih Varian متتابعات
Perbedaan ini bukan sekadar filologi.
Jika tiga hari harus:
berturut-turut
maka hukum berbeda dibandingkan jika tiga hari:
boleh dipisah.
Ramon Harvey menunjukkan bahwa varian Masʿūdian memainkan peranan nyata dalam epistemologi fikih Kufah dan mazhab Ḥanafī. Varian tersebut dapat diperlakukan sebagai bahan argumentasi hukum meskipun tidak diterima sebagai teks kanonik. (EurekaMag)
Ini adalah poin yang sangat penting:
“non-kanonik” tidak berarti “tidak pernah memiliki pengaruh”.
25. Q. 6:153 — صراط ربكم
Teks kanonik:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
Varian yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd:
وَهَٰذَا صِرَاطُ رَبِّكُمْ
“Dan ini adalah jalan Tuhan kalian.”
Tradisi Ubayy juga memiliki bacaan yang berdekatan, dengan perbedaan pada pronomina. (Answering Islam – Sam Shamoun Theology)
Perbedaannya menunjukkan bahwa tidak semua bacaan Masʿūdian dapat dijelaskan sebagai perubahan fonetik.
26. Q. 33:6 — “Dan Ia adalah Bapak Mereka”
Teks kanonik menyatakan:
وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.”
Bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd menambahkan:
وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ
“dan ia adalah bapak bagi mereka.”
Laporan semacam ini ditemukan dalam literatur varian dan tafsir. (Answering Islam – Sam Shamoun Theology)
Secara teologis, tambahan tersebut menarik karena memperkuat analogi relasional antara Nabi dan komunitas.
Namun secara textual criticism, pertanyaannya adalah:
apakah ini teks Qur’ani tambahan atau penafsiran yang kemudian masuk ke tradisi bacaan?
Jawaban tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan kesesuaian makna.
27. Q. 4:40 — ذَرَّة vs نَمْلَة
Teks kanonik:
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“seberat zarrah.”
Sebuah bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd dilaporkan sebagai:
مِثْقَالَ نَمْلَةٍ
“seberat seekor semut.”
Sumber yang merekamnya memberi attribution kepada Ibn Masʿūd. (Al-Islam.org)
Perbedaan ini jelas bersifat leksikal.
Namun secara semantik, namla dan dharra tidak persis ekuivalen.
Ini merupakan contoh yang baik bahwa:
varian sahabat dapat bersifat interpretatif sekaligus tekstual.
28. Q. 3:43 — Urutan Perintah
Bacaan kanonik:
وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
Bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd:
وَارْكَعِي وَاسْجُدِي فِي السَّاجِدِينَ
“Dan rukuklah serta bersujudlah di antara orang-orang yang bersujud.”
Sumber yang membahas tradisi varian menisbatkan bentuk tersebut kepada Ibn Masʿūd. (Al-Islam.org)
Di sini terjadi:
pertukaran urutan;
perubahan preposisi;
perubahan nominal akhir.
Ini bukan sekadar tajwīd.
29. Q. 2:197 — “Musim Haji”
Teks kanonik:
فِي الْحَجِّ
Bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd:
فِي مَوَاسِمِ الْحَجِّ
“pada musim-musim haji.”
Sumber tradisional yang dikompilasi dalam studi varian mencatat bentuk ini sebagai bacaan Ibn Masʿūd. (Al-Islam.org)
Secara semantik tambahan مواسم memperjelas konteks temporal.
Ini merupakan contoh klasik tentang masalah tafsir versus teks.
30. Q. 3:127 — يسارعون vs يسبقون
Salah satu kelompok bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd dan Ubayy mengganti:
لِيَقْطَعَ طَرَفًا
dan dalam laporan varian lainnya ditemukan variasi leksikal pada kata yang bersifat semantik.
Tradisi bacaan Kufah menunjukkan bahwa sejumlah varian semacam ini tidak harus dipahami sebagai perubahan teologis, tetapi sebagai salah satu bentuk fleksibilitas leksikal pada periode awal. Untuk rekonstruksi terperinci, Jeffery menempatkan bacaan-bacaan tersebut dalam daftar panjang varian Ibn Masʿūd, sementara penelitian kontemporer memasukkannya ke dalam sejarah bacaan pra-kanonik. (Bible.ca)
31. Q. 6:16 — يَصْرِفْ vs يَصْرِفْهُ اللَّهُ
Sumber-sumber varian mencatat bacaan yang memperluas bentuk verbal dengan unsur ilahi yang eksplisit.
Contoh semacam ini penting karena menunjukkan kecenderungan tertentu dalam tradisi bacaan:
making the implicit subject explicit.
Pertanyaan kritisnya adalah apakah tambahan tersebut berasal dari:
tradisi Qur’ani;
penjelasan makna;
atau harmonisasi sintaksis.
Penentuan statusnya tidak dapat hanya berdasarkan kesesuaian teologis.
32. Q. 17:93 — زخرف vs ذهب
Dalam tradisi yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd disebut adanya:
مِنْ زُخْرُفٍ
vs.
مِنْ ذَهَبٍ
“dari perhiasan” vs “dari emas”.
Sumber-sumber tradisional kemudian menggunakan bacaan tersebut untuk menjelaskan makna leksikal zukhruff. (Fizan Kamus)
Kasus seperti ini sangat penting untuk membedakan:
varian teks
dengan:
catatan glosarial.
Sebuah kata pengganti yang lebih jelas dapat saja muncul sebagai alat pedagogis.
33. Q. 2:275 — يوم القيامة
Salah satu varian terkenal dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd:
لَا يَقُومُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“mereka tidak dapat berdiri pada Hari Kiamat.”
Teks standar tidak memiliki frasa يَوْمَ الْقِيَامَةِ pada posisi tersebut.
Varian ini dicatat dalam Kitāb Faḍāʾil al-Qurʾān karya Abū ʿUbayd dan juga dikaitkan dengan tradisi Talḥa b. Muṣarrif yang berhubungan dengan sekolah Kufah. (WikiIslam)
34. Q. 4:40, 2:197, 3:43, 5:89, 6:153, 33:6: Pola yang Terlihat
Jika berbagai contoh dikumpulkan, terlihat bahwa varian Masʿūdian dapat mengambil bentuk:
penghilangan;
penambahan;
sinonim;
elaborasi;
perubahan urutan;
perubahan konstruksi sintaksis;
dan perubahan leksikal.
Karena itu, klaim:
“semua bacaan Ibn Masʿūd hanyalah perbedaan dialek”
tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan data.
Sebaliknya, klaim:
“setiap tambahan menunjukkan bahwa Ibn Masʿūd mempunyai Qur’an berbeda”
juga terlalu sederhana.
35. Berapa Banyak Varian Ibn Masʿūd?
Tidak ada satu angka yang aman tanpa mendefinisikan terlebih dahulu apa yang dihitung.
Arthur Jeffery menyusun daftar panjang varian yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd, tetapi daftar tersebut secara eksplisit mencampur:
bacaan;
data dari codex;
bacaan murid;
dan lokasi di mana Ibn Masʿūd justru mendukung teks yang kemudian menjadi standar. (Bible.ca)
Karena itu angka seperti:
“ratusan varian”
harus selalu disertai definisi metodologis.
36. Mengapa Jeffery Harus Dibaca Secara Kritis?
Arthur Jeffery merupakan pionir penting, tetapi karyanya bukan edisi kritis modern dalam arti sepenuhnya netral.
Kekuatan:
mengumpulkan data yang sangat banyak;
menampilkan sumber Arab;
menghubungkan bacaan antar-corpus;
membuat material yang sebelumnya tersebar menjadi satu corpus.
Keterbatasan:
beberapa sumber memiliki jarak kronologis jauh dari Ibn Masʿūd;
attribution tidak selalu sama kuat;
tidak semua bacaan pasti berasal dari codex fisik;
beberapa tradisi mungkin merupakan perkembangan tafsir.
Dengan demikian:
Jeffery lebih tepat dipakai sebagai kumpulan data, lalu data tersebut harus dikritik kembali.
37. Status Sumber Ibn Abī Dāwūd
Salah satu sumber utama adalah:
Abū Bakr ʿAbdullāh b. Sulaymān Ibn Abī Dāwūd, Kitāb al-Maṣāḥif, wafat 316 H/929 M.
Karya ini sangat penting karena mengumpulkan riwayat tentang:
mushaf sahabat;
kodifikasi;
perbedaan tulisan;
bacaan;
dan berbagai tradisi corpus awal. (DergiPark)
Namun buku ini tidak ditulis pada masa Ibn Masʿūd.
Karena itu:
Ibn Abī Dāwūd adalah saksi historiografi atas tradisi lebih awal, bukan saksi mata terhadap muṣḥaf Ibn Masʿūd pada abad pertama Hijriah.
38. Masalah Jarak Kronologis
Ibn Masʿūd wafat sekitar 32/33 H.
Ibn Abī Dāwūd hidup sampai 316 H.
Jaraknya sekitar tiga abad.
Hal ini tidak otomatis membuat laporan tidak benar.
Tradisi Islam memiliki mekanisme isnād.
Tetapi sejarah-kritis harus bertanya:
apakah sanad tersebut stabil?
apakah ada penguatan dari jalur berbeda?
apakah varian ditemukan pada sumber yang lebih tua?
apakah varian cocok dengan tradisi qirāʾāt Kufah?
apakah terdapat paralel dalam manuskrip awal?
Semakin banyak konfirmasi independen, semakin kuat atribusinya.
39. Bacaan Ibn Masʿūd dalam Literatur Tafsir
Bacaan Masʿūdian bertahan dalam:
Tafsir al-Ṭabarī;
karya Abū ʿUbayd;
tafsir kebahasaan;
qirāʾāt;
dan fikih.
Karena itu, sejumlah varian memiliki multiple attestation.
Misalnya varian متتابعات pada Q. 5:89 muncul dalam lebih dari satu tradisi, bukan hanya satu laporan tunggal. (WikiIslam)
Ini membuat varian tersebut secara historis lebih menarik daripada varian yang muncul sekali dalam sumber sangat terlambat.
40. Ibn Masʿūd dan Qirāʾāt Kufah
Sebuah penelitian modern membandingkan bacaan Ibn Masʿūd dengan tujuh qirāʾāt kanonik pada 108 item dan 112 fitur bersama. Studi tersebut menyimpulkan bahwa bacaan Ḥamzah dan al-Kisāʾī merupakan dua tradisi yang paling dekat dengan bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd dalam dataset tersebut. (Brill)
Temuan ini sangat penting.
Ia memperlihatkan bahwa:
sebagian warisan Masʿūdian tampaknya tidak hilang seluruhnya setelah kanonisasi, melainkan diserap atau dipertahankan dalam tradisi qirāʾāt Kufah.
Ini merupakan model yang lebih kompleks daripada:
“ʿUtsmān membakar seluruh tradisi Ibn Masʿūd sehingga tidak tersisa apa pun.”
41. Apakah Ḥamzah dan al-Kisāʾī “mewarisi Mushaf Ibn Masʿūd”?
Tidak boleh dinyatakan sesederhana itu.
Yang dapat dikatakan:
sebagian bacaan yang dikaitkan dengan Ibn Masʿūd memiliki kemiripan dengan bacaan yang kemudian menjadi kanonik dalam tradisi Kufah.
Tetapi kemiripan tidak membuktikan garis transmisi langsung.
Ada kemungkinan:
transmisi oral;
tradisi regional bersama;
pemilihan bacaan berdasarkan rasm;
atau konservatisme linguistik.
42. Konsep “Pre-ʿUthmānic” dan “Post-ʿUthmānic” Ibn Masʿūd
Kajian modern terhadap bacaan Ibn Masʿūd membedakan bacaan yang mungkin lebih tua dan bacaan yang sudah disesuaikan dengan rasm ʿUtsmānī.
Salah satu penelitian modern secara eksplisit membedakan:
pre-ʿUthmān readings
dan:
post-ʿUthmān readings,
yakni bacaan yang kemudian disesuaikan dengan kerangka rasm standar. (Brill)
Ini sangat penting.
Artinya, label:
“qirāʾa Ibn Masʿūd”
tidak otomatis menunjukkan bahwa bacaan tersebut berasal dari fase sebelum kodifikasi.
43. Problem Circularity
Ada bahaya circular reasoning:
suatu bacaan ditemukan dalam tradisi kemudian;
kemudian dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd;
karena Ibn Masʿūd dianggap sahabat terkemuka, bacaan dianggap awal;
karena dianggap awal, bacaan dianggap bukti muṣḥaf Ibn Masʿūd;
lalu digunakan untuk membuktikan bahwa muṣḥaf Ibn Masʿūd berbeda.
Ini adalah lingkaran argumen.
Karena itu, attribution harus diuji secara independen.
44. Kriteria Keaslian Varian Ibn Masʿūd
Varian akan semakin kuat jika memenuhi beberapa unsur:
A. Multiple attestation
Ditemukan dalam lebih dari satu sumber independen.
B. Early attestation
Muncul dalam sumber lebih awal.
C. Kufan continuity
Mempunyai kesinambungan di sekolah Kufah.
D. Manuscript parallel
Muncul dalam manuskrip awal non-ʿUtsmānī.
E. Linguistic plausibility
Sesuai dengan bahasa Arab periode awal.
F. Non-polemical occurrence
Tidak hanya muncul dalam sumber anti-sekte atau polemis.
Ini adalah kerangka yang lebih ilmiah dibanding hanya bertanya:
“Apakah sanadnya sahih menurut ilmu hadis?”
Karena textual criticism dan hadith criticism tidak identik.
45. Nilai Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4944
Hadis Q. 92:3 sangat penting karena memenuhi beberapa kriteria sekaligus:
sumber awal relatif;
sanad hadis;
bukan polemik modern;
terjadi dalam konteks transmisi bacaan;
menyebut langsung komunitas Ibn Masʿūd;
melibatkan Abū al-Dardāʾ;
dan memiliki redaksi Arab yang eksplisit. (Sunnah)
Karena itu kasus ini harus menjadi salah satu primary case study dalam penelitian muṣḥaf Ibn Masʿūd.
46. Apakah Q. 92:3 Menjadi Qirāʾāt Kanonik?
Bacaan:
وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ
tidak menjadi bentuk dominan dalam mushaf cetak modern.
Hal ini menarik karena sebuah bacaan dapat:
memiliki sanad/otoritas awal;
memiliki saksi sahabat;
tetap hidup dalam literatur;
tetapi akhirnya tidak menjadi bentuk kanonik.
Ini menunjukkan bahwa:
kanonisitas ≠ usia tertua.
47. Kanonisitas sebagai Proses Seleksi
Shady Nasser berargumen bahwa kanonisasi Al-Qur’an berlangsung melalui beberapa tahap dan bahwa standardisasi ʿUtsmān merupakan fase pertama dari proses lebih panjang. Fase lain termasuk pembentukan kanon bacaan melalui Ibn Mujāhid pada abad ke-4 H/10 M. (Harvard Scholar)
Dengan model ini:
bacaan Ibn Masʿūd tidak harus “salah” untuk akhirnya menjadi non-kanonik.
Ia dapat menjadi:
bacaan historis yang tersisih dari kanon resmi.
48. Muṣḥaf Ibn Masʿūd dan Hukum Islam
Salah satu kontribusi paling penting dari tradisi Masʿūdian terjadi dalam fikih.
Ramon Harvey menunjukkan bahwa bacaan Ibn Masʿūd memiliki peran dalam:
fikih Kufah;
Ibrāhīm al-Nakhaʿī;
tradisi awal Ḥanafī;
Muḥammad al-Shaybānī;
al-Jaṣṣāṣ;
al-Qudūrī;
dan al-Sarakhsī. (EurekaMag)
Maka status non-kanonik tidak membuat bacaan tersebut kehilangan semua nilai epistemik.
49. Contoh: Puasa Berturut-turut
Varian:
مُتَتَابِعَاتٍ
digunakan dalam diskusi hukum untuk menyimpulkan bahwa puasa tiga hari harus berturut-turut.
Hal ini menunjukkan kategori menarik:
bacaan non-kanonik → tafsir → legal reasoning.
Dengan demikian, teks yang tidak diterima sebagai bagian dari muṣḥaf kanonik masih dapat mempunyai kehidupan intelektual.
50. Apakah Ini Berarti Mazhab Ḥanafī Memakai “Qur’an Lain”?
Tidak.
Secara usul fiqh, bahan tersebut dapat digunakan sebagai:
qirāʾa;
khabar;
tafsir sahabat;
dalil hukum;
atau āthār.
Itu berbeda dari mengatakan:
“ayat tambahan tersebut menjadi bagian dari Qur’an kanonik.”
Harvey menunjukkan justru problem epistemologis ini menjadi salah satu objek penting diskusi fikih. (EurekaMag)
51. Muṣḥaf Ibn Masʿūd sebagai “Tafsir Corpus”
Salah satu hipotesis yang patut dipertimbangkan adalah bahwa personal codex sahabat tidak selalu merupakan “teks bersih”.
Ia mungkin berisi:
teks Qur’an;
tafsir singkat;
sinonim;
penjelasan hukum;
penanda bacaan.
Hipotesis semacam ini dapat menjelaskan sebagian varian seperti:
مُتَتَابِعَاتٍ
tanpa harus menganggap bahwa Ibn Masʿūd sengaja menambahkan wahyu baru.
Tetapi hipotesis tersebut juga memiliki kelemahan:
Jika seluruh varian dapat begitu saja dianggap “glosa”, maka kita tidak lagi mempunyai kriteria untuk membedakan:
bacaan tekstual asli
dari
tafsir tertulis.
Jadi hipotesis ini tidak boleh menjadi solusi universal.
52. Masalah “Personal Codex”
Dalam masyarakat lisan, sebuah kitab pribadi dapat berfungsi berbeda dari kitab resmi.
Seorang guru dapat menulis:
ayat + terjemah + sinonim + hukum.
Karena itu, textual criticism terhadap personal codices harus selalu memperhitungkan genre manuscript.
Sayangnya, kita tidak memiliki muṣḥaf fisik Ibn Masʿūd untuk menentukan apakah ia:
menulis ayat utama dengan tinta tertentu;
memberi catatan marginal;
atau mencampur teks dan tafsir dalam satu corpus.
53. Mengapa Muṣḥaf Ibn Masʿūd Hilang?
Ada beberapa kemungkinan:
dimusnahkan setelah standardisasi ʿUtsmān;
diserap ke dalam tradisi Qur’an standar;
disalin ulang dengan rasm ʿUtsmānī;
hilang secara alamiah;
fragmennya mungkin telah menjadi bagian dari manuskrip yang tidak kita kenali.
Kita tidak memiliki bukti material yang cukup untuk menentukan salah satunya secara pasti.
54. Apakah Codex Sekunder Ibn Masʿūd Ada?
Jeffery mencatat tradisi mengenai beberapa codices yang mengikuti Ibn Masʿūd, termasuk tradisi Kufah. (Bible.ca)
Hal ini sangat penting karena menunjukkan bahwa “muṣḥaf Ibn Masʿūd” mungkin lebih tepat dipahami sebagai:
tradisi tekstual
daripada satu manuskrip tunggal.
Dalam sejarah teks, konsep ini mirip dengan:
family of witnesses
meskipun penerapannya pada Qur’an memerlukan kehati-hatian.
55. Bukti Codex Parisino-Petropolitanus
François Déroche mencatat sejumlah pembacaan dalam Codex Parisino-Petropolitanus yang secara tradisi pernah dihubungkan dengan Ibn Masʿūd, termasuk beberapa lokasi yang kemudian dikoreksi. Ia membahas persoalan tersebut dalam The One and the Many, terutama dalam bab tentang manuskrip. (De Gruyter Brill)
Namun penting:
kita tidak boleh menyebut Codex Parisino-Petropolitanus sebagai “muṣḥaf Ibn Masʿūd”.
Lebih aman mengatakan:
terdapat beberapa pembacaan dalam manuskrip awal yang memiliki paralel dalam tradisi bacaan yang dikaitkan dengan Ibn Masʿūd.
Itu pernyataan yang jauh lebih kuat secara metodologis.
56. Ṣanʿāʾ dan Tradisi Masʿūdian
Ṣanʿāʾ lower text juga menjadi penting karena memperlihatkan beberapa varian non-ʿUtsmānī yang sejalan dengan pola keberagaman Qur’ani awal.
Namun:
Ṣanʿāʾ bukan bukti langsung keberadaan muṣḥaf Ibn Masʿūd.
Ia hanya menunjukkan bahwa model:
“teks Qur’an awal selalu persis sama dengan teks ʿUtsmānī”
sulit dipertahankan.
Untuk hubungan spesifik dengan Ibn Masʿūd, bukti harus lebih hati-hati. Penelitian manuskrip harus membedakan:
kesamaan varian;
attribution historis;
dan identitas codex.
57. Apakah Ibn Masʿūd Menganggap Zayd Lebih Rendah?
Tradisi tentang konflik dengan Zayd harus diperlakukan sebagai laporan historis dengan kemungkinan unsur polemis.
Cerita tersebut menggambarkan Ibn Masʿūd sebagai figur yang keberatan jika corpusnya yang lebih tua dalam pengalaman personal digantikan oleh recensi yang dipimpin Zayd.
Tetapi hal ini tidak otomatis berarti bahwa Ibn Masʿūd menganggap Zayd tidak mengetahui Qur’an.
Konflik dapat lebih mudah dipahami sebagai:
konflik senioritas, otoritas, pengalaman transmisi, dan kebijakan standardisasi.
58. Hadis Utsmān tentang Pengumpulan Mushaf
Dalam tradisi Sunni, standardisasi ʿUtsmān dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap perbedaan bacaan.
Dalam konteks ini, keberadaan corpus personal seperti Ibn Masʿūd menjadi masuk akal secara historis.
Standardisasi diperlukan justru karena:
ada lebih dari satu bentuk materi Qur’ani yang beredar.
Ini tidak membuktikan seluruh corpus tersebut bertentangan pada level substansial.
59. Apa yang Sebenarnya “Distandardisasi”?
Tidak tepat mengatakan bahwa ʿUtsmān “menciptakan isi Qur’an”.
Namun juga terlalu sederhana mengatakan:
“tidak ada yang berubah.”
Yang tampaknya distandardisasi meliputi:
corpus ayat;
ejaan;
urutan tertentu;
dan legitimasi satu kerangka tulisan.
Sementara bacaan oral tetap berkembang.
Karena itu:
standardisasi teks dan standardisasi bacaan adalah dua proses berbeda.
60. Mengapa Bacaan Ibn Masʿūd Bisa Bertahan?
Ada setidaknya empat mekanisme.
1. Hafalan
Bacaan dapat ditransmisikan tanpa manuskrip.
2. Tafsir
Varian dicatat ketika menjelaskan suatu ayat.
3. Fikih
Varian digunakan sebagai dasar argumentasi hukum.
4. Qirāʾāt
Sebagian bentuk kemudian diserap ke dalam tradisi bacaan.
Inilah sebabnya mengapa menghancurkan manuskrip tidak otomatis menghapus oral memory.
61. “Musḥaf Ibn Masʿūd” dan “Qirāʾat Ibn Masʿūd”
Terminologi harus konsisten.
Muṣḥaf Ibn Masʿūd
Merujuk kepada corpus tertulis yang dinisbatkan kepadanya.
Qirāʾat Ibn Masʿūd
Merujuk kepada bacaan yang dinisbatkan kepadanya.
Aṣḥāb Ibn Masʿūd
Merujuk kepada murid atau tradisi sekolahnya.
Ketiganya tidak boleh disamakan.
Sebuah bacaan dapat bertahan meskipun belum tentu lagi tertulis dalam salinan mushaf.
62. Apakah Semua Bacaan Ibn Masʿūd Berbeda dari ʿUtsmān?
Tidak.
Jeffery secara eksplisit memasukkan juga lokasi ketika tradisi mencatat Ibn Masʿūd mendukung teks yang kemudian diterima sebagai standar. (Bible.ca)
Ini sangat penting.
Jika semua data Masʿūdian berbeda, kita mungkin mencurigai adanya konstruksi polemis.
Tetapi kenyataannya tidak demikian.
Sebagian bacaan:
berbeda,
sebagian:
sama.
Ini lebih cocok dengan gambaran tradisi bacaan yang kompleks.
63. Apakah Semua Varian Masʿūdian Berasal dari Nabi?
Tidak dapat dibuktikan.
Ada setidaknya empat kemungkinan asal:
A. Bacaan Nabi
B. Bacaan sahabat yang diizinkan dalam tradisi awal
C. Interpretasi Ibn Masʿūd
D. Penjelasan murid yang kemudian dinisbatkan kepadanya
Historical criticism harus mempertahankan kemungkinan keempatnya sampai bukti lebih kuat.
64. The “Companion Authority Problem”
Ibn Masʿūd memiliki otoritas tinggi.
Namun otoritas seseorang tidak otomatis menjadikan setiap ucapan atau catatan pribadinya:
wahyu.
Ini merupakan prinsip penting dalam ilmu sejarah.
Seorang sahabat dapat:
salah mengingat;
menjelaskan;
memilih sinonim;
membaca varian;
atau membuat catatan pribadi.
Maka:
status sahabat ≠ status wahyu.
Namun sebaliknya:
atribusi kepada sahabat yang kuat juga tidak boleh ditolak tanpa analisis.
65. Apakah Variasi Masʿūdian Mengubah Makna?
Ya, pada sejumlah kasus.
Contoh:
Q. 92:3
وَمَا خَلَقَ
vs
tanpa frasa tersebut.
Q. 5:89
ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
vs
ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مُتَتَابِعَاتٍ
Q. 6:153
صِرَاطِي
vs
صِرَاطُ رَبِّكُمْ
Q. 33:6
penambahan:
وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ
Karena itu:
klaim bahwa seluruh bacaan Masʿūdian hanya mengubah “cara pengucapan” tidak dapat dipertahankan.
66. Apakah Variasi Itu Mengubah Agama Islam?
Tidak.
Walaupun beberapa perubahan berimplikasi terhadap tafsir atau fikih, corpus keseluruhannya tetap sangat berdekatan dengan struktur Qur’an kanonik.
Ini adalah poin penting:
varian substantif ≠ kitab yang berbeda secara total.
Dalam sejarah teks, satu manuskrip dapat memiliki puluhan atau ratusan varian tanpa menjadi “kitab lain” dalam pengertian genre dan identitas.
67. Posisi Muslim Tradisional
Tradisi Sunni memiliki beberapa mekanisme untuk menjelaskan muṣḥaf Ibn Masʿūd.
Pertama:
mushaf pribadi tidak otomatis menjadi otoritas publik.
Kedua:
sebagian tambahan dapat dianggap tafsir.
Ketiga:
sebagian bacaan non-kanonik dapat tetap memiliki nilai sebagai qirāʾa shādhdha atau athar.
Keempat:
konsensus umat kemudian menjadi standar.
Pendekatan ini secara internal cukup koheren.
Namun dari sudut sejarah-kritis, kelemahannya adalah:
beberapa penjelasan apologetik muncul jauh setelah peristiwa dan mungkin merupakan upaya harmonisasi.
68. Posisi Revisionis/Polemis
Sebaliknya, penulis polemis sering menekankan:
tiga surah tidak ada;
ratusan varian;
Ibn Masʿūd lebih senior;
Utsmān membakar mushaf;
dan sebagainya.
Kekuatan pendekatan ini:
ia memaksa peneliti untuk tidak mengabaikan bukti yang tidak nyaman.
Kelemahannya:
ia cenderung memperlakukan semua varian sebagai bukti dengan bobot sama.
Padahal:
hadis Bukhari;
laporan tafsir;
catatan murid;
attribution qirāʾa;
dan laporan polemis
tidak mempunyai status epistemik yang sama.
69. Model Ketiga: Historical Reconstruction
Model yang lebih netral adalah sebagai berikut:
Fase I
Ibn Masʿūd memperoleh dan mengajarkan Qur’an secara oral.
Fase II
Materi tersebut dihimpun dalam corpus pribadi.
Fase III
Corpus berkembang di Kufah.
Fase IV
Terjadi standardisasi ʿUtsmān.
Fase V
Sebagian corpus Masʿūdian berhenti menjadi teks publik.
Fase VI
Sebagian bacaan tetap hidup dalam sekolah Kufah.
Fase VII
Sebagian bacaan diintegrasikan ke dalam qirāʾāt kanonik.
Fase VIII
Sebagian lainnya bertahan hanya sebagai shādh, tafsir, atau data fikih.
Model ini menjelaskan lebih banyak data dengan asumsi lebih sedikit.
70. Mengapa Tradisi Masʿūdian Tidak Hilang Total?
Karena standardisasi tulisan bukanlah penghapusan memori.
Jika guru seperti Ibn Masʿūd telah mengajar ribuan orang dalam jaringan regional, satu edict administratif tidak otomatis menghapus semua bacaan.
Itulah mengapa tradisi Kufah tetap menampilkan jejak Masʿūdian.
Penelitian modern mengenai Ḥamzah dan al-Kisāʾī mendukung gagasan bahwa sejumlah ciri Masʿūdian bertahan dalam tradisi bacaan kanonik. (Brill)
71. Apakah Ini Berarti Kanon ʿUtsmān Gagal?
Tidak.
Justru bukti menunjukkan standardisasi berhasil dalam arti:
teks ʿUtsmānī menjadi tipe teks yang dominan.
François Déroche menekankan bahwa sejarah awal Qur’an memang memiliki pluralitas, tetapi proses kanonisasi menghasilkan sebuah bentuk dominan dan kemudian bentuk tersebut menjadi semakin stabil. (JSTOR)
Dengan kata lain:
kanonisasi berhasil tanpa harus menghapus seluruh memori alternatif.
72. Apakah Muṣḥaf Ibn Masʿūd Adalah “Ur-Qur’an”?
Tidak dapat dibuktikan.
Karena kita tidak memiliki manuskripnya, kita tidak dapat menyatakan:
“Muṣḥaf Ibn Masʿūd adalah bentuk Qur’an asli.”
Namun juga tidak dapat dinyatakan:
“Muṣḥaf Ibn Masʿūd pasti hanya catatan tafsir.”
Data terlalu kompleks untuk kedua ekstrem tersebut.
73. Bukti Terkuat untuk Eksistensi Tradisinya
Bukti paling kuat dapat dikelompokkan:
Lapisan 1 — otoritas Ibn Masʿūd
Hadis Bukhārī mengenai empat guru Qur’an dan lebih dari tujuh puluh surah. (Sunnah)
Lapisan 2 — bacaan berbeda yang sangat awal
Q. 92:3. (Sunnah)
Lapisan 3 — laporan muṣḥaf
Ibn Abī Dāwūd, Ibn al-Nadīm, al-Suyūṭī dan lainnya.
Lapisan 4 — kesinambungan Kufah
Ibrāhīm al-Nakhaʿī dan tradisi fikih Kufah.
Lapisan 5 — paralel qirāʾāt
Ḥamzah dan al-Kisāʾī menunjukkan kedekatan dengan tradisi Masʿūdian menurut penelitian modern. (Brill)
74. Bukti yang Paling Lemah
Sebaliknya, bukti yang harus diperlakukan paling hati-hati ialah:
daftar lengkap jumlah surah yang hanya diketahui dari satu transmisi terlambat;
attribution yang muncul pertama kali dalam sumber jauh lebih kemudian;
bacaan yang hanya dilaporkan oleh satu penulis;
varian yang sangat cocok dengan polemik sektarian;
klaim bahwa semua bacaan berasal langsung dari Nabi.
75. Apakah Tradisi Syiah Mempengaruhi Riwayat Masʿūdian?
Sebagian tradisi kemudian menggunakan nama Ibn Masʿūd dalam polemik terhadap kanon Sunni.
Jeffery sendiri memperingatkan bahwa tidak semua bacaan Masʿūdian yang ditemukan dalam literatur Syiah atau Sunni dapat diterima otomatis sebagai autentik. (Bible.ca)
Ini merupakan peringatan metodologis yang sangat penting.
Attribution kepada seorang sahabat dapat digunakan oleh berbagai komunitas untuk memberikan legitimasi historis kepada bacaan mereka.
Karena itu:
nama Ibn Masʿūd sendiri tidak cukup untuk menjamin keaslian varian.
76. Mengapa Nama Ibn Masʿūd Menjadi Strategis?
Karena ia merupakan:
sahabat awal;
murid Nabi;
ahli Qur’an;
tokoh Kufah;
dan salah satu guru Qur’an yang sangat terkenal.
Jika seseorang ingin memberikan otoritas tinggi pada sebuah varian, Ibn Masʿūd merupakan attribution yang sangat efektif.
Hal ini tidak berarti seluruh attribution palsu.
Namun secara kritik sejarah:
semakin “otoritatif” nama yang dipakai, semakin penting pemeriksaan independen terhadap transmisinya.
77. Perbandingan dengan Ubayy b. Kaʿb
Masalah Ibn Masʿūd menjadi semakin penting ketika dibandingkan dengan Ubayy.
Tradisi Ubayy juga menunjukkan:
bacaan berbeda;
susunan berbeda;
dan laporan tentang corpus tambahan seperti al-Khalʿ dan al-Ḥafd.
Sean W. Anthony menunjukkan dalam penelitian mengenai dua surah Ubayy bahwa tradisi mengenai corpus non-ʿUtsmānī memiliki transmisi yang cukup kompleks dan bahwa keberadaan suatu teks dalam corpus sahabat tidak otomatis mengakhiri persoalan kanonisitas. (Almuslih)
Artinya:
Ibn Masʿūd bukan anomali tunggal.
Ia adalah salah satu bagian dari pluralitas corpus Qur’ani awal.
78. Implikasi terhadap Teori “Satu Mushaf Sejak Hari Pertama”
Tradisi Ibn Masʿūd menjadi sulit dipadukan dengan model sederhana:
“Sejak wafat Nabi setiap sahabat mempunyai mushaf identik.”
Bukti tradisional tidak mendukung klaim sesederhana itu.
Lebih masuk akal:
para sahabat memiliki pengetahuan Qur’ani yang sebagian besar sangat overlap, tetapi dapat berbeda dalam bacaan, susunan, pencatatan pribadi, dan materi penjelas.
79. Namun Apakah Ini Membuktikan Kekacauan Total?
Juga tidak.
Justru fakta bahwa kita dapat mengenali:
sebagian besar isi;
sebagian besar urutan besar;
hubungan ayat;
bacaan bersama;
dan kesamaan corpus
menunjukkan adanya tingkat stabilitas yang tinggi.
Jika komunitas awal benar-benar memiliki “Qur’an-Qur’an” yang sama sekali berbeda, rekonstruksi yang kita temukan seharusnya jauh lebih terfragmentasi.
80. Muṣḥaf Ibn Masʿūd dalam Perspektif Manuskrip
Masalah utama adalah:
absence of direct manuscript evidence.
Tidak seperti Ṣanʿāʾ, kita tidak dapat:
mengukur umur parchment;
melakukan paleografi;
membaca koreksi;
menganalisis tinta;
menentukan jumlah folio;
atau melihat bentuk rasm.
Karena itu tingkat kepastian kita berbeda.
81. Bukti Literer vs Bukti Material
Bukti literer
Kelebihan:
dapat memberikan banyak varian;
dapat memberikan nama perawi;
dapat memberi konteks sosial.
Kelemahan:
ditransmisikan melalui manusia;
dapat mengalami harmonisasi;
attribution dapat berubah.
Bukti material
Kelebihan:
langsung;
dapat diuji secara paleografis;
dapat diberi radiocarbon;
dapat dilihat koreksinya.
Kelemahan:
sangat sedikit;
sering fragmentaris;
attribution kepada tokoh tertentu sulit.
Dalam studi Ibn Masʿūd, kita terutama bergantung pada jenis pertama.
82. Apakah Tidak Adanya Manuskrip Menghilangkan Nilai Historis?
Tidak.
Ketiadaan manuskrip tidak sama dengan ketiadaan tradisi.
Contoh:
banyak teks klasik diketahui hanya melalui kutipan;
banyak corpus kuno hanya diketahui dari manuskrip yang lebih muda;
banyak karya awal hilang tetapi memiliki jejak kuat dalam penulis kemudian.
Namun tentu saja:
nilai epistemiknya lebih rendah daripada manuskrip langsung.
83. Apakah Varian Masʿūdian Berhubungan dengan Ṣanʿāʾ?
Ada sejumlah kesamaan pola yang menarik, tetapi hubungan langsung belum dapat dibuktikan.
Metodologi yang tepat adalah:
identifikasi varian Ibn Masʿūd;
identifikasi varian Ṣanʿāʾ;
periksa kesamaan;
periksa apakah varian tersebut juga muncul dalam bacaan lain;
tentukan apakah kesamaan lebih mungkin berasal dari tradisi bersama atau kebetulan.
Tidak boleh dilakukan lompatan:
“Ṣanʿāʾ memiliki varian X → berarti Ṣanʿāʾ adalah mushaf Ibn Masʿūd.”
84. Signifikansi Kritik Déroche
François Déroche menekankan bahwa pada periode awal terdapat keberagaman yang kemudian dipersempit oleh proses kanonisasi. Buku The One and the Many secara khusus menggabungkan sumber literer dengan manuskrip untuk menggambarkan perjalanan dari pluralitas menuju teks kanonik. (JSTOR)
Dalam kerangka ini, muṣḥaf Ibn Masʿūd dapat ditempatkan sebagai:
salah satu saksi pluralitas awal
bukan:
“kitab palsu”
dan bukan:
“satu-satunya Qur’an asli.”
85. Signifikansi Penelitian Shady Nasser
Nasser menekankan bahwa kanonisasi terjadi dalam beberapa tahap dan melibatkan interaksi antara:
komunitas;
otoritas politik;
ulama;
dan sistem bacaan.
Dalam artikel tentang canonizations, ia menggambarkan standardisasi ʿUtsmān sebagai salah satu fase dan Ibn Mujāhid sebagai fase kanonisasi berikutnya. (Harvard Scholar)
Konsekuensinya:
posisi Ibn Masʿūd harus ditempatkan sebelum finalisasi kanon bacaan, bukan dinilai berdasarkan standar qirāʾāt abad ke-10.
86. Mengapa Standar Kemudian Tidak Boleh Diproyeksikan ke Masa Awal?
Ini adalah anachronism.
Jika bacaan Ibn Masʿūd tidak sesuai dengan Hafṣ:
tidak otomatis berarti Ibn Masʿūd salah.
Hafṣ sendiri adalah sebuah riwāyah yang muncul dalam jaringan transmisi yang berkembang kemudian.
Pada waktu Ibn Masʿūd hidup:
sistem sepuluh qirāʾāt belum ada.
Dengan demikian, menguji Ibn Masʿūd dengan standar Hafṣ modern adalah kesalahan kronologis.
87. Apakah Ibn Masʿūd “lebih asli” daripada Hafṣ?
Juga tidak dapat dinyatakan.
Lebih tua tidak otomatis berarti lebih benar.
Yang dapat dikatakan:
Ibn Masʿūd berada lebih dekat secara kronologis dengan Nabi.
Namun:
suatu bacaan harus tetap diuji melalui transmisinya.
Kedekatan kronologis meningkatkan signifikansi, tetapi tidak menyelesaikan persoalan autentisitas secara otomatis.
88. Problem “Older = Better”
Dalam textual criticism:
usia adalah satu faktor, bukan seluruh faktor.
Varian yang lebih tua dapat merupakan:
kesalahan;
inovasi;
glosa;
atau tradisi asli.
Varian yang lebih muda dapat:
mempertahankan bacaan lama;
atau sebaliknya.
Karena itu diperlukan genealogical comparison.
89. Apakah Muṣḥaf Ibn Masʿūd Lebih Tua daripada Recensi ʿUtsmān?
Corpus personalnya kemungkinan sudah ada sebelum atau sekitar periode standardisasi.
Namun kita tidak memiliki tanggal pasti manuskrip.
Karena itu kalimat paling aman:
Tradisi tentang corpus Ibn Masʿūd merepresentasikan fase Qur’ani yang secara historis mendahului atau setidaknya berdekatan dengan standardisasi ʿUtsmān, tetapi tanggal pasti pembentukan manuskripnya tidak dapat ditentukan.
90. Apakah Corpus Ibn Masʿūd Berisi Surah Lengkap?
Tradisi mengindikasikan sebuah corpus yang cukup besar, tetapi jumlah pasti tidak dapat dipastikan karena:
daftar berbeda;
beberapa surah “hilang” akibat kemungkinan kesalahan transmisi;
dan laporan berbeda mengenai al-Fātiḥa serta al-Muʿawwidhatayn.
Karena itu lebih baik berbicara tentang:
“muṣḥaf Ibn Masʿūd sebagaimana direkonstruksi dari tradisi”
daripada:
“muṣḥaf Ibn Masʿūd yang telah kita ketahui secara lengkap.”
91. Apakah Muṣḥaf Ibn Masʿūd Memiliki Rasm Berbeda?
Kemungkinan ada.
Beberapa bacaan yang dinisbatkan kepadanya tidak mudah dijelaskan hanya dari rasm ʿUtsmānī.
Tetapi kita tidak memiliki manuskrip untuk membuktikannya.
Jadi:
pernyataan bahwa “rasm Ibn Masʿūd berbeda secara sistematis” masih membutuhkan pembuktian langsung.
Yang lebih aman:
sejumlah bacaan Masʿūdian berbeda pada tingkat yang lebih jauh daripada sekadar vokalisasi.
92. Varian dan Persoalan Rasm
Contoh:
وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ
vs.
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ
tidak dapat dijelaskan sebagai variasi tanda vokal.
Demikian juga:
مُتَتَابِعَاتٍ
merupakan tambahan leksikal.
Maka data ini penting untuk sejarah textual pluralism.
93. Apakah Variasi Itu Bisa Dijelaskan oleh “Tujuh Aḥruf”?
Bisa menjadi salah satu model teologis.
Dalam tradisi Islam, variasi bacaan tertentu diterangkan melalui aḥruf.
Namun secara sejarah-kritis, problemnya ialah:
konsep aḥruf sendiri tidak dapat dipetakan secara pasti ke seluruh varian Masʿūdian.
Karena itu:
“semua varian Ibn Masʿūd = salah satu dari tujuh aḥruf”
tidak dapat dibuktikan.
94. Apakah Varian Masʿūdian adalah Qirāʾāt Shādhdha?
Banyak di antaranya kemudian dikategorikan demikian.
Tetapi istilah:
shādhdh
merupakan kategori kanonik yang berkembang kemudian.
Secara historis, bacaan tertentu mungkin pada awalnya belum dianggap “shādhdh”.
Ia baru menjadi:
non-canonical
ketika sistem kanonisasi berkembang.
Ini adalah perbedaan waktu yang sangat penting.
95. Ibn Masʿūd dan “Second Canonization”
Ketika tujuh bacaan Ibn Mujāhid diseleksi, tradisi yang dikaitkan dengan Ibn Masʿūd tidak otomatis hilang.
Sebagian cirinya masuk dalam qirāʾāt Kufah.
Sebagian ditolak.
Sebagian berubah menjadi:
tafsir;
fikih;
atau qirāʾa shādhdha.
Dengan demikian:
second canonization mengubah status bacaan, bukan selalu menghapus keberadaan sejarahnya.
96. Kesimpulan tentang Al-Fātiḥa
Bukti terbaik tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa Ibn Masʿūd:
“menyangkal Al-Fātiḥa sebagai wahyu.”
Yang lebih aman:
terdapat tradisi kuat bahwa al-Fātiḥa tidak tercantum dalam suatu bentuk muṣḥaf Ibn Masʿūd, tetapi terdapat penjelasan berbeda mengenai mengapa ia tidak ditulis.
Karena itu:
omission ≠ denial
meskipun dalam kasus al-Muʿawwidhatayn terdapat laporan yang lebih eksplisit mengenai penolakan status Qur’ani.
97. Kesimpulan tentang Al-Muʿawwidhatayn
Di sini bukti lebih tajam.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī memelihara laporan bahwa Ibn Masʿūd dikenal memiliki pandangan berbeda tentang dua surah tersebut, sedangkan Ubayy menegaskan bahwa Nabi mengajarkannya sebagai wahyu. (Sunnah)
Jadi secara historiografi:
setidaknya satu tradisi Muslim awal mengakui adanya perbedaan nyata di antara otoritas sahabat mengenai status tekstual dua surah tersebut.
Ini merupakan data yang tidak boleh disembunyikan.
Namun data ini juga tidak membuktikan bahwa mayoritas komunitas Muslim mengikuti Ibn Masʿūd.
98. Apakah Ini Kontradiksi Fatal?
Bergantung pada standar yang digunakan.
Dalam teologi Sunni kemudian
Tidak fatal karena konsensus final dianggap mengatasi pandangan individu.
Dalam sejarah teks
Ini adalah bukti penting bahwa batas corpus Qur’ani belum dipahami dengan cara sepenuhnya identik oleh semua saksi awal.
Dalam apologetika “tidak pernah ada perbedaan”
Ini merupakan tantangan nyata.
Dalam polemik “Al-Qur’an dibuat kemudian”
Data masih belum cukup untuk kesimpulan tersebut.
99. Kesimpulan tentang Varian Leksikal
Varian seperti:
يوم القيامة;
متتابعات;
نملة;
مواسم الحج;
وهو أب لهم
menunjukkan bahwa tradisi Masʿūdian memiliki variasi yang dapat bersifat lebih dari fonetik.
Namun tidak semua varian tersebut mempunyai tingkat autentisitas yang sama.
100. Kesimpulan tentang Tradisi Kufah
Tradisi Kufah adalah kunci memahami kelangsungan corpus Ibn Masʿūd.
Ibn Masʿūd tidak hanya meninggalkan:
“sebuah buku.”
Ia meninggalkan:
sebuah sekolah pembacaan.
Sekolah itu kemudian berinteraksi dengan:
al-Aʿmash;
Ḥamzah;
al-Kisāʾī;
dan tradisi qirāʾāt Kufah.
Dengan demikian, pengaruh Ibn Masʿūd mungkin lebih besar dalam oral transmission daripada yang dapat dibaca dari satu mushaf fisik.
101. Penilaian Historis Akhir
Berdasarkan bukti yang tersedia, proposisi berikut dapat dinilai:
Proposisi 1
Ibn Masʿūd adalah otoritas Qur’ani utama.
Sangat kuat.
Didukung hadis Sunni yang awal dan terkenal. (Sunnah)
Proposisi 2
Ibn Masʿūd mempunyai sebuah corpus/muṣḥaf pribadi.
Kuat.
Didukung berbagai tradisi literer, walaupun manuskrip fisiknya hilang. (Bible.ca)
Proposisi 3
Corpus tersebut berbeda dari tradisi ʿUtsmānī.
Kuat.
Didukung susunan surah dan banyak bacaan.
Proposisi 4
Semua laporan mengenai corpus tersebut autentik.
Lemah.
Sumber-sumber berbeda dan beberapa attribution berasal terlambat.
Proposisi 5
Al-Fātiḥa tidak tercantum dalam suatu bentuk muṣḥaf Ibn Masʿūd.
Cukup kuat sebagai tradisi historis, tetapi interpretasinya diperdebatkan. (DOI)
Proposisi 6
Ibn Masʿūd menolak al-Falaq dan al-Nās sebagai Qur’an.
Ada bukti literer kuat bahwa pandangan tersebut dinisbatkan kepadanya, terutama Bukhārī 4977. Namun implikasi dan apakah ia kemudian berubah tidak dapat dipastikan. (Sunnah)
Proposisi 7
Ibn Masʿūd memiliki ratusan atau ribuan varian yang semuanya berbeda dari Qur’an modern.
Tidak dapat dinyatakan tanpa kualifikasi.
Proposisi 8
Sebagian bacaan Masʿūdian berpengaruh terhadap fikih.
Sangat kuat. (EurekaMag)
Proposisi 9
Sebagian karakter bacaan Masʿūdian bertahan dalam qirāʾāt Kufah.
Masuk akal dan didukung studi komparatif modern, meskipun jalur transmisi individual tidak selalu dapat dibuktikan. (Brill)
Proposisi 10
Muṣḥaf Ibn Masʿūd adalah “Qur’an asli” yang digantikan oleh ʿUtsmān.
Tidak dapat dibuktikan.
Proposisi 11
Muṣḥaf Ibn Masʿūd hanya berisi catatan tafsir dan tidak memiliki perbedaan tekstual.
Juga tidak dapat dipertahankan, karena sejumlah bacaan berbeda didukung oleh laporan yang cukup awal, termasuk Q. 92:3. (Sunnah)
102. Kesimpulan Umum
Muṣḥaf Ibn Masʿūd merupakan salah satu bukti terpenting bahwa sejarah Al-Qur’an pada masa awal tidak dapat dipahami sebagai proses mekanis dari satu kitab identik menuju satu kitab identik lainnya.
Yang tampak justru adalah:
tradisi oral yang kuat + personal codices + variasi bacaan + komunitas regional + standardisasi politik + kanonisasi ulama.
Ibn Masʿūd berdiri tepat di tengah proses tersebut.
Ia bukan figur pinggiran.
Ia adalah:
salah satu otoritas Qur’ani utama generasi pertama.
Karena itu, keberadaan tradisi Masʿūdian memberikan konsekuensi penting bagi sejarah teks.
Pertama, ia menunjukkan bahwa pluralitas Qur’ani awal bukan hanya konstruksi orientalis modern. Bahkan sumber Islam klasik sendiri menyimpan memori mengenai variasi tersebut.
Kedua, ia menunjukkan bahwa otoritas sahabat tidak selalu menghasilkan corpus yang identik.
Ketiga, ia memperlihatkan bahwa standardisasi ʿUtsmān memiliki fungsi historis nyata, bukan sekadar tindakan administratif yang tidak mengubah apa pun.
Keempat, ia menunjukkan bahwa kanonisasi bersifat bertahap. Bacaan dapat hidup lebih dahulu, kemudian ditolak sebagai bacaan kanonik, tetapi terus digunakan dalam tafsir dan fikih.
Kelima, ia menunjukkan bahwa “Qur’an” pada periode awal merupakan kategori yang secara sosial dan material sedang distabilkan, bukan sebuah konsep yang seluruh aspek tekstualnya harus diasumsikan telah memiliki bentuk cetak modern.
103. Tetapi Apa yang Tidak Dapat Disimpulkan?
Dari bukti Ibn Masʿūd saja kita tidak dapat menyimpulkan:
“Al-Qur’an telah dipalsukan.”
Kita juga tidak dapat menyimpulkan:
“Al-Qur’an modern identik secara sempurna dengan setiap bentuk tertulis pada abad pertama.”
Kita tidak dapat menyimpulkan:
“Muṣḥaf Ibn Masʿūd lebih asli daripada muṣḥaf ʿUtsmān.”
Dan kita juga tidak dapat menyimpulkan:
“semua varian Ibn Masʿūd berasal langsung dari Nabi.”
Kesimpulan semacam itu melampaui bukti.
104. Tesis yang Paling Netral
Berdasarkan keseluruhan data, tesis yang paling defensible adalah:
Muṣḥaf Ibn Masʿūd merupakan sebuah tradisi Qur’ani awal yang secara historis berbeda dalam beberapa aspek dari corpus ʿUtsmānī, baik dalam susunan surah maupun sejumlah bacaan dan redaksi yang dinisbatkan kepadanya. Tradisi tersebut memiliki dasar historis yang cukup kuat untuk tidak dipandang sebagai fabrikasi modern, tetapi rekonstruksinya bersifat tidak langsung karena manuskrip asli tidak bertahan. Sebagian varian memiliki transmisi yang sangat kuat dan bahkan muncul dalam hadis kanonik, sementara sebagian lainnya hanya dikenal melalui sumber yang lebih terlambat dan harus diperlakukan secara skeptis.
Dan tesis kedua:
Standardisasi ʿUtsmān tidak harus dipahami sebagai penciptaan Al-Qur’an dari nol, tetapi sebagai tindakan kanonisasi dan standardisasi yang membatasi pluralitas corpus yang sebelumnya beredar. Dalam proses tersebut, tradisi Ibn Masʿūd kehilangan kedudukan sebagai corpus tertulis alternatif, tetapi sebagian unsur bacaan dan penafsirannya bertahan dalam tradisi Kufah, qirāʾāt, tafsir, dan fikih.
105. Implikasi bagi Studi “Preservasi Al-Qur’an”
Muṣḥaf Ibn Masʿūd memaksa kita mengoreksi pertanyaan.
Pertanyaan:
“Apakah Al-Qur’an terjaga?”
terlalu umum.
Pertanyaan akademik yang lebih tepat adalah:
Apa yang dimaksud dengan “terjaga”?
Apakah:
seluruh bacaan?
seluruh manuskrip?
seluruh personal codices?
rasm?
corpus 114 surah?
makna?
atau teks kanonik yang akhirnya diterima umat?
Jika “terjaga” berarti:
seluruh bentuk awal tanpa ada satu pun varian yang hilang, maka bukti Ibn Masʿūd menjadi persoalan nyata.
Jika “terjaga” berarti:
sebuah corpus kanonik akhirnya distabilkan dan diwariskan secara sangat luas, bukti sejarah jauh lebih mendukung pernyataan tersebut.
106. Implikasi bagi Kajian Qirāʾāt
Tradisi Ibn Masʿūd juga menunjukkan bahwa perkembangan qirāʾāt bukanlah:
Nabi → sepuluh imam → Hafṣ.
Model tersebut terlalu sederhana.
Model yang lebih realistis:
Nabi → sahabat pembaca → jaringan regional → corpus personal → qurrāʾ Kufah/Madinah/Basrah/Dimasyq → seleksi → kanonisasi → riwāyah → ṭuruq.
Dalam model ini Ibn Masʿūd bukan “bacaan ke-11”.
Ia merupakan:
salah satu akar historis dalam jaringan yang kemudian melahirkan beberapa tradisi bacaan.
107. Implikasi bagi Kajian Manuskrip
Penelitian masa depan harus menguji tiga corpus secara bersamaan:
Corpus A
Tradisi qirāʾāt Ibn Masʿūd.
Corpus B
Manuskrip non-ʿUtsmānī seperti Ṣanʿāʾ lower text.
Corpus C
Manuskrip ʿUtsmānī awal.
Jika suatu varian Masʿūdian juga ditemukan dalam manuskrip sangat awal yang independen, tingkat kredibilitas historisnya akan meningkat.
Ini merupakan agenda penelitian yang sangat penting.
108. Agenda Penelitian Selanjutnya
Penelitian lebih lanjut idealnya membangun critical apparatus Ibn Masʿūd yang mencatat setiap varian dengan informasi:
ayat;
teks kanonik;
bacaan Masʿūdian;
transliterasi;
terjemahan;
sumber pertama;
semua sumber paralel;
sanad;
tanggal sumber;
status qirāʾāt;
status rasm;
paralel dalam manuskrip;
dampak tafsir;
dampak fikih;
dan tingkat kepastian.
Proyek seperti Encyclopedia of the Variant Readings of the Qur’an milik Shady Nasser bergerak ke arah penyusunan critical apparatus semacam ini dengan mengumpulkan varian berdasarkan sumber, transmitters, tipe, dan status. (Islamic Studies at Harvard)
109. Kesimpulan Akhir
Secara keseluruhan, muṣḥaf Ibn Masʿūd adalah bukti historis yang sangat penting, tetapi harus dibaca dengan disiplin kritik sumber.
Ia memberikan bukti kuat bahwa:
komunitas Qur’ani awal tidak hanya memiliki satu corpus tertulis pribadi yang identik dalam setiap detail.
Ia juga memberikan bukti bahwa:
sejumlah bacaan yang berbeda dari teks kanonik kemudian benar-benar beredar dan mempunyai kehidupan intelektual yang panjang.
Namun data yang sama menunjukkan:
tradisi ʿUtsmānī akhirnya memperoleh dominasi luar biasa besar, dan banyak materi Masʿūdian tidak bertahan sebagai corpus kanonik.
Dengan demikian, kesimpulan sejarah yang paling proporsional bukan:
“Ibn Masʿūd mempunyai Qur’an lain.”
dan bukan:
“Ibn Masʿūd sebenarnya tidak mempunyai varian apa pun.”
Kesimpulan yang lebih kuat adalah:
Ibn Masʿūd merupakan salah satu saksi utama terhadap pluralitas tradisi Qur’ani awal. Muṣḥaf yang dinisbatkan kepadanya tampaknya berbeda dalam susunan dan sejumlah bacaan dari corpus ʿUtsmānī, tetapi rekonstruksinya tidak langsung karena manuskrip fisiknya telah hilang. Sebagian varian Masʿūdian mempunyai dukungan transmisi yang kuat, sebagian lain bersifat lebih lemah. Tradisi tersebut tidak bertahan sebagai kanon alternatif, tetapi sejumlah unsurnya terus hidup dalam qirāʾāt Kufah, tafsir, dan fikih. Karena itu, muṣḥaf Ibn Masʿūd paling tepat ditempatkan sebagai salah satu saksi penting proses historis dari pluralitas Qur’ani menuju kanonisasi.
110. Bibliografi Primer
110.1. Ibn Abī Dāwūd
Ibn Abī Dāwūd al-Sijistānī, Abū Bakr ʿAbd Allāh b. Sulaymān.
كتاب المصاحف
Kitāb al-Maṣāḥif.
Wazārat al-Awqāf wa-l-Shuʾūn al-Islāmiyya, Qatar, edisi Muḥibb al-Dīn ʿAbd al-Subḥān Wāʿiẓ, 1995.
Karya ini merupakan sumber penting mengenai tradisi mushaf para sahabat, perbedaan codex, dan bacaan. Penelitian modern tentang karya tersebut menekankan bahwa ia mengumpulkan laporan mengenai proses pengumpulan, perbedaan bacaan, dan persoalan tanda baca. (DergiPark)
110.2. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
Muḥammad b. Ismāʿīl al-Bukhārī.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
Khususnya:
no. 3758 / 4999 — Ibn Masʿūd sebagai salah satu dari empat guru Qur’an;
no. 4944 — bacaan Q. 92:3;
no. 4977 — al-Muʿawwidhatayn;
no. 5000 — pernyataan Ibn Masʿūd tentang lebih dari tujuh puluh surah;
no. 5005 — persoalan Ubayy dan bacaan yang tidak seluruhnya dipertahankan;
no. 4987 — kodifikasi ʿUtsmān.
Hadis 4944 secara eksplisit memuat bacaan وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ dalam tradisi Ibn Masʿūd/Abū al-Dardāʾ. (Sunnah)
Hadis 4977 menyimpan perdebatan Ibn Masʿūd–Ubayy mengenai al-Muʿawwidhatayn. (Sunnah)
110.3. Ṣaḥīḥ Muslim
Muslim b. al-Ḥajjāj.
Ṣaḥīḥ Muslim.
Khususnya bagian mengenai keutamaan dan bacaan Ibn Masʿūd, termasuk riwayat bahwa Nabi meminta Ibn Masʿūd membaca Al-Qur’an kepada beliau. Riwayat ini penting untuk menegaskan status Ibn Masʿūd sebagai pembaca Al-Qur’an yang dihormati.
110.4. Al-Ṭabarī
Muḥammad b. Jarīr al-Ṭabarī.
Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān.
Sumber penting untuk varian:
Q. 5:89;
Q. 6:153;
dan berbagai bacaan yang dinisbatkan kepada sahabat dan tābiʿīn.
110.5. Abū ʿUbayd
Abū ʿUbayd al-Qāsim b. Sallām.
Faḍāʾil al-Qurʾān.
Penting untuk sejumlah bacaan Masʿūdian yang juga muncul dalam tradisi Kufah.
110.6. Al-Suyūṭī
Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī.
Al-Itqān fī ʿUlūm al-Qurʾān.
Penting khususnya untuk:
susunan surah dalam muṣḥaf sahabat;
persoalan al-Fātiḥa;
al-Muʿawwidhatayn;
dan transmisi bacaan.
110.7. Ibn al-Nadīm
Muḥammad b. Isḥāq al-Nadīm.
Al-Fihrist.
Penting karena memelihara salah satu daftar susunan surah yang dikaitkan dengan muṣḥaf Ibn Masʿūd. Jeffery menempatkan data tersebut pada pp. 21–23 dalam kajiannya mengenai codex Ibn Masʿūd. (Bible.ca)
111. Bibliografi Sekunder
111.1. Arthur Jeffery
Arthur Jeffery.
Materials for the History of the Text of the Qurʾān: The Old Codices.
Leiden: E. J. Brill, 1937.
Bagian:
“Codex of Ibn Masʿud,” terutama pp. 20–24 untuk biografi, status codex, persoalan susunan surah, dan metodologi pengumpulan varian; daftar varian kemudian tersebar menurut surah. Versi digital yang tersedia menunjukkan dengan jelas bahwa Jeffery membedakan bacaan yang secara eksplisit disebut berasal dari codex, bacaan yang hanya dinisbatkan sebagai qirāʾa, dan bacaan dari murid Ibn Masʿūd. (Bible.ca)
111.2. François Déroche
François Déroche.
The One and the Many: The Early History of the Qur'an.
New Haven: Yale University Press, 2021/2022.
Khususnya:
bab 3 tentang proses kanonisasi;
bab 4, The Lesson of the Manuscripts, pp. 141–198.
Déroche menempatkan pluralitas awal sebagai bagian penting sejarah pembentukan teks Qur’ani dan menghubungkan sumber literer dengan manuskrip awal. (JSTOR)
111.3. Ramon Harvey
Ramon Harvey.
“The Legal Epistemology of Qur’anic Variants: The Readings of Ibn Masʿūd in Kufan Fiqh and the Ḥanafī Madhhab.”
Journal of Qur’anic Studies 19, no. 1 (2017): 72–101.
Artikel ini sangat penting untuk memahami bagaimana bacaan Masʿūdian tetap berfungsi sebagai bahan epistemik dalam fikih walaupun tidak menjadi bacaan kanonik. (Dr Ramon Harvey)
111.4. Shady H. Nasser
Shady H. Nasser.
The Transmission of the Variant Readings of the Qurʾān: The Problem of Tawātur and the Emergence of Shawādhdh.
Leiden: Brill, 2012.
Karya ini penting untuk persoalan:
qirāʾāt non-kanonik;
tawātur;
transmission;
dan pembentukan status shādhdh.
111.5. Shady H. Nasser
Shady H. Nasser.
The Second Canonization of the Qurʾān: Ibn Mujāhid and the Founding of the Seven Readings.
Leiden: Brill, 2020.
Penting untuk memahami bahwa status sebuah bacaan dapat berubah sepanjang sejarah dan bahwa kanonisasi qirāʾāt merupakan proses historis. Penelitian Nasser tentang kanonisasi juga menekankan adanya beberapa tahap kanonisasi dan peran otoritas politik serta komunitas. (Harvard Scholar)
111.6. Marijn van Putten
Marijn van Putten.
“Textual Criticism of the Quran.”
Dalam The Comparative Textual Criticism of Religious Scriptures, pp. 152–172.
Brill, 2024.
DOI: 10.1163/9789004693623_009.
Karya ini penting untuk memahami prinsip metodologis kritik teks Qur’an modern. (ResearchGate)
111.7. Marijn van Putten
Marijn van Putten.
Quranic Arabic: From Its Hijazi Origins to Its Classical Reading Traditions.
Leiden: Brill, 2022.
Berguna untuk membedakan:
bahasa Qur’ani awal;
Quranic Consonantal Text;
dan tradisi bacaan klasik.
111.8. Encyclopedia of Variant Readings
Shady H. Nasser.
Encyclopedia of the Variant Readings of the Qur’an.
Proyek digital ini dirancang sebagai critical apparatus yang mengumpulkan varian berdasarkan:
transmitter;
sumber;
tipe varian;
status;
dan keterangan tambahan. (Islamic Studies at Harvard)
112. Evaluasi Akhir Sumber
Secara epistemologis, sumber tentang muṣḥaf Ibn Masʿūd dapat ditempatkan pada urutan:
tingkat paling kuat
Hadis awal yang memuat bacaan konkret dan rantai transmisi.
Varian yang muncul dalam lebih dari satu sumber independen.
Bacaan yang mempunyai kesinambungan dalam tradisi Kufah.
Bacaan yang mempunyai paralel manuskrip.
Riwayat codex dari sumber abad ke-3–4 H.
Daftar susunan surah yang ditransmisikan lewat sumber kemudian.
Attribution yang muncul hanya dalam satu sumber sangat terlambat.
Penggunaan polemis sektarian tanpa konfirmasi.
Namun urutan ini tidak absolut.
Sebuah laporan yang lebih muda dapat melestarikan tradisi yang sangat tua.
113. Jawaban atas Pertanyaan Pokok
Apakah Ibn Masʿūd memiliki muṣḥaf?
Sangat mungkin secara historis.
Apakah manuskrip itu masih ada?
Belum ada manuskrip yang diterima secara konsensus sebagai manuskrip asli Ibn Masʿūd.
Apakah berbeda dari mushaf ʿUtsmān?
Ya, setidaknya dalam sejumlah bacaan dan kemungkinan susunan.
Apakah al-Fātiḥa tidak ada?
Ada tradisi kuat yang menyatakan demikian, tetapi alasan dan implikasi ketiadaannya diperdebatkan. (DOI)
Apakah al-Falaq dan al-Nās tidak diakui?
Ada riwayat kuat dalam Bukhārī yang mengatribusikan pandangan tersebut kepada Ibn Masʿūd. (Sunnah)
Apakah semua varian Masʿūdian sahih?
Tidak dapat dikatakan.
Apakah semua varian itu hanya tafsir?
Tidak. Sebagian sangat sulit direduksi menjadi sekadar tafsir, terutama kasus seperti Q. 92:3. (Sunnah)
Apakah Ibn Masʿūd mempunyai “Qur’an lain”?
Istilah itu terlalu sederhana. Lebih tepat berbicara mengenai personal codex dan tradisi bacaan pra-kanonik yang berbeda dalam beberapa aspek dari corpus ʿUtsmānī.
Apakah muṣḥaf ʿUtsmān merupakan pemalsuan?
Bukti mengenai Ibn Masʿūd tidak cukup untuk menyimpulkan itu.
Apakah narasi “tidak pernah ada varian” dapat dipertahankan?
Tidak jika “varian” didefinisikan secara historis luas.
114. Kesimpulan Final
Muṣḥaf ʿAbdullāh b. Masʿūd harus dipandang sebagai salah satu saksi paling penting mengenai sejarah awal pembentukan teks Al-Qur’an.
Signifikansinya bukan karena ia membuktikan salah satu ekstrem dalam perdebatan modern, melainkan karena ia memaksa kita menerima kenyataan bahwa:
teks Qur’ani awal memiliki sejarah transmisi yang lebih kompleks daripada gambaran “satu mushaf identik sejak awal”.
Namun kompleksitas tidak sama dengan kekacauan.
Data menunjukkan adanya:
inti Qur’ani yang sangat stabil + variasi regional dan personal + bacaan alternatif + personal codices + standardisasi ʿUtsmān + kanonisasi qirāʾāt kemudian.
Ibn Masʿūd berada pada tahap awal dari proses tersebut.
Karena itu, jika penelitian sejarah ditanya:
“Apakah muṣḥaf Ibn Masʿūd benar-benar ada dan berbeda?”
jawaban paling bertanggung jawab adalah:
Ada dasar historis yang kuat untuk menganggap bahwa Ibn Masʿūd memiliki corpus Qur’ani pribadi dan bahwa tradisinya berbeda dari corpus ʿUtsmānī dalam beberapa aspek. Namun corpus tersebut tidak dapat direkonstruksi secara sempurna karena manuskrip aslinya tidak tersedia, dan tidak semua bacaan yang kemudian dinisbatkan kepadanya mempunyai tingkat autentisitas yang sama.
Jika pertanyaannya:
“Apakah muṣḥaf Ibn Masʿūd membuktikan Al-Qur’an modern telah dipalsukan?”
jawabannya:
Tidak. Bukti itu menunjukkan pluralitas dan proses seleksi/standardisasi, bukan dengan sendirinya membuktikan teori pemalsuan total.
Jika pertanyaannya:
“Apakah muṣḥaf Ibn Masʿūd membuktikan bahwa tidak pernah ada varian Qur’ani?”
jawabannya juga:
Tidak. Justru sumber-sumber awal memberikan banyak bukti sebaliknya.
Dengan demikian, posisi akademik yang paling kuat adalah:
Muṣḥaf Ibn Masʿūd merupakan salah satu tradisi Qur’ani pra-kanonik yang memiliki otoritas historis tinggi, mengandung sejumlah varian tekstual dan bacaan yang nyata, kemudian tersingkir sebagai corpus publik oleh standardisasi ʿUtsmān, tetapi sebagian warisannya terus hidup dalam tradisi Kufah, qirāʾāt, tafsir, dan fikih. Sejarah Al-Qur’an karenanya paling tepat dipahami bukan sebagai perpindahan dari “nol variasi” menuju “teks sempurna”, melainkan sebagai proses dari pluralitas terbatas menuju standardisasi dan kanonisasi yang sangat berhasil.
No comments:
Post a Comment