APAKAH YESUS SEORANG MUSLIM?
Kajian Historis-Kritis, Filologis, Qur’ani, Perjanjian Baru, dan Komparatif mengenai Identitas Keagamaan Yesus
Abstrak
Pertanyaan “Apakah Yesus seorang Muslim?” tampak sederhana, tetapi secara akademis menyentuh persoalan metodologis yang sangat kompleks karena istilah Muslim mempunyai sedikitnya dua kemungkinan fungsi: pertama, sebagai istilah teologis-Qur’ani untuk seseorang yang menyerahkan diri kepada Allah; kedua, sebagai kategori historis-sosiologis bagi anggota komunitas Islam yang muncul dalam sejarah sekitar abad VII M. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan berbeda tergantung definisi yang digunakan. Penelitian ini menguji persoalan tersebut secara historis-kritis dengan memperbandingkan data Al-Qur’an, Perjanjian Baru, tradisi Kristen awal, Josephus, dan kajian modern tentang Yudaisme Bait Kedua serta munculnya Islam.
Penelitian menggunakan metode historis-kritis, analisis filologis, semantik diakronis, kritik sumber, kritik naratif, intertekstualitas, serta pendekatan komparatif terhadap kategori agama. Analisis menunjukkan bahwa menurut data historis modern, Yesus hampir secara universal ditempatkan dalam konteks Yahudi abad pertama. Ia hidup di Galilea dan Yudea, beribadah dalam lingkungan Yudaisme, berinteraksi dengan Taurat, Bait Allah, hari-hari raya Yahudi, dan tradisi monoteistik Israel. Kajian historis modern bahkan berbicara tentang “Yesus orang Yahudi” sebagai titik dasar penting dalam penelitian Yesus historis. (JSTOR)
Sebaliknya, Al-Qur’an menempatkan Yesus, yang disebut ʿĪsā ibn Maryam, sebagai seorang rasūl, nabī, al-Masīḥ, dan hamba Allah. Al-Qur’an menggambarkan para pengikut Yesus sebagai orang-orang yang berkata, “Kami adalah muslimun” (Q. 3:52; 5:111), dan menyebut Ibrahim sebagai ḥanīfan musliman (Q. 3:67). Dengan demikian, dalam kerangka konseptual Al-Qur’an, “Muslim” tidak selalu berfungsi sebagai nama komunitas historis pasca-Muhammad; istilah tersebut juga dapat menunjuk kepada orang yang tunduk kepada Allah. Namun penelitian tentang makna islām dalam Al-Qur’an memperlihatkan adanya perdebatan akademis mengenai semantik istilah tersebut dan mengenai hubungan antara pengertian “submission” dan perkembangan istilah “Islam” sebagai nama agama. (Cambridge University Press)
Dari perspektif historis-etik, menyebut Yesus “Muslim” dalam arti anggota komunitas Islam yang dibentuk Muhammad pada abad VII adalah anachronistic. Yesus hidup kira-kira enam abad lebih awal dan sumber sejarah terdekat menempatkannya dalam dunia Yudaisme abad pertama. Akan tetapi, dari perspektif teologis-Qur’ani, penyebutan Yesus sebagai muslim dalam arti seorang yang menyerahkan diri kepada Allah dan mengajarkan tauhid mempunyai dasar konseptual yang jauh lebih kuat. Persoalan utama bukan lagi “mana yang benar” secara mutlak, melainkan kategori mana yang sedang digunakan dan apakah kategori tersebut bersifat emik (dari dalam tradisi Islam) atau etic/historis (dari luar tradisi).
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa dua proposisi harus dibedakan. Secara historis-sosiologis, Yesus bukan Muslim dalam pengertian identitas komunitas Islam abad VII; ia adalah seorang Yahudi abad pertama. Secara teologis-Qur’ani, Yesus dapat disebut muslim dalam pengertian generik “orang yang berserah diri kepada Allah”, meskipun Al-Qur’an tidak memberikan pernyataan eksplisit berbentuk “Yesus adalah seorang Muslim” dengan formulasi nomenklatural yang sama seperti komunitas Muslim kemudian. Bahkan data Qur’ani secara lebih langsung menyebut para hawāriyyūn sebagai “muslimūn”, bukan mengucapkan klaim historis-sosiologis bahwa Yesus sendiri merupakan anggota “agama Islam” sebagaimana bentuk komunitas itu berkembang setelah abad VII.
Kata kunci: Yesus, ʿĪsā, Muslim, Islām, Al-Qur’an, Yudaisme, Yesus historis, tauhid, Perjanjian Baru, agama Abrahamik, identitas keagamaan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanyaan tentang identitas keagamaan Yesus sering menjadi pusat dialog maupun polemik antara Islam dan Kekristenan.
Dalam wacana Muslim populer, jawaban yang lazim adalah:
“Yesus adalah Muslim.”
Argumen biasanya berangkat dari makna kata Islam sebagai “berserah diri kepada Allah”. Karena Yesus tunduk kepada Allah, berdoa kepada Allah, menyeru manusia menyembah Allah, dan tidak memperkenalkan dirinya dengan istilah “Kristen”, maka ia dipandang sebagai Muslim.
Di pihak lain, dalam penelitian sejarah modern, kategori tersebut sering dianggap problematis. Yesus hidup dalam masyarakat Yahudi abad pertama, jauh sebelum istilah Islam muncul sebagai nama komunitas keagamaan yang dikaitkan dengan Muhammad.
Kedua posisi tersebut tidak harus saling bertentangan apabila kita menyadari bahwa mereka menggunakan dua jenis kategori yang berbeda.
Kategori pertama bersifat:
teologis-Qur’ani.
Kategori kedua bersifat:
historis-sosiologis.
Masalah muncul ketika kategori dari satu kerangka dipindahkan ke kerangka lain tanpa memperhatikan perubahan makna.
1.2 Rumusan Masalah
Penelitian ini mengajukan masalah utama:
Apakah Yesus dapat secara akademis disebut “seorang Muslim”, dan apa perbedaan antara jawaban historis, filologis, dan teologis terhadap pertanyaan tersebut?
Pertanyaan utama dijabarkan menjadi:
Apa arti Muslim dan islām dalam Al-Qur’an?
Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan Yesus?
Apakah Al-Qur’an secara eksplisit menyebut Yesus sebagai Muslim?
Bagaimana para pengikut Yesus disebut dalam Al-Qur’an?
Bagaimana sumber Kristen abad I menggambarkan identitas Yesus?
Bagaimana Yudaisme abad pertama harus dipahami?
Apakah “Muslim” dapat digunakan sebagai kategori historis untuk abad I?
Bagaimana istilah tersebut harus digunakan dalam dialog Islam-Kristen secara akademis?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian bertujuan:
membedakan kategori teologis dan historis;
menganalisis istilah Muslim secara filologis;
menguji data Al-Qur’an secara langsung;
menguji data Perjanjian Baru;
menguji konteks Yudaisme abad pertama;
menguji apakah terdapat dasar untuk identifikasi Yesus sebagai Muslim;
serta menghasilkan kesimpulan yang tidak apologetis dan tidak polemis.
BAB II
METODOLOGI
2.1 Prinsip Epistemologis
Penelitian ini membedakan tiga level.
Level pertama: sejarah
Pertanyaan:
Bagaimana Yesus mengidentifikasi dirinya dalam konteks abad pertama?
Level kedua: sejarah agama
Pertanyaan:
Bagaimana komunitas Muslim kemudian memahami Yesus?
Level ketiga: teologi normatif
Pertanyaan:
Apakah Yesus dalam kerangka Al-Qur’an merupakan bagian dari rangkaian nabi yang menyerahkan diri kepada Allah?
Ketiga pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan sumber yang identik.
2.2 Sumber Primer
Sumber utama penelitian:
A. Al-Qur’an
Terutama:
Q. 2:130–136;
3:33–67;
4:157–171;
5:72–117;
19:16–36;
43:57–65;
61:6–14.
B. Perjanjian Baru
Terutama:
Markus;
Matius;
Lukas;
Yohanes;
Kisah Para Rasul.
C. Sumber non-Kristen
Josephus;
Tacitus;
tradisi Yahudi yang relevan.
Josephus 20.200 secara umum dianggap autentik oleh mayoritas sarjana modern dan menyebut Yakobus sebagai “saudara Yesus yang disebut Kristus”, sehingga menjadi salah satu sumber eksternal penting untuk keberadaan historis Yesus dan komunitas awalnya. (OUP Academic)
BAB III
DEFINISI “MUSLIM”
3.1 Analisis Morfologis
Kata:
مُسْلِمٌ
muslim
merupakan bentuk partisipial dari akar:
س-ل-م
yang berkaitan dengan medan semantik keselamatan, kedamaian, keutuhan, dan terutama dalam konstruksi tertentu dengan berserah diri atau tunduk.
Secara morfologis:
مُسْلِم
adalah bentuk aktif yang dapat dipahami sebagai:
“orang yang menyerahkan/menundukkan diri.”
Jamάknya:
مُسْلِمُونَ / مُسْلِمِينَ
3.2 Islam sebagai Nama Agama
Dalam penggunaan modern, “Islam” berarti nama agama yang mempunyai:
komunitas;
kitab;
syariat;
institusi;
identitas;
sejarah;
dan tradisi yang berkembang sejak abad VII.
Jika Muslim didefinisikan seperti ini, maka Yesus jelas tidak dapat disebut Muslim.
Bukan karena ia anti-Islam, melainkan karena:
komunitas historis yang disebut Islam sebagai identitas sosial belum muncul pada masa hidupnya.
Ini adalah persoalan kronologi, bukan teologi.
BAB IV
MAKNA ISLĀM DALAM AL-QUR’AN
4.1 Q. 3:19
Al-Qur’an berkata:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
inna al-dīna ʿinda Allāhi al-islām
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.”
Dalam pembacaan teologis Muslim, ayat ini dapat memberikan makna universal:
agama yang benar adalah penyerahan diri kepada Allah.
Tetapi secara sejarah agama, pertanyaan yang lebih rumit adalah:
apakah islām pada setiap kemunculannya memiliki arti identik dengan institusi Islam abad VII?
Para ahli berbeda.
Sebagian membaca islām terutama sebagai:
submission to God.
Sebagian penelitian modern mencoba menempatkan terminologi tersebut dalam lingkungan Late Antiquity dan mengusulkan makna-makna lain atau evolusi semantis. Juan Cole, misalnya, menawarkan tesis kontroversial bahwa islām dalam sejumlah konteks Qur’ani lebih dekat dengan konsep “tradition” melalui jalur Aramaik, sehingga menantang pembacaan “submission” yang terlalu sederhana. Tesis ini sendiri tidak boleh diperlakukan sebagai konsensus; ia justru menunjukkan bahwa semantik istilah tersebut adalah bidang perdebatan akademis. (Cambridge University Press)
4.2 Implikasi
Jika makna:
muslim = one who submits to God
maka secara konseptual nabi-nabi sebelum Muhammad dapat disebut Muslim.
Jika:
Muslim = anggota umat Muhammad
maka nabi-nabi pra-Muhammad tidak disebut Muslim secara historis-sosiologis.
Kedua pengertian tersebut merupakan dua model berbeda.
BAB V
IBRAHIM SEBAGAI KUNCI INTERPRETASI
Al-Qur’an 3:67:
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا
ma kāna Ibrāhīmu yahūdiyyan wa-lā naṣrāniyyan wa-lākin kāna ḥanīfan musliman
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi seorang yang hanif dan berserah diri.”
Ini merupakan ayat yang sangat penting.
Ibrahim secara sejarah hidup jauh sebelum:
Yudaisme rabinik;
Kekristenan;
Islam abad VII.
Namun Al-Qur’an menyebutnya:
musliman.
Ini menunjukkan bahwa kata Muslim dalam teologi Qur’ani dapat dipakai melampaui kategori komunitas sejarah Muhammad.
Dengan demikian, secara internal Qur’ani:
“Muslim” tidak harus berarti “orang yang hidup setelah Muhammad”.
BAB VI
YESUS DALAM AL-QUR’AN
Yesus disebut dengan berbagai sebutan:
ʿĪsā
al-Masīḥ
ibn Maryam
rasūl Allāh
kalimatuhu
rūḥun minhu
serta:
ʿabdu Allāh
“Hamba Allah.”
Q. 19:30:
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا
Qāla innī ʿabdu Allāhi ātāniya al-kitāba wa-jaʿalanī nabiyyan.
“Dia berkata: Sesungguhnya aku adalah hamba Allah; Dia memberiku Kitab dan menjadikanku nabi.”
Secara teologis, ini sangat penting.
Yesus Qur’ani bukan:
Tuhan yang menjadi manusia.
Ia:
hamba Allah dan nabi.
BAB VII
YESUS DAN TAUHID DALAM AL-QUR’AN
Q. 3:51:
إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ
inna Allāha rabbī wa-rabbukum faʿbudūhu hādhā ṣirāṭun mustaqīm.
“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.”
Struktur ini sangat signifikan:
Allah = Tuhan Yesus + Tuhan manusia
kemudian:
faʿbudūhu
“maka sembahlah Dia.”
Dalam kerangka Islam, ini sangat dekat dengan pengertian:
submission to God.
Tetapi secara akademis harus ditambahkan:
Ayat tersebut menggambarkan Yesus versi Qur’an, bukan suara dokumenter langsung Yesus yang berasal dari abad pertama.
Ini adalah perbedaan metodologis yang sangat penting.
BAB VIII
QS. 3:52 — PARA HAWĀRIYYŪN
Ayat tersebut berbunyi:
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
... wa-shhad bi-annā muslimūn.
“Kami adalah penolong-penolong Allah, kami beriman kepada Allah, dan bersaksilah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.”
Perhatikan secara filologis:
Yang berkata:
نَحْنُ ... مُسْلِمُونَ
adalah:
الْحَوَارِيُّونَ
para hawariyyun.
Bukan sebuah kalimat yang secara eksplisit berbunyi:
“ʿĪsā qāla: innī muslim.”
Ini adalah salah satu poin terpenting dalam seluruh penelitian.
Kesimpulan sementara
Qur’an secara eksplisit:
menyebut para pengikut Yesus sebagai muslimūn.
Ia:
tidak memberikan formula yang sama persis: “Yesus adalah Muslim.”
Namun Qur’an menggambarkan Yesus sebagai:
hamba Allah;
nabi;
utusan;
penyeru penyembahan kepada Allah.
Karena itu inferensi teologis bahwa Yesus “muslim” sangat mudah dilakukan dalam sistem Qur’ani, tetapi harus dibedakan dari kutipan eksplisit.
BAB IX
Q. 5:111
Allah berfirman mengenai para hawariyyun:
آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
“kami beriman dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.”
Sekali lagi:
identitas Muslim diberikan secara eksplisit kepada para pengikut Yesus.
Ini menunjukkan bahwa istilah tersebut dalam Qur’an tidak semata-mata terbatas kepada umat Muhammad.
Secara teologis Muslim:
Ibrahim = Muslim;
para hawariyyun = Muslim;
para nabi terdahulu = berada dalam Islam dalam arti penyerahan diri kepada Allah.
BAB X
APAKAH YESUS DALAM AL-QUR’AN MENGAJARKAN “ISLAM”?
Pertanyaan ini harus diperinci.
Dalam arti tauhid:
Ya.
Qur’an menggambarkan Yesus menyeru:
“Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.”
Dalam arti menerima syariat Muhammad:
Tidak.
Tidak ada data Qur’ani bahwa Yesus mengikuti:
syahadat Muhammad;
salat lima waktu dengan bentuk syariat Islam kemudian;
zakat dalam bentuk fikih Islam;
puasa Ramadan;
syariat Muhammad.
Alasannya sederhana:
Muhammad belum muncul dalam sejarah Yesus.
Maka akan anachronistic jika dikatakan:
“Yesus mengikuti syariat Muhammad.”
BAB XI
YESUS MENURUT PERJANJIAN BARU
11.1 Yesus sebagai Yahudi
Dalam Injil, Yesus hidup dalam dunia:
Torah;
Bait Allah;
Sabat;
Paskah;
sunat;
doa Yahudi;
Kitab Suci Israel;
tradisi para nabi.
Penelitian historis modern secara umum menempatkan Yesus secara kuat dalam Yudaisme abad pertama. Oxford menggambarkan Yesus sebagai tokoh yang hidup di Palestina Yahudi di bawah kekuasaan Romawi, berinteraksi dengan berbagai kelompok Yahudi, dengan Bait Allah sebagai pusat penting kehidupan keagamaan. (OUP Academic)
Kajian terbaru juga menekankan bahwa menempatkan Yesus sebagai Yahudi merupakan salah satu fondasi penting penelitian modern mengenai Yesus historis. (Boston College eJournals)
BAB XII
YESUS DAN SHEMA
Markus 12:29:
Ἄκουε, Ἰσραήλ, κύριος ὁ θεὸς ἡμῶν κύριος εἷς ἐστιν.
Akoue, Israēl, kyrios ho theos hēmōn kyrios heis estin.
“Dengarlah, Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”
Ini adalah kutipan dari:
Ulangan 6:4.
Yesus menempatkan dirinya dalam tradisi monoteisme Israel.
Ia tidak memperkenalkan:
“agama baru bernama Kristen.”
Secara historis, para pengikut awalnya pun masih merupakan gerakan yang muncul dari dalam lingkungan Yahudi.
Bahkan penelitian terbaru tentang sejarah Kekristenan Yahudi awal menekankan bahwa orang-orang yang pertama percaya kepada Yesus sebagai Mesias terutama berasal dari latar belakang Yahudi. (OUP Academic)
BAB XIII
YESUS DAN TAURAT
Matius 5:17:
μὴ νομίσητε ὅτι ἦλθον καταλῦσαι τὸν νόμον ἢ τοὺς προφήτας
“Jangan mengira bahwa Aku datang untuk meniadakan Taurat atau para nabi.”
Lanjutan:
οὐκ ἦλθον καταλῦσαι ἀλλὰ πληρῶσαι
“Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
Apa pun interpretasi teologis terhadap plērōsai, teks tersebut jelas memperlihatkan bahwa Yesus dibingkai melalui relasinya dengan Taurat dan para nabi.
Analisis
Ini lebih mudah ditempatkan dalam:
Yudaisme abad pertama
daripada dalam:
Islam institusional abad VII.
BAB XIV
YESUS DAN PRAKTIK KEAGAMAAN YAHUDI
Perjanjian Baru menggambarkan Yesus:
masuk sinagoga;
merayakan Paskah;
berada di Bait Allah;
berbicara tentang Sabat;
mengutip Taurat;
berdoa kepada Allah.
Lukas 2 bahkan menampilkan sunat Yesus.
Jika pertanyaannya:
“Apakah Yesus secara sosial-religius merupakan orang Yahudi?”
maka bukti jawabannya sangat kuat.
BAB XV
“YESUS BUKAN KRISTEN”
Dalam arti historis tertentu, pernyataan ini benar.
Istilah:
Christianus
baru muncul untuk komunitas pengikut Kristus.
Kisah Para Rasul 11:26:
χρηματίσαι τε πρώτως ἐν Ἀντιοχείᾳ τοὺς μαθητὰς Χριστιανούς
“Di Antiokhia murid-murid pertama kali disebut Kristen.”
Jadi Yesus sendiri tidak dapat disebut:
Christian dalam pengertian anggota sebuah agama Kristen yang telah terinstitusionalisasi.
Ini sama pentingnya dengan mengatakan:
Yesus bukan Muslim dalam pengertian anggota komunitas Islam abad VII.
Jika prinsip historis itu diterapkan konsisten, maka:
Yesus bukan “Kristen” dan bukan “Muslim” dalam arti sosiologis kemudian.
Ia adalah:
Yesus seorang Yahudi abad pertama yang menjadi pusat dua tradisi keagamaan yang kemudian berkembang menjadi Kekristenan dan Islam.
BAB XVI
TETAPI BAGAIMANA DENGAN “MUSLIM” DALAM ARTI GENERIK?
Di sinilah persoalan menjadi lebih menarik.
Bandingkan:
Muslim = anggota komunitas Muhammad
dengan:
muslim = seseorang yang berserah diri kepada Allah.
Jika definisi kedua digunakan, maka:
Abraham Muslim;
Musa Muslim;
Yesus Muslim;
Muhammad Muslim.
Model ini bukan sekadar strategi apologetik modern.
Ia memiliki dasar dalam struktur Qur’ani sendiri, terutama penggunaan muslim bagi Ibrahim dan para hawariyyun.
BAB XVII
MASALAH ANAKRONISME
Anachronism terjadi ketika sebuah kategori historis yang berkembang belakangan dipaksakan kepada masa sebelumnya tanpa menunjukkan bahwa kategori tersebut memang berfungsi dengan makna yang sama.
Misalnya:
“Yesus adalah warga negara Republik Indonesia.”
Pernyataan tersebut jelas salah.
Bukan karena Yesus menolak Indonesia.
Tetapi karena:
Indonesia belum ada pada abad pertama.
Demikian juga:
“Yesus adalah anggota Sunni.”
jelas anachronistic.
Sebab:
Sunni belum menjadi kategori historis tersebut pada masa Yesus;
Muhammad belum ada;
komunitas Islam belum terbentuk.
Karena itu:
Yesus adalah Muslim
harus diperiksa dengan definisi yang jelas.
BAB XVIII
PERTANYAAN FILOLOGIS: APAKAH “MUSLIM” SAMA DENGAN “YAHUDI”?
Tidak.
Ini penting.
Mengatakan:
“Yesus adalah Muslim menurut Qur’an”
tidak berarti:
“Yesus adalah seorang Yahudi dan Muslim sebagai dua identitas komunitas yang berdiri berdampingan.”
Dalam kerangka Qur’ani, kategori muslim bersifat supra-komunal.
Sementara:
Yahudi
merujuk kepada identitas historis-keagamaan yang terkait dengan komunitas Israel/Judea dan tradisinya.
Karena itu dua istilah tersebut beroperasi pada level kategori yang berbeda.
BAB XIX
IBRAHIM DAN KONSEKUENSI KATEGORIS
Jika seseorang mengatakan:
“Yesus tidak mungkin Muslim karena Islam baru muncul pada abad VII,”
maka argumen tersebut konsisten jika definisi Muslim adalah komunitas historis Muhammad.
Tetapi ia menjadi tidak memadai sebagai kritik terhadap teologi Qur’ani.
Mengapa?
Karena Qur’an sendiri menggunakan “Muslim” untuk Ibrahim.
Jadi debat sebenarnya bukan:
“Apa yang terjadi secara kronologis?”
melainkan:
“Pada level mana istilah Muslim digunakan?”
BAB XX
PARA HAWARIYYUN SEBAGAI BRIDGE-CONCEPT
Para hawariyyun adalah titik yang sangat penting.
Mereka hidup pada masa Yesus.
Jika Al-Qur’an menyebut mereka:
مُسْلِمُونَ
maka secara Qur’ani:
Islam tidak eksklusif kepada masyarakat abad VII.
Dengan kata lain, Qur’an membentuk model:
Islam sebagai kesinambungan primordial
bukan hanya:
Islam sebagai agama baru.
Ini membantu menjelaskan mengapa Qur’an menempatkan Ibrahim, Musa, Yesus, dan Muhammad dalam satu rangkaian.
BAB XXI
ANALISIS TERHADAP Q. 2:136
Qur’an:
لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ
“Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.”
Dalam kerangka ini, Islam Qur’ani memandang Muhammad tidak sebagai pencipta Tuhan baru atau nabi baru yang terpisah dari sejarah sebelumnya, melainkan sebagai bagian dari kontinuitas kenabian.
Maka konsep:
Islam = primordial submission
lebih dekat dengan logika internal Qur’an daripada:
Islam = agama yang sepenuhnya baru pada tahun 610 M.
Namun secara historis, struktur agama yang disebut Islam berkembang secara bertahap pada abad VII dan sesudahnya.
Kedua fakta tersebut dapat benar secara bersamaan karena membicarakan dua level berbeda:
teologi sejarah keselamatan
dan
sejarah institusi agama.
BAB XXII
YESUS DALAM SUMBER KRISTEN AWAL
Jika tujuan penelitian adalah mencari identitas Yesus menurut sumber paling awal, maka Paulus harus dipertimbangkan.
Surat Paulus lebih awal daripada Injil-injil kanonik.
Paulus berbicara tentang:
Yesus;
bangsa Israel;
hukum Taurat;
Allah Israel;
kebangkitan;
Mesias.
Namun Paulus tidak menyebut Yesus:
Muslim.
Ini penting.
Bukan berarti Paulus menolak konsep penyerahan kepada Allah.
Tetapi:
terminologi “Muslim” bukan bagian dari kosakata identifikasi Yesus dalam sumber Kristen abad pertama.
BAB XXIII
IDENTITAS YESUS DALAM YAHUDISME ABAD PERTAMA
Penelitian modern semakin menekankan bahwa Yesus harus dibaca melalui:
Torah;
Second Temple Judaism;
eskatologi Yahudi;
tradisi hikmat;
apokaliptisisme;
monoteisme Israel;
dan konflik internal Yahudi.
Penelitian yang menempatkan Yesus sebagai “Yahudi yang sentral”, bukan sekadar Yahudi marginal, merupakan salah satu arus penting historiografi modern. (JSTOR)
Ini berarti:
“Yesus adalah Yahudi”
mempunyai dasar historis jauh lebih langsung daripada:
“Yesus adalah Muslim.”
Yang kedua berasal terutama dari rekonstruksi teologis Qur’ani, bukan label yang ditemukan dalam sumber abad pertama.
BAB XXIV
JOSEPHUS DAN STATUS YESUS
Josephus bukan saksi terhadap seluruh kehidupan Yesus, tetapi merupakan sumber eksternal penting.
Antiquities 20.200 menyebut:
τὸν ἀδελφὸν Ἰησοῦ τοῦ λεγομένου Χριστοῦ
ton adelphon Iēsou tou legomenou Christou
“saudara Yesus yang disebut Kristus.”
Mayoritas sarjana menganggap bagian ini autentik, didukung oleh manuskrip Yunani utama, terjemahan Latin abad VI, dan kutipan penulis Yunani seperti Eusebius. (OUP Academic)
Yang penting bagi penelitian kita:
Josephus tidak menggambarkan Yesus sebagai:
Muslim;
pembentuk Islam;
pengikut Muhammad.
Ia menempatkan Yesus dalam konteks:
Yudea abad I.
BAB XXV
APAKAH YESUS “MENYEMBAH ALLAH”?
Dalam Perjanjian Baru, Yesus berdoa kepada Allah.
Contoh:
Markus 14:36:
Ἀββᾶ ὁ πατήρ
Abba ho patēr
“Bapa.”
Yohanes 17:3:
ἵνα γινώσκωσιν σὲ τὸν μόνον ἀληθινὸν θεὸν
“supaya mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar.”
Ayat-ayat semacam ini memang mudah dibaca dalam kerangka Islam sebagai bukti bahwa Yesus tunduk kepada Allah.
Namun dari perspektif sejarah Kristen awal, teks tersebut juga harus dibaca dalam kerangka teologi Trinitarian yang kemudian berkembang.
Artinya:
data yang sama dapat memiliki interpretasi teologis berbeda.
BAB XXVI
KRISTOLOGI YOHANES DAN MASALAHNYA
Yohanes 1:1:
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος
“Pada mulanya adalah Logos.”
Yohanes 1:14:
ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο
“Logos menjadi daging.”
Dan Yohanes 20:28:
ὁ κύριός μου καὶ ὁ θεός μου
“Tuhanku dan Allahku.”
Jika identitas “Muslim” digunakan untuk berarti:
penyangkalan terhadap keilahian Yesus
maka Yesus dalam Injil Yohanes tidak cocok dengan definisi tersebut.
Tetapi jika muslim berarti:
orang yang tunduk kepada Allah
maka kategori tersebut masih dapat digunakan.
Dengan demikian:
definisi operasional mengubah jawaban.
BAB XXVII
APAKAH ISLAM DAN KEKRISTENAN SEPENUHNYA BERBEDA TENTANG YESUS?
Tidak.
Ada sejumlah kesamaan:
kelahiran luar biasa;
Maryam/Maria;
Mesias;
mukjizat;
murid;
kedatangan dari Allah;
peranan kenabian;
hubungan khusus dengan Tuhan;
pentingnya akhir zaman.
Tetapi perbedaan mendasar sangat besar:
Islam Qur’ani
Yesus:
manusia;
hamba Allah;
nabi;
Mesias;
bukan Allah;
bukan anak Allah dalam arti ontologis;
bukan objek penyembahan.
Kekristenan Nicea
Yesus:
Anak;
ilahi;
Logos;
satu hakikat dengan Bapa;
menjadi manusia;
objek iman dan penyembahan.
Karena itu:
identitas historis Yesus tidak identik dengan kristologi Kristen maupun kristologi Islam.
BAB XXVIII
APAKAH YESUS SENDIRI MENYATAKAN DIRINYA “MUSLIM”?
Tidak ada sumber abad pertama yang diketahui memberikan pernyataan:
“أنا مسلم”
“Aku seorang Muslim”
dari Yesus.
Tidak ada pula dalam Injil Yunani:
ἐγώ εἰμι μουσουλμάνος.
Ini penting secara akademis.
Karena itu klaim:
“Yesus secara historis menyebut dirinya Muslim”
tidak mempunyai bukti tekstual langsung.
Yang dapat dikatakan adalah:
Al-Qur’an menempatkan Yesus dalam kategori teologis yang identik dengan pola penyerahan kepada Allah yang disebut islām.
Itu merupakan klaim teologis yang berbeda.
BAB XXIX
APAKAH PARA PENGIKUT YESUS ADALAH MUSLIM?
Di sinilah data Qur’ani lebih eksplisit.
Q. 3:52:
وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“saksikan bahwa kami adalah Muslim.”
Q. 5:111:
وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
“saksikan bahwa kami adalah Muslim.”
Jadi:
Menurut Qur’an: ya.
Apakah secara sejarah komunitas hawariyyun menggunakan identitas:
“Muslim”
dalam arti nomenklatur Arab-Qur’ani?
Itu jauh lebih sulit dibuktikan.
Sumber abad pertama yang kita miliki berbahasa Yunani, Aram, dan Ibrani/Hebrew-related contexts, bukan bahasa Arab Qur’ani.
BAB XXX
PERBEDAAN “PENGIKUT YESUS” DAN “MUSLIM”
Penting untuk membedakan:
Perspektif Qur’ani
Pengikut sejati Yesus:
muslimūn.
Perspektif sejarah gereja
Pengikut awal Yesus dikenal sebagai:
disciples;
followers of the Way;
believers in Christ;
eventually Christians.
Perspektif historiografi
Mereka merupakan:
gerakan Yahudi-Mesianik yang berkembang secara bertahap menjadi komunitas multi-etnis.
Ketiga gambaran ini tidak berada pada level deskripsi yang sama.
BAB XXXI
YESUS DAN “AGAMA BARU”
Pertanyaan penting:
Apakah Yesus bermaksud mendirikan agama baru?
Dalam historiografi modern, gagasan bahwa Yesus pada awalnya datang sebagai pendiri sebuah agama yang bernama “Christianity” bukan merupakan satu-satunya model.
Banyak sarjana justru menempatkannya sebagai bagian dari:
gerakan reformasi/eskatologis Yahudi.
Kajian tentang Yesus sebagai Yahudi menegaskan bahwa ia hidup dan mengajar di dalam dunia Yudaisme, meskipun gerakannya kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh melampaui batas-batas tersebut. (JSTOR)
BAB XXXII
APAKAH “YESUS MUSLIM” MERUPAKAN KLAIM HISTORIS?
Jika Muslim dipakai sebagai identitas komunitas abad VII: tidak.
Alasannya:
Muhammad belum lahir.
Qur’an belum turun.
komunitas Muslim historis belum terbentuk.
terminologi syariat Islam belum terbentuk sebagai sistem abad VII.
sumber abad I tidak menggunakan istilah Muslim untuk Yesus.
Ini merupakan kesimpulan historis yang kuat.
BAB XXXIII
APAKAH “YESUS MUSLIM” MERUPAKAN KLAIM TEOLOGIS?
Ya, dapat.
Dalam teologi Qur’ani:
Ibrahim disebut Muslim;
para hawariyyun disebut Muslim;
para nabi menyerahkan diri kepada Allah;
Yesus adalah hamba dan nabi Allah;
Yesus menyeru manusia menyembah Allah.
Maka secara sistematik:
Yesus termasuk dalam umat para nabi yang berserah diri kepada Allah.
Ini konsisten dengan struktur teologi Qur’an.
BAB XXXIV
MASALAH: APAKAH TEOLOGI QUR’AN SAMA DENGAN REKONSTRUKSI SEJARAH?
Tidak.
Qur’an merupakan sumber primer bagi:
sejarah keyakinan komunitas Qur’ani.
Tetapi untuk merekonstruksi:
apa yang Yesus katakan sekitar tahun 30 M,
Qur’an abad VII memiliki jarak sekitar enam abad.
Ini tidak membuat Qur’an “tidak bernilai”.
Namun fungsi evidensialnya berbeda.
Sebagai sejarah agama:
sangat penting.
Sebagai sumber langsung untuk ucapan Yesus:
jauh lebih problematis.
BAB XXXV
KRONOLOGI SEBAGAI FAKTOR
Secara kasar:
Yesus: sekitar akhir abad I SM–awal abad I M.
Paulus: pertengahan abad I.
Injil Markus: biasanya ditempatkan sekitar akhir abad I SM/awal? — secara akademis umum sekitar 65–75 M.
Matius dan Lukas: sekitar 80–90 M.
Yohanes: sekitar akhir abad I.
Al-Qur’an: abad VII M.
Dengan demikian terdapat jarak kronologis yang sangat berbeda.
Maka untuk penelitian tentang:
Yesus historis
sumber Kristen awal memiliki keunggulan kronologis.
Untuk penelitian tentang:
bagaimana Islam memahami Yesus
Al-Qur’an merupakan sumber primer yang paling penting.
BAB XXXVI
TIDAK BOLEH MENGADU SUMBER SECARA SEDERHANA
Salah satu kesalahan umum:
“Qur’an berkata X, Injil berkata Y, maka salah satunya pasti palsu.”
Sebagai metodologi sejarah, ini terlalu sederhana.
Lebih tepat:
Qur’an adalah saksi terhadap tradisi abad VII.
Injil adalah saksi terhadap tradisi Kristen abad I.
Pertanyaannya:
Apa yang masing-masing sumber katakan?
kemudian:
Mengapa mereka mengatakan demikian?
baru:
Tradisi mana yang dapat direkonstruksi sebagai perkembangan historis?
BAB XXXVII
KRITIK HISTORIS TERHADAP “YESUS MUSLIM”
Argumen 1
Yesus berserah diri kepada Allah.
Benar secara konseptual dalam banyak tradisi, termasuk data Qur’ani.
Argumen 2
Yesus berdoa kepada Allah.
Benar.
Argumen 3
Yesus menyeru monoteisme.
Sangat kuat didukung sumber Kristen.
Argumen 4
Maka ia Muslim.
Valid hanya jika “Muslim” didefinisikan secara generik sebagai orang yang tunduk kepada Allah.
Argumen 5
Maka Yesus mengikuti agama Islam sebagaimana dipraktikkan Muslim modern.
Tidak didukung bukti sejarah.
BAB XXXVIII
KRITIK TERHADAP ARGUMEN “YESUS YAHUDI, JADI BUKAN MUSLIM”
Argumen ini juga perlu diperhalus.
Premis:
Yesus adalah Yahudi.
Sangat kuat secara historis.
Kesimpulan:
Maka ia tidak mungkin “Muslim” dalam arti teologis Qur’ani.
Tidak otomatis mengikuti.
Mengapa?
Karena:
Yahudi dan Muslim di sini digunakan pada dua level berbeda.
Seseorang secara historis dapat:
Yahudi abad pertama,
sedangkan secara teologis Qur’an:
diposisikan sebagai muslim.
Ini bukan kontradiksi formal kecuali Muslim didefinisikan sebagai identitas komunitas tertentu.
BAB XXXIX
PERBEDAAN PENDEKATAN EMIC DAN ETIC
Emic
Melihat dunia dari dalam tradisi.
Pertanyaannya:
Bagaimana Qur’an memandang Yesus?
Jawaban:
Yesus adalah hamba, nabi, Mesias, tanda Allah, dan bagian dari rangkaian orang yang menyerahkan diri kepada-Nya.
Etic
Melihat dari perspektif sejarah kritis.
Pertanyaannya:
Bagaimana sejarawan modern mengategorikan Yesus?
Jawaban:
seorang Yahudi abad pertama.
Keduanya tidak perlu dipaksa menjadi satu kategori.
BAB XL
IMPLIKASI BAGI DIALOG ISLAM-KRISTEN
Pertanyaan “Apakah Yesus seorang Muslim?” sering menjadi polemik.
Padahal secara akademis, rumusan yang lebih presisi adalah:
“Dalam arti apa Yesus disebut Muslim?”
Ini mengubah keseluruhan diskusi.
Jika yang dimaksud:
Muslim sebagai pengikut syariat Muhammad
→ tidak.
Jika yang dimaksud:
Muslim sebagai seorang yang tunduk kepada Allah
→ ya, dalam kerangka teologi Qur’ani.
Jika yang dimaksud:
identitas sosial Yesus dalam abad pertama
→ tidak; ia adalah Yahudi.
Jika yang dimaksud:
rekonstruksi keagamaan Qur’an tentang para nabi
→ ya, secara konseptual.
BAB XLI
TABEL SINTESIS
| Pertanyaan | Kesimpulan akademis |
|---|---|
| Apakah Yesus historis seorang Yahudi? | Sangat kuat |
| Apakah Yesus anggota Kekristenan institusional? | Tidak |
| Apakah Yesus anggota Islam historis abad VII? | Tidak |
| Apakah Qur’an menyebut hawariyyun sebagai Muslim? | Ya |
| Apakah Qur’an secara eksplisit berkata “Yesus adalah Muslim”? | Tidak dalam formula nomenklatural langsung |
| Apakah Qur’an menggambarkan Yesus sebagai tunduk kepada Allah? | Ya |
| Dapatkah Yesus disebut Muslim secara teologis-Qur’ani? | Ya, bila Muslim berarti orang yang berserah diri kepada Allah |
| Dapatkah Yesus disebut Muslim secara historis-sosiologis? | Tidak |
| Apakah Yesus mengikuti syariat Muhammad? | Tidak ada dasar historis |
| Apakah Yesus mengajarkan monoteisme? | Sangat kuat dalam sumber-sumber awal, meski penafsiran teologis berbeda |
| Apakah Islam dan Kekristenan memiliki konsep Yesus yang sama? | Tidak |
BAB XLII
PERBANDINGAN KONSEP
YESUS HISTORIS
Identitas sosial:
Yahudi.
Bahasa budaya:
Yudaisme Bait Kedua.
Kitab suci:
Kitab-kitab Israel/Tanakh dalam lingkungan Yahudi.
Pusat ibadah:
Bait Allah dan sinagoga.
Konflik:
konflik intra-Yahudi dan dengan kekuasaan Romawi.
YESUS QUR’ANI
Identitas:
hamba Allah.
Status:
nabi + rasul + Mesias.
Misi:
menyeru kepada Allah.
Mukjizat:
bi-idhn Allah.
Teologi:
monoteistik.
YESUS KRISTEN
Identitas:
Mesias + Anak Allah + Logos.
Status:
manusia sekaligus ilahi dalam kristologi arus utama.
Misi:
keselamatan.
Salib:
sentral bagi teologi.
Kebangkitan:
fondasi iman Kristen.
BAB XLIII
ARGUMEN TERKUAT DARI PIHAK MUSLIM
Argumen Muslim yang paling kuat bukan:
“Yesus hidup sebelum Muhammad tetapi tetap seorang Muslim dalam arti modern.”
Argumen tersebut lemah secara historis.
Argumen yang lebih kuat adalah:
Al-Qur’an menggunakan “Muslim” sebagai kategori teologis trans-historis untuk orang yang menyerahkan diri kepada Allah; Ibrahim dan hawariyyun dapat disebut Muslim walaupun hidup sebelum Muhammad. Yesus sendiri digambarkan sebagai hamba dan nabi Allah yang menyeru penyembahan hanya kepada Allah. Maka secara teologis-Qur’ani Yesus termasuk kategori Muslim.
Ini merupakan argumen yang koheren secara internal.
BAB XLIV
ARGUMEN TERKUAT DARI PIHAK KRITIS-HISTORIS
Argumen kritis yang paling kuat bukan:
“Islam salah karena Yesus Yahudi.”
Argumen tersebut terlalu sederhana.
Argumentasi yang lebih kuat:
Yesus hidup pada abad pertama.
Sumber-sumber awal menempatkannya dalam Yudaisme.
Identitas “Muslim” sebagai nama komunitas belum eksis dalam bentuk Islam abad VII.
Tidak ada sumber abad pertama yang menyebut Yesus Muslim.
Qur’an muncul berabad-abad kemudian.
Karena itu “Yesus adalah Muslim” bukan kesimpulan historiografis mengenai identitas sosial abad pertama.
Tetapi ia dapat menjadi kategori teologis Qur’ani.
BAB XLV
ARGUMEN TERKUAT DARI PIHAK KRISTEN
Argumen Kristen arus utama:
Yesus memang Yahudi secara sejarah.
Tetapi Ia memiliki identitas unik dalam narasi Injil.
Yohanes mengidentifikasikan Logos dengan Allah.
Injil menunjukkan relasi unik Yesus dengan Bapa.
Kekristenan kemudian memahami identitas tersebut melalui kristologi.
Dari perspektif Kristen, karena Yesus adalah ilahi dan bukan hanya nabi yang tunduk sebagai manusia kepada Allah, definisi Muslim yang menolak keilahian Yesus tidak dapat diterapkan pada teologi Kristen.
Namun ini adalah:
kesimpulan teologis Kristen,
bukan bukti bahwa Yesus secara sosial merupakan “Kristen” dalam arti komunitas gereja sesudahnya.
BAB XLVI
POSISI NETRAL YANG PALING KUAT
Setelah seluruh bukti dibandingkan, posisi akademis paling kuat dapat dirumuskan dalam empat proposisi.
Proposisi 1
Yesus adalah Yahudi secara historis.
Bukti untuk ini sangat kuat dan merupakan salah satu fondasi penelitian Yesus modern. (JSTOR)
Proposisi 2
Yesus bukan Muslim dalam arti historis-sosiologis sebagai anggota komunitas Islam abad VII.
Ini mengikuti kronologi.
Proposisi 3
Dalam teologi Qur’ani, Yesus dapat disebut Muslim dalam arti orang yang berserah diri kepada Allah.
Ini mengikuti struktur semantik dan teologi Qur’an, terutama penggunaan muslim bagi Ibrahim dan hawariyyun.
Proposisi 4
Kedua proposisi tersebut tidak merupakan kontradiksi jika kata “Muslim” digunakan dalam pengertian berbeda.
BAB XLVII
APAKAH AL-QUR’AN MEMPROYEKSIKAN ISLAM KE MASA LALU?
Pertanyaan ini sangat menarik dalam studi agama.
Secara sejarah agama, Qur’an jelas melakukan sesuatu yang dapat disebut:
retrospective theological universalization.
Ia menghubungkan:
Adam;
Nuh;
Ibrahim;
Musa;
Isa;
Muhammad
dalam satu sejarah monoteisme.
Dalam model ini, Muhammad bukan titik awal absolut.
Ia merupakan:
kelanjutan tradisi primordial.
Studi modern tentang Qur’an dan Kekristenan menekankan bahwa Al-Qur’an membangun diskursusnya dalam dialog dengan lingkungan Yahudi dan Kristen Late Antiquity, termasuk mengenai identitas Yesus, para pengikutnya, dan gelar-gelarnya. (OUP Academic)
BAB XLVIII
APAKAH INI BERARTI QUR’AN TIDAK HISTORIS?
Tidak.
Qur’an dapat dibaca secara historis sebagai:
dokumen abad VII tentang bagaimana komunitas Qur’ani memahami sejarah kenabian.
Namun dari perspektif historiografi:
apa yang Qur’an katakan tentang Yesus tidak otomatis setara dengan apa yang Yesus sendiri katakan pada abad pertama.
Ini adalah prinsip yang harus diterapkan secara konsisten juga kepada semua sumber lain.
BAB XLIX
PROBLEM SUMBER DAN KETERLAMBATAN
Sumber tidak harus sezaman untuk bernilai.
Josephus dan Tacitus bukan saksi langsung seluruh peristiwa yang mereka tulis.
Demikian pula Al-Qur’an bukan laporan stenografis kehidupan Yesus.
Jadi pertanyaannya:
apakah sumber terlambat?
harus dilanjutkan:
“Bagaimana sumber tersebut memperoleh informasinya?”
dan:
“Apakah terdapat tradisi paralel yang lebih tua?”
BAB L
YESUS DAN ISLAM SEBAGAI KONTINUITAS
Jika “Islam” dipahami sebagai:
penyerahan diri kepada Allah
maka terdapat kontinuitas konseptual:
Adam → Nuh → Ibrahim → Musa → Isa → Muhammad
dan para pengikut masing-masing nabi dapat dipahami sebagai orang yang berserah diri kepada Allah.
Dalam konteks ini:
“Yesus seorang Muslim”
berarti:
“Yesus termasuk dalam mata rantai manusia yang tunduk kepada Tuhan yang Esa.”
Ini merupakan konstruksi teologis yang sangat konsisten dengan Islam normatif.
BAB LI
YESUS DAN ISLAM SEBAGAI DISKONTINUITAS
Namun jika “Islam” dipahami sebagai:
komunitas agama yang menerima Qur’an dan kerasulan Muhammad
maka ada diskontinuitas:
Yesus:
sebelum Muhammad.
Muhammad:
sesudah Yesus.
Syariat Islam:
sesudah Yesus.
Maka penyebutan “Yesus seorang Muslim” menjadi:
kategori teologis, bukan kategori sosial-historis.
BAB LII
PENGGUNAAN ISTILAH SECARA AKADEMIS
Dalam tesis atau jurnal akademik, formulasi paling aman adalah:
“Dalam perspektif historis, Yesus adalah seorang Yahudi abad pertama. Dalam perspektif teologi Qur’ani, ia dapat dikategorikan sebagai muslim dalam pengertian seorang yang berserah diri kepada Allah. Penggunaan istilah tersebut sebagai kategori sosial untuk menyebut Yesus sebagai anggota agama Islam abad VII merupakan anachronistic.”
Kalimat ini lebih presisi daripada:
“Yesus jelas Muslim.”
atau:
“Yesus jelas bukan Muslim.”
BAB LIII
IMPLIKASI BAGI STUDI ANTARAGAMA
Studi komparatif harus menghindari kesalahan:
retrospective identity transfer.
Contoh:
Kristen:
“Yesus adalah Kristen.”
Muslim:
“Yesus adalah Muslim.”
Historian:
“Yesus adalah Yahudi.”
Ketiga pernyataan dapat terlihat bertentangan, tetapi sebenarnya merujuk kepada tiga kategori:
historical identity
theological genealogy
later communal identity.
BAB LIV
KESIMPULAN
Pertanyaan:
“Apakah Yesus seorang Muslim?”
tidak mempunyai satu jawaban yang memadai tanpa definisi istilah.
Dari perspektif sejarah
Yesus paling tepat disebut:
seorang Yahudi abad pertama.
Bukti historis untuk hal ini sangat kuat. Penelitian modern menempatkan Yesus dalam lingkungan Yudaisme abad pertama, bukan dalam agama Kristen atau Islam yang telah berkembang sebagai komunitas historis kemudian. (JSTOR)
Dari perspektif Islam historis
Yesus bukan Muslim dalam arti:
anggota umat Muhammad yang menerima Qur’an dan syariat Islam.
Kategori tersebut belum eksis pada masa hidup Yesus.
Dari perspektif Qur’ani
Situasinya berbeda.
Qur’an menyebut:
Ibrahim sebagai ḥanīfan musliman;
para hawariyyun sebagai muslimūn;
Yesus sebagai ʿabdu Allāh dan nabiyyan;
Yesus menyeru penyembahan kepada Allah.
Karena itu, jika Muslim digunakan dalam arti:
orang yang berserah diri kepada Allah,
maka menyebut Yesus sebagai Muslim merupakan kesimpulan teologis yang koheren dalam kerangka Islam.
Namun perlu dicatat dengan ketat:
Al-Qur’an secara eksplisit menyebut para hawariyyun sebagai Muslim, tetapi tidak memberikan formula langsung “Yesus adalah Muslim” dalam bentuk nomenklatur yang sama.
Karena itu ada perbedaan antara:
teks eksplisit
dan
inferensi teologis.
Kesimpulan final
Posisi akademis yang paling netral adalah:
Yesus bukan seorang Muslim jika “Muslim” digunakan sebagai kategori historis-sosiologis untuk komunitas Islam yang muncul pada abad VII. Yesus adalah seorang Yahudi abad pertama. Namun Yesus dapat disebut “Muslim” dalam pengertian teologis-Qur’ani apabila istilah tersebut dimaknai sebagai “orang yang berserah diri kepada Allah”. Dengan demikian, klaim “Yesus adalah Muslim” benar dalam satu kerangka teologis, tetapi anachronistic dalam pengertian historis-sosiologis.
Perbedaan ini bukan kompromi diplomatis, melainkan konsekuensi metodologis dari membedakan:
identitas historis,
kategori bahasa,
teologi Qur’ani,
dan
identitas komunitas agama yang berkembang kemudian.
BAB LV
PUTUSAN AKADEMIS DALAM SATU KALIMAT
Secara historis Yesus adalah Yahudi; secara sosiologis ia bukan anggota Islam; secara teologis-Qur’ani ia dapat disebut muslim karena digambarkan sebagai hamba dan nabi Allah yang tunduk kepada-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
A. Sumber Primer
Al-Qur’an al-Karīm.
Aland, Barbara, et al., eds. Novum Testamentum Graece. 28th ed. Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 2012.
Eusebius of Caesarea. Ecclesiastical History.
Josephus, Flavius. Antiquities of the Jews.
Josephus, Flavius. The Jewish War.
Tacitus. Annales.
B. Studi Historis tentang Yesus
Bauckham, Richard. Jesus: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. (OUP Academic)
LaCocque, André. Jesus the Central Jew: His Times and His People. Society of Biblical Literature. (JSTOR)
Chilton, Bruce, Anthony Le Donne, and Jacob Neusner, eds. Soundings in the Religion of Jesus: Perspectives and Methods in Jewish and Christian Scholarship. (JSTOR)
Senior, Donald. The New Testament: A Guide. Oxford University Press. (OUP Academic)
Adler, Yonatan. The Origins of Judaism: An Archaeological-Historical Reappraisal. Yale University Press. Diskusi ringkas mengenai istilah “Jew/Judean” dan identitas Yahudi dalam konteks kuno tersedia melalui Yale University Press. (Yale University Press)
C. Studi Yesus dan Yudaisme
Gregerman, Adam. “A Unique Jew?: Judaism and Christology in Catholic and Protestant Theology.” Studies in Christian-Jewish Relations 21, no. 1 (2026). (Boston College eJournals)
Kalinturk, Omer Faruk. “Jesus the Jew: Survey on the Cliché in Its Context.” International Journal of Theological and Islamic Studies 64 (2023). (DergiPark)
Nicklas, Tobias. “Jesus and Judaism: Inside or Outside?” Dalam Connecting Gospels: Beyond the Canonical/Non-Canonical Divide. Oxford University Press. (OUP Academic)
D. Studi Islam, Qur’an, dan Yesus
Cole, Juan. “Paradosis and Monotheism: A Late Antique Approach to the Meaning of Islām in the Quran.” Bulletin of the School of Oriental and African Studies (2019). (Cambridge University Press)
Ahn, Shin. “A Study on the Images of Jesus in Islam and Christianity: With Special Reference to Qur'an and Muslim Gospel.” Korean Association of Middle East Studies 30, no. 1 (2009): 141–168. (KCI)
“Jesus and Mary in the Qur’ān: Some Neglected Affinities.” Religion 20, no. 2 (1990): 161–175. (ScienceDirect)
“The Qur’an and Christianity.” Dalam The Oxford Handbook of Qur’anic Studies. Oxford University Press. (OUP Academic)
Ford, F. Peter Jr. “The End of Jesus’ Mission and the Honor of God in the Qur'an.” Islam and Christian-Muslim Relations 24, no. 1 (2013): 15–26. (Taylor & Francis Online)
E. Studi Josephus dan Historisitas Yesus
Schmidt, T. C. Josephus and Jesus: New Evidence for the One Called Christ. Oxford University Press, 2025. Pembahasan khusus mengenai Antiquities 20.200 menilai mayoritas besar sarjana menerima keautentikan bagian tersebut. (OUP Academic)
CATATAN METODOLOGIS PENUTUP
Untuk penelitian tingkat skripsi/S2, kesimpulan penelitian sebaiknya tidak ditulis:
“Yesus pasti Muslim.”
maupun:
“Yesus sama sekali tidak mungkin disebut Muslim.”
Formulasi ilmiah yang lebih tepat adalah:
Klaim “Yesus adalah Muslim” mempunyai dua status epistemologis yang berbeda. Sebagai proposisi historis mengenai identitas sosial Yesus pada abad pertama, klaim tersebut tidak didukung dan bersifat anachronistic. Sebagai proposisi teologis dalam Islam, klaim tersebut konsisten dengan penggunaan Qur’ani terhadap konsep islām sebagai penyerahan diri kepada Allah, meskipun Al-Qur’an lebih eksplisit menyebut para hawariyyun sebagai muslimūn daripada secara langsung memberi Yesus label nomenklatural tersebut.
Dengan demikian, perdebatan sebenarnya bukan hanya tentang Yesus, tetapi juga tentang bagaimana kategori agama dibentuk, siapa yang berhak mendefinisikan identitas masa lampau, dan kapan sebuah istilah teologis dapat digunakan sebagai kategori sejarah tanpa melakukan anakronisme.
No comments:
Post a Comment