loading...

Thursday, August 13, 2026

INJIL

 

INJIL: 

KANONIK, APOKRIF, INJIL THOMAS, INJIL BARNABAS, DAN “INJIL” DALAM AL-QUR’AN

Kajian Historis-Kritis, Filologis, Tekstual, Manuskrip, dan Teologis serta Pertanyaan tentang Keberadaan “Injil Yesus/Isa”

Abstrak

Istilah “Injil” sering digunakan seolah-olah menunjuk kepada satu kitab yang tunggal dan seragam. Dalam kenyataannya, istilah tersebut mempunyai sejarah semantik dan penggunaan yang kompleks. Dalam Kekristenan, gospel dapat berarti berita keselamatan (euangelion), genre literer, atau salah satu dari empat karya kanonik: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Dalam literatur Kristen awal terdapat pula sejumlah karya yang disebut “gospel” atau memiliki fungsi yang menyerupai Injil, seperti Gospel of Thomas, Gospel of Peter, Gospel of Mary, Gospel of Judas, Gospel of Philip, Protoevangelium of James, Gospel of the Hebrews, Gospel of the Ebionites, dan lain-lain. Sebagian di antaranya hanya bertahan dalam fragmen, sebagian dalam terjemahan, dan sebagian baru diketahui melalui kutipan para penulis gereja.

Dalam Islam, Al-Qur’an menggunakan istilah al-Injīl (الإنجيل) bukan sebagai nama salah satu dari empat Injil kanonik, melainkan sebagai wahyu yang diberikan Allah kepada ʿĪsā ibn Maryam. Q. 5:46 menyatakan bahwa Allah memberikan Injil kepada Isa; Q. 3:48 menghubungkannya dengan Taurat; Q. 5:47 berbicara mengenai ahl al-Injīl; dan Q. 57:27 menyebut Injil dalam rangka sejarah kenabian dan perkembangan komunitas pengikut Isa. Persoalan akademis kemudian muncul: apakah al-Injīl Qur’ani merupakan sebuah kitab yang secara historis pernah ada dan kemudian hilang, apakah ia merupakan sebutan teologis untuk wahyu kepada Yesus, apakah ia berkaitan dengan tradisi Injil Kristen, dan apakah mungkin mengidentifikasi sebuah manuskrip atau karya tertentu sebagai “Injil asli Yesus/Isa”?

Penelitian ini menggunakan kritik teks, kritik sumber, kritik redaksi, analisis filologis, paleografi, kodikologi, kritik naratif, sejarah kanon, sejarah agama, serta perbandingan antara sumber Kristen, Yahudi, dan Islam. Analisis menunjukkan bahwa empat Injil kanonik merupakan produk literer abad pertama yang memiliki sejarah manuskrip dan penerimaan yang dapat ditelusuri relatif awal. Markus secara umum dipandang sebagai Injil tertua dari empat kanonik, biasanya ditempatkan sekitar pertengahan 60-an atau segera setelah 70 M; Matius dan Lukas umumnya ditempatkan kemudian; sedangkan Yohanes biasanya ditempatkan pada akhir abad pertama. Oxford mencatat konsensus umum mengenai prioritas Markus, walaupun rincian hubungan antarkeempat Injil tetap diperdebatkan. (academic.oup.com)

Gospel of Thomas merupakan kasus khusus. Ia bukan narasi kehidupan Yesus seperti keempat Injil kanonik, melainkan koleksi 114 ucapan yang dikaitkan dengan Yesus. Bentuk Koptiknya terlestarikan dalam Nag Hammadi Codex II dari abad IV, sementara tiga fragmen Yunani dari Oxyrhynchus berasal dari akhir abad II hingga abad III. Tanggal komposisi aslinya masih diperdebatkan; sejumlah sarjana menempatkannya pada abad II, sementara sebagian penelitian mempertimbangkan lapisan tradisi yang lebih awal. Karena itu Thomas tidak tepat diperlakukan secara sederhana sebagai “Injil abad I yang tersembunyi” ataupun “teks Gnostik murni”. Penelitian modern menilai potensinya bagi studi Yesus historis secara hati-hati. (academic.oup.com; cambridge.org)

Gospel of Barnabas berbeda secara fundamental. Manuskrip yang diketahui berupa satu naskah Italia dari abad XVI dan satu naskah Spanyol lacunary dari abad XVIII. Penelitian Jan Joosten dalam Journal of Theological Studies menyimpulkan bahwa teks Italia kemungkinan berasal dari abad XIV, sementara kajian lanjutan menghubungkannya dengan tradisi Diatessaron Italia. Oxford Centre for Muslim-Christian Studies mencatat pula bahwa karya ini memuat anachronisme geografis dan historis serta tidak sepenuhnya konsisten bahkan dengan Al-Qur’an. Karena itu, secara akademis Gospel of Barnabas tidak dapat diperlakukan sebagai Injil abad I atau sebagai dokumen langsung Barnabas sang rasul. (academic.oup.com; cambridge.org; cmcsoxford.org.uk)

Gospel of Mary, Gospel of Peter, Gospel of Judas, Gospel of Philip dan berbagai teks apokrif lainnya menunjukkan bahwa Kekristenan awal memiliki pluralitas tradisi mengenai Yesus. Namun pluralitas tersebut tidak otomatis berarti bahwa semua karya tersebut sama tua, sama dekat dengan Yesus, atau sama-sama berstatus “Injil alternatif”. Sebagian justru mengandaikan pengetahuan tentang tradisi kanonik atau mengembangkan kembali cerita-cerita sebelumnya. Protoevangelium of James, misalnya, sangat berpengaruh dalam perkembangan tradisi Maria tetapi diketahui menggunakan dan mengolah narasi kelahiran Matius dan Lukas secara kreatif. (academic.oup.com; academic.oup.com)

Pertanyaan paling sulit ialah apakah pernah ada “Injil Yesus/Isa”, yakni sebuah kitab yang ditulis atau disampaikan Yesus sendiri. Bukti yang tersedia tidak menunjukkan adanya manuskrip, kutipan kuno, atau katalog kuno yang dapat diidentifikasi sebagai sebuah buku yang ditulis oleh Yesus. Bahkan keempat Injil kanonik bersifat anonim pada tingkat teks dan bukan autobiografi Yesus. Namun secara lebih longgar, tradisi “ajaran Yesus” tentu dapat dianggap sebagai substansi yang berada di balik berbagai sumber Injil. Dalam istilah sejarah agama, yang dapat direkonstruksi adalah tradisi mengenai perkataan dan tindakan Yesus, bukan sebuah “autograf Injil Yesus”. Sementara al-Injīl dalam Al-Qur’an mempunyai status yang berbeda: ia adalah kategori wahyu Qur’ani yang diberikan kepada Isa, bukan nama yang secara eksplisit dapat diidentifikasi dengan salah satu manuskrip Kristen yang kita miliki sekarang.

Kesimpulan utama penelitian adalah bahwa istilah “Injil” harus dipisahkan menjadi sekurang-kurangnya empat kategori: (1) euangelion sebagai berita/gospel; (2) empat Injil kanonik; (3) berbagai gospel apokrif dan non-kanonik; dan (4) al-Injīl sebagai kategori wahyu dalam Al-Qur’an. Tidak ada bukti tekstual yang cukup untuk mengidentifikasi satu karya yang sekarang bertahan sebagai “Injil asli Yesus/Isa”. Jika “Injil Yesus” dimaksudkan sebagai wahyu yang diberikan kepada Isa menurut Al-Qur’an, persoalan tersebut merupakan klaim teologis Islam yang tidak dapat secara otomatis dipetakan kepada salah satu manuskrip Kristen yang diketahui. Jika “Injil Yesus” dimaksudkan sebagai sebuah buku yang ditulis Yesus sendiri pada abad pertama, bukti sejarah yang tersedia saat ini tidak mendukung keberadaannya.

Kata kunci: Injil, Euangelion, Injil Kanonik, Injil Apokrif, Gospel of Thomas, Gospel of Barnabas, Gospel of Peter, Gospel of Mary, Gospel of Judas, Gospel of Philip, al-Injīl, Al-Qur’an, Isa, Yesus historis, kritik teks, manuskrip.


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata “Injil” berada di pusat dua tradisi besar: Kekristenan dan Islam. Akan tetapi, kedua tradisi tersebut tidak menggunakan kata itu dengan cara yang identik.

Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru terdapat istilah:

εὐαγγέλιον
euangelion

yang secara umum berarti:

“kabar baik”, “berita baik”, atau “good news”.

Dalam Kekristenan awal, istilah tersebut mula-mula menunjuk kepada berita keselamatan, bukan secara otomatis kepada sebuah kitab tertentu.

Kemudian istilah tersebut berkembang juga menjadi penamaan jenis literatur yang menceritakan Yesus.

Dalam tradisi gereja akhirnya terbentuk pengakuan terhadap empat Injil:

  1. Matius;

  2. Markus;

  3. Lukas;

  4. Yohanes.

Tetapi jika seseorang mengira bahwa dunia Kristen awal hanya mengenal empat “Injil”, bukti sejarah justru menunjukkan keadaan yang lebih rumit.

Ada:

  • Gospel of Thomas;

  • Gospel of Peter;

  • Gospel of Mary;

  • Gospel of Judas;

  • Gospel of Philip;

  • Gospel of Hebrews;

  • Gospel of Ebionites;

  • Gospel of Nazarenes;

  • Gospel of Egyptians;

  • Gospel of Truth;

  • Gospel of the Savior;

  • Protoevangelium of James;

  • Infancy Gospel of Thomas;

  • dan berbagai teks lain.

Sebagian merupakan “gospel” dalam pengertian karya tentang Yesus. Sebagian lagi hampir tidak menyerupai Injil kanonik dari segi bentuk.

Oxford Handbook of Early Christian Apocrypha menekankan bahwa literatur apokrif awal sangat beragam dan dipakai oleh pembaca Kristen dengan berbagai cara; tidak semua teks apokrif harus dianggap sebagai “kitab suci kelompok tertentu”. (academic.oup.com)

Dari sini muncul pertanyaan:

Jika dahulu ada banyak Injil, mengapa hanya empat yang menjadi kanonik?

Pertanyaan berikutnya:

Apakah keempat Injil kanonik dipilih pada abad IV dari ratusan Injil yang setara?

Jawabannya jauh lebih rumit.

Dan kemudian muncul pertanyaan Islam:

Jika Al-Qur’an menyebut al-Injīl sebagai wahyu yang diberikan kepada Isa, apakah wahyu tersebut adalah salah satu dari Injil yang sekarang dimiliki orang Kristen?

Ini adalah problem utama penelitian.


BAB II

METODOLOGI DAN BATASAN

2.1 Kritik Historis

Penelitian sejarah tidak terlebih dahulu menerima bahwa suatu teks:

  • benar;

  • salah;

  • diilhami;

  • dipalsukan.

Pertanyaan awalnya:

kapan teks muncul?

dalam bahasa apa?

siapa yang menggunakannya?

manuskrip apa yang tersedia?

teks mana yang lebih tua?

apakah pengarang mengenal teks lain?

apa konteks sosialnya?

2.2 Kritik Teks

Kritik teks bertanya:

“Apa bentuk teks paling awal yang dapat direkonstruksi berdasarkan bukti yang tersedia?”

Ini berbeda dengan:

“Apakah isi teks tersebut benar?”

2.3 Kritik Sumber

Pertanyaan:

Apakah sebuah Injil menggunakan tradisi yang lebih tua?

Contoh utama adalah pertanyaan mengenai:

  • Markus;

  • Q (hipotesis);

  • tradisi lisan;

  • sumber khas Matius;

  • sumber khas Lukas;

  • tradisi Yohanes.

2.4 Kritik Redaksi

Bagaimana pengarang mengubah tradisi yang diterimanya?

Contoh sederhana:

Jika Matius mengambil Markus, Matius mungkin:

  • memperhalus bahasa;

  • menambahkan ajaran;

  • mengubah urutan;

  • menambahkan kutipan Kitab Suci;

  • memperkuat aspek kristologis.

2.5 Analisis Manuskrip

Empat kategori bukti perlu dibedakan:

A. Manuskrip langsung

Contoh:

P52, P66, P75.

B. Versi/terjemahan

Latin, Syriac, Coptic, Armenian, dll.

C. Kutipan patristik

Irenaeus, Origen, Eusebius, Clement, dll.

D. Referensi terhadap karya yang hilang

Misalnya Gospel of Hebrews atau Gospel of Egyptians.


BAB III

APA ITU “INJIL”?

3.1 Euangelion

Kata:

εὐαγγέλιον

merupakan bentuk penting dalam literatur Kristen awal.

Dalam Markus:

Ἀρχὴ τοῦ εὐαγγελίου Ἰησοῦ Χριστοῦ

Archē tou euangeliou Iēsou Christou

“Permulaan Injil Yesus Kristus.”

Di sini euangelion belum berarti “kitab Markus” dalam arti katalog buku.

Lebih dekat:

berita tentang Yesus Kristus.

Barulah kemudian kata “gospel” juga menjadi nama untuk jenis karya literer.

3.2 Evolusi Istilah

Dapat disusun:

euangelion → berita keselamatan → tradisi tentang Yesus → karya literer tentang Yesus → Gospel sebagai genre → empat Gospel kanonik.

Dengan demikian, “Injil” mempunyai sejarah konsep.


BAB IV

EMPAT INJIL KANONIK

4.1 Injil Markus

Markus secara umum dianggap tertua dari empat Injil.

Oxford Bibliographies menyebut konsensus ilmiah bahwa Markus disusun sekitar pertengahan 60-an atau segera setelah 70 M, dengan berbagai hipotesis mengenai lokasi, termasuk Roma atau Syria. (academic.oup.com)

Ciri utama:

  • narasi cepat;

  • banyak tindakan Yesus;

  • konflik;

  • mukjizat;

  • rahasia Mesianik;

  • salib;

  • kebangkitan.

Markus tidak memiliki narasi kelahiran.

Cerita dimulai dengan:

Yohanes Pembaptis.


4.2 Injil Matius

Matius jauh lebih tertata secara pedagogis.

Ciri:

  • lima blok pengajaran besar;

  • pemenuhan nubuat;

  • Musa–Yesus paralel;

  • Kerajaan Surga;

  • gereja/ekklesia;

  • Taurat;

  • genealogis.

Matius sering dipandang menggunakan Markus dan tradisi lain.


4.3 Injil Lukas

Lukas mempunyai:

  • narasi masa kanak-kanak;

  • perhatian kepada orang miskin;

  • perempuan;

  • Samaria;

  • doa;

  • Roh Kudus;

  • perjalanan ke Yerusalem;

  • perspektif universal.

Lukas kemudian diteruskan oleh:

Kisah Para Rasul.


4.4 Injil Yohanes

Yohanes paling berbeda.

Ciri:

  • Logos;

  • “Aku adalah”;

  • dialog panjang;

  • tanda;

  • terang dan gelap;

  • kehidupan;

  • kristologi tinggi;

  • struktur khas.

Oxford Handbook menyatakan bahwa pandangan modern mengenai hubungan Yohanes dengan Sinoptik telah berubah: dari anggapan independensi penuh menuju kemungkinan bahwa Yohanes mengetahui dan menggunakan tradisi Sinoptik secara kreatif. (academic.oup.com)


BAB V

APAKAH EMPAT INJIL ADALAH EMPAT CERITA INDEPENDEN?

Tidak sepenuhnya.

Matius dan Lukas memiliki sekitar:

  • materi Markus;

  • materi yang sering disebut Q;

  • tradisi khas masing-masing.

Yohanes berbeda lebih jauh tetapi tetap memiliki sejumlah paralel.

Ini berarti:

empat Injil bukan empat kamera yang merekam Yesus dari tempat berbeda.

Lebih tepat:

empat karya literer yang menggunakan tradisi Yesus dan menyusunnya dengan tujuan masing-masing.


BAB VI

PROBLEM Q

Q adalah:

Quelle

“sumber”.

Ia merupakan hipotesis untuk menjelaskan materi yang:

  • ditemukan dalam Matius;

  • ditemukan dalam Lukas;

  • tetapi tidak terdapat dalam Markus.

Contoh:

  • Doa;

  • ucapan tertentu;

  • Yohanes Pembaptis;

  • pencobaan;

  • Sabda Bahagia;

  • beberapa perumpamaan.

Tidak ada manuskrip Q yang ditemukan.

Karena itu:

Q bukan teks yang ditemukan secara arkeologis.

Ia adalah:

rekonstruksi ilmiah.

Ini penting.


BAB VII

INJIL KANONIK DAN MANUSKRIP

Tidak ada autograf asli:

  • Matius;

  • Markus;

  • Lukas;

  • Yohanes.

Yang tersedia adalah:

salinan.

Tetapi terdapat beberapa papirus awal dan kodeks besar.

Untuk Yohanes misalnya:

  • P52;

  • P66;

  • P75.

P52 merupakan fragmen abad II dan memuat bagian Yohanes 18. Tanggal tepatnya tidak boleh dipatok secara berlebihan, tetapi ia merupakan saksi penting mengenai keberadaan Yohanes pada periode awal.

P66 dan P75 memberikan bukti yang jauh lebih luas mengenai tradisi Yohanes sebelum kodeks besar abad IV.

Maka:

kita tidak mempunyai manuskrip asli, tetapi memiliki jaringan transmisi yang cukup luas untuk melakukan kritik teks.


BAB VIII

APAKAH “KANONIK” BERARTI “PALING TUA”?

Tidak otomatis.

Kanonisitas dan kronologi adalah dua pertanyaan berbeda.

Contoh:

Gospel of Thomas mungkin mempunyai beberapa tradisi yang sangat tua.

Namun:

memiliki tradisi tua ≠ menjadi kitab kanonik.

Sebaliknya:

menjadi kanonik ≠ seluruh materinya harus merupakan perkataan historis Yesus.


BAB IX

APAKAH “APOKRIF” BERARTI “PALSU”?

Tidak.

Istilah:

apocryphon

berasal dari:

ἀπόκρυφος

yang secara dasar berkaitan dengan sesuatu yang “tersembunyi”.

Dalam sejarah kemudian, istilah “apokrif” memperoleh berbagai konotasi.

Secara akademis lebih aman menggunakan:

non-canonical

untuk teks yang bukan bagian dari kanon tertentu.

Sebuah teks non-kanonik dapat tetap:

  • tua;

  • penting;

  • bernilai sejarah;

  • memberi informasi mengenai komunitas Kristen;

  • mencerminkan tradisi yang lebih tua.


BAB X

GOSPEL OF THOMAS

10.1 Isi

Thomas memiliki 114 logia atau ucapan.

Ia dimulai dengan formula:

“Ini adalah perkataan rahasia yang diucapkan Yesus yang hidup dan dituliskan Didimus Yudas Tomas.”

Tidak ada:

  • narasi kelahiran;

  • kisah penyaliban sebagai alur naratif;

  • kebangkitan seperti Injil kanonik.

Karakter utamanya:

sayings gospel.


10.2 Manuskrip

Bukti utama:

Nag Hammadi Codex II
Koptik, abad IV.

Selain itu:

  • P.Oxy. 1;

  • P.Oxy. 654;

  • P.Oxy. 655.

Fragmen Yunani tersebut berasal dari sekitar akhir abad II hingga abad III. Bibliografi manuskrip Thomas mencatat Nag Hammadi Codex II sebagai saksi Koptik abad IV dan tiga papirus Yunani sebagai saksi yang lebih awal. (gnosis.org)

Coptic Scriptorium memberi tanggal codex Koptik sekitar 301–400 M. (data.copticscriptorium.org)


10.3 Apakah Thomas Lebih Tua daripada Injil Kanonik?

Ini diperdebatkan.

Ada tiga model utama.

Model A — Thomas abad II

Thomas menggunakan atau mengembangkan tradisi kanonik.

Model B — Thomas memiliki lapisan tradisi abad I

Sebagian ucapan mungkin sangat tua, walaupun kompilasi final lebih kemudian.

Model C — Thomas merupakan tradisi independen sebagian

Thomas memiliki sejumlah ucapan yang berasal dari tradisi lain yang tidak sepenuhnya bergantung kepada Sinoptik.

Oxford Handbook menyatakan bahwa Thomas dapat berkontribusi terhadap studi Yesus historis, tetapi persoalan tanggal, teologi, dan sumbernya belum mencapai konsensus. (academic.oup.com)


BAB XI

THOMAS DAN YESUS HISTORIS

Thomas menarik karena sejumlah ucapan sangat mirip dengan Matius/Lukas.

Contoh:

Thomas 20

Perumpamaan biji sesawi.

Kemiripan tersebut dapat berarti:

  1. Thomas mengenal tradisi Sinoptik;

  2. Sinoptik dan Thomas memiliki sumber bersama;

  3. tradisi lisan beredar independen.

Tidak ada satu jawaban yang telah diterima secara universal.

Karena itu Thomas:

tidak boleh dikeluarkan dari penelitian sejarah, tetapi juga:

tidak boleh otomatis ditempatkan di atas Injil kanonik hanya karena non-kanonik.


BAB XII

GOSPEL OF PETER

Gospel of Peter sangat menarik karena terdapat kesaksian kuno.

Eusebius menyampaikan bahwa Serapion dari Antiokhia sekitar 190 M mengetahui sebuah karya bernama Gospel of Peter yang dipakai komunitas tertentu tetapi dianggap bermasalah secara doktrinal. Fragmen fisiknya baru ditemukan di Akhmîm pada 1886–1887; manuskrip yang memuatnya bertanggal abad VIII, sementara komposisinya umumnya ditanggal paruh kedua abad II. Ada pula P.Oxy. 2949 dari awal abad III. (academic.oup.com)

Ini memberikan pelajaran:

tanggal manuskrip ≠ tanggal komposisi.

Gospel of Peter:

komposisi abad II

tetapi:

manuskrip yang masih bertahan lebih muda.


BAB XIII

GOSPEL OF MARY

Gospel of Mary merupakan teks penting mengenai Maria Magdalena.

Saksi utama:

Papyrus Berolinensis 8502

dalam bahasa Koptik.

Ada pula:

  • P.Oxy. 3525;

  • P.Ryl. 463.

Oxford mencatat bahwa Berlin codex merupakan saksi terlengkap; P.Oxy. 3525 dan P.Ryl. 463 merupakan fragmen Yunani. (academic.oup.com)

P.Oxy. 3525 berasal dari abad III. (portal.sds.ox.ac.uk)

Gospel of Mary mempunyai:

  • percakapan pascakebangkitan;

  • wahyu rahasia;

  • peranan Maria Magdalena;

  • konflik dengan Petrus.

Teks ini sangat penting untuk sejarah:

otoritas perempuan dan keragaman kristologi awal.


BAB XIV

GOSPEL OF PHILIP

Gospel of Philip berasal dari tradisi Nag Hammadi.

Ia dipandang berasal dari komposisi Yunani akhir abad II atau awal abad III tetapi hanya bertahan dalam bahasa Koptik.

NASSCAL mencatat bahwa karya ini berbeda dari Injil kanonik karena bukan narasi, tetapi berisi sejumlah ucapan Yesus dan refleksi sakramental/teologis. (nasscal.com)

Isi mencakup:

  • baptisan;

  • eucharist;

  • chrism;

  • bridal chamber;

  • Maria Magdalena;

  • simbolisme.

Ia merupakan dokumen penting untuk sejarah Kristen gnostik/Valentinian.


BAB XV

GOSPEL OF JUDAS

Gospel of Judas sangat terkenal karena membalik relasi Yesus–Yudas.

Dalam narasi kanonik:

Yudas = pengkhianat.

Dalam Gospel of Judas:

Yudas menerima pengetahuan khusus.

Oxford mencatat bahwa teks Koptik tersebut terdapat dalam Codex Tchacos, sebuah codex papirus abad IV, dan menggambarkan percakapan Jesus–Judas menjelang penyaliban; genre dan kosmologinya sangat berbeda dari Injil kanonik. (academic.oup.com)

Ada hal penting.

Irenaeus sekitar 180 M sudah menyebut sebuah:

Gospel of Judas.

Ini berarti nama karya tersebut sudah dikenal pada abad II, walaupun manuskrip yang bertahan jauh kemudian. (jstor.org)


BAB XVI

PROTOEVANGELIUM OF JAMES

Karya ini tidak menggambarkan seluruh pelayanan Yesus.

Fokus utama:

Maryam/Maria.

Ia menceritakan:

  • kelahiran Maria;

  • Joachim;

  • Anna;

  • masa kecil Maria;

  • Yusuf;

  • kelahiran Yesus.

Salah satu pengaruh terbesarnya adalah:

pengembangan tradisi tentang masa kecil Maria dan keluarga kudus.

Oxford menyebutnya sangat berpengaruh dan menilai bahwa penulisnya secara jelas menggunakan Matius dan Lukas serta menulis ulang materi mereka secara kreatif. (academic.oup.com)

Karena itu:

Protoevangelium ≠ Injil alternatif sezaman Yesus.

Ia lebih tepat disebut:

reworking abad II atas tradisi kelahiran dan Maria.


BAB XVII

INFANCY GOSPEL OF THOMAS

Perlu dibedakan tegas:

Gospel of Thomas

dan

Infancy Gospel of Thomas.

Keduanya bukan karya yang sama.

Infancy Gospel of Thomas berisi cerita mengenai Yesus:

  • usia lima tahun;

  • masa kanak-kanak;

  • sampai sekitar usia dua belas.

Ia menampilkan mukjizat yang kadang keras atau bahkan menghukum.

Oxford Bibliographies menyatakan bahwa banyak sarjana menempatkan komposisinya pada abad II, kemungkinan dalam bahasa Yunani di wilayah timur Kekaisaran Romawi; manuskrip tertua yang tersedia adalah Syriac dan Latin abad V–VI, sementara tradisinya berkembang dalam banyak bahasa. (academic.oup.com)

Teks ini sangat menarik karena:

mengisi kekosongan kanonik mengenai masa kecil Yesus.

Namun:

tidak ada alasan kuat menjadikannya biografi historis langsung.


BAB XVIII

GOSPEL OF HEBREWS, EBIONITES, DAN NAZARENES

Teks-teks ini jauh lebih sulit.

Kita tidak memiliki manuskrip lengkap.

Informasi diperoleh terutama melalui:

  • Origen;

  • Jerome;

  • Epiphanius;

  • Eusebius;

  • kutipan lainnya.

Maka studi terhadap mereka menjadi:

reconstruction from fragments.

Oxford mencatat bahwa sumber untuk James, misalnya, mencakup Gospel of Hebrews, Hegesippus, pseudo-Clementine texts, Protoevangelium, dan New Testament. Ini menggambarkan bagaimana karya yang hilang dapat tetap memberi pengaruh melalui kutipan dan kesaksian penulis lain. (academic.oup.com)


BAB XIX

APAKAH ADA “BANYAK INJIL” PADA ABAD II?

Ya.

Tetapi kita harus berhati-hati.

Tidak semua teks yang diberi nama “gospel”:

  • mempunyai bentuk yang sama;

  • berumur sama;

  • memiliki status yang sama;

  • digunakan oleh kelompok yang sama.

Literatur modern menekankan pluralitas besar bentuk dan penggunaan.

Sebagian dibaca sebagai:

  • koleksi perkataan;

  • wahyu;

  • narasi penderitaan;

  • narasi masa kanak-kanak;

  • teologi sakramental;

  • polemik.

Maka “ada banyak Injil” tidak berarti:

“Pada abad II ada 50 buku yang semuanya memiliki klaim historis setara tentang Yesus.”


BAB XX

GOSPEL OF TRUTH

Gospel of Truth merupakan karya Valentinian yang berkaitan dengan tradisi Nag Hammadi.

Ia bukan biografi Yesus.

Fokusnya:

teologi keselamatan, pengetahuan, Bapa, Logos, dan kesatuan.

Ini menunjukkan bahwa kata:

“gospel”

dapat digunakan secara jauh lebih fleksibel daripada definisi modern “biografi Yesus”.


BAB XXI

KANON: APAKAH DIPILIH PADA ABAD IV?

Teori populer:

“Konstantinus memilih empat Injil pada Konsili Nicea.”

Tidak terdapat bukti historis kuat untuk proposisi tersebut.

Keempat Injil sudah memiliki penerimaan luas jauh sebelum Nicea.

Misalnya:

  • Irenaeus pada abad II membahas empat Injil;

  • Tatian menyusun harmonisasi;

  • manuskrip awal menyandingkan Injil;

  • daftar kanonik berkembang bertahap.

Penelitian mengenai kombinasi Injil pada abad II menunjukkan bahwa Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sudah mulai “keep congenial company” secara relatif awal. (ora.ox.ac.uk)

Dengan demikian:

Kanon tidak diciptakan secara tiba-tiba pada abad IV.

Tetapi:

kanonisasi juga bukan proses sederhana yang selesai dalam satu hari.


BAB XXII

IRENAEUS DAN EMPAT INJIL

Sekitar 180 M, Irenaeus membela penggunaan empat Injil.

Hal ini sangat penting.

Pada abad II:

empat Injil sudah memperoleh posisi yang sangat kuat.

Namun keberadaan karya lain tidak hilang.

Mereka tetap dibaca dan diperdebatkan.


BAB XXIII

SERAPION DAN GOSPEL OF PETER

Kasus Serapion menarik karena menunjukkan:

tidak semua teks non-kanonik langsung dimusnahkan.

Serapion dilaporkan menemukan penggunaan Gospel of Peter di Rhossus dan menilai isinya secara kritis.

Ia tidak sekadar berkata:

“Buku ini tidak ada.”

Ia membaca, mengevaluasi, lalu menolak penggunaannya dalam bentuk tertentu.

Ini menunjukkan bahwa proses kanon:

seleksi intelektual dan gerejawi

bukan sekadar:

pemusnahan buku.


BAB XXIV

GOSPEL OF BARNABAS

24.1 Mengapa Sangat Penting dalam Diskursus Islam?

Karena ia mengandung sejumlah gagasan yang dekat dengan Islam:

  • Yesus bukan Allah;

  • Yesus bukan Anak Allah dalam pengertian Kristen;

  • Muhammad disebut;

  • penyaliban digambarkan berbeda;

  • Paulus mendapat kritik;

  • penghormatan kepada tauhid ditekankan.

Karena itu pada masa modern karya ini kadang digunakan sebagai:

“bukti bahwa Injil asli mengajarkan Islam.”

Namun pendekatan akademis harus mengujinya.


BAB XXV

MANUSKRIP BARNABAS

Yang diketahui:

Codex 2662, Vienna.

Katalog NASSCAL memberi:

  • bahasa: Italia;

  • catatan Arab;

  • tanggal manuskrip: 1500–1599;

  • 255 folio;

  • lokasi: Austrian National Library.

(nasscal.com)

Selain itu:

manuskrip Spanyol abad XVIII.

Cambridge dan Oxford mencatat dua saksi utama tersebut. (cambridge.org)


BAB XXVI

TANGGAL BARNABAS

Jan Joosten menyimpulkan:

teks Italia kemungkinan berasal dari abad XIV,

meskipun manuskrip fisiknya dari abad XVI. (academic.oup.com)

Ini sangat jauh dari:

Barnabas abad I.

Oxford Centre for Muslim-Christian Studies menambahkan bahwa penelitian modern menemukan sejumlah anachronisme dan ketidakakuratan geografis, dan memperkirakan latar yang mungkin pada era akhir milenium kedua. (cmcsoxford.org.uk)


BAB XXVII

BARNABAS DAN DIATESSARON

Joosten menunjukkan bahwa salah satu sumber Gospel of Barnabas tampaknya adalah suatu:

Italian Diatessaron

yang terkait dengan harmonisasi Injil Venesia/Toskana. (cambridge.org)

Ini penting.

Jika karya tersebut menggunakan tradisi harmonisasi abad pertengahan atau pascazaman kuno, maka ia tidak dapat menjadi saksi independen abad I.


BAB XXVIII

APAKAH BARNABAS MUNGKIN RASUL BARNABAS?

Secara historiografis:

sangat tidak mungkin berdasarkan bukti manuskrip yang tersedia.

Tidak terdapat:

  • manuskrip abad I;

  • kutipan jelas abad II;

  • katalog kuno yang mengidentifikasi teks ini;

  • bukti linguistik Palestina abad I.

Maka atribusi “Barnabas” lebih tepat dibaca sebagai:

pseudepigraphy atau atribusi tradisional.

Nama pengarang tidak sama dengan identitas historis pengarang.


BAB XXIX

APAKAH BARNABAS MEMILIKI NILAI SEJARAH?

Ya, tetapi bukan terutama sebagai sumber langsung tentang Yesus.

Ia berharga untuk meneliti:

  • Islam dan Kekristenan pada masa kemudian;

  • polemik anti-Trinitarian;

  • penerimaan Jesus dalam lingkungan Muslim;

  • pemanfaatan narasi Injil;

  • sejarah konversi;

  • relasi Kristen-Muslim;

  • produksi pseudepigraphic modern/late-medieval.

Dengan kata lain:

Barnabas adalah sumber sejarah tentang masa pembentukannya, bukan bukti utama kehidupan Yesus.


BAB XXX

“INJIL” DALAM AL-QUR’AN

Sekarang masuk ke problem utama.

Al-Qur’an menggunakan:

الإنجيل

al-Injīl.

Kata ini muncul berkaitan dengan Isa.

Q. 5:46:

وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ

wa-ātaynāhu al-injīla fīhi hudan wa-nūr

“Dan Kami memberikan kepadanya Injil; di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.”

Di sini Al-Qur’an jelas memandang Injil sebagai:

pemberian Allah kepada Isa.

Ini sangat berbeda dari cara Perjanjian Baru menggunakan:

εὐαγγέλιον.


BAB XXXI

Q. 3:48

Qur’an:

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ

“Dia mengajarkan kepadanya Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.”

Strukturnya sangat penting.

Injil:

diberikan kepada Isa.

Taurat:

sudah ada sebelumnya.

Maka model Qur’ani adalah:

Taurat → Isa → Injil → Muhammad/Qur’an.


BAB XXXII

Q. 5:47

Al-Qur’an berkata:

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ

“Hendaklah para pengikut Injil memutuskan menurut apa yang Allah turunkan di dalamnya.”

Ini menunjukkan:

  • Injil mempunyai isi;

  • Injil merupakan wahyu;

  • terdapat ahl al-Injīl;

  • isi Injil dikaitkan dengan Allah.

Tetapi pertanyaan belum terjawab:

apakah Injil ini sama dengan Matius-Markus-Lukas-Yohanes?

Qur’an tidak memberi daftar kitab.


BAB XXXIII

Q. 5:46 DAN RELASI DENGAN TAURAT

Ayat tersebut mengatakan:

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِم بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ

Isa:

membenarkan Taurat yang ada sebelumnya.

Kemudian:

وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ

“Dan Kami memberikan kepadanya Injil.”

Secara struktural:

Injil bukan identik dengan Taurat.

Ia merupakan wahyu yang diberikan kepada Isa.


BAB XXXIV

APAKAH “AL-INJIL” BERARTI EMPAT INJIL?

Secara filologis:

tidak ada bukti langsung bahwa Al-Qur’an bermaksud empat kitab terpisah bernama:

  • Matthew;

  • Mark;

  • Luke;

  • John.

Qur’an menggunakan bentuk singular:

الإنجيل

“the Gospel.”

Dalam tradisi Kristen, istilah “gospel” juga dapat digunakan secara singular untuk berita atau untuk genre.

Tetapi Al-Qur’an tidak menyebut empat nama tersebut.

Maka identifikasi:

Injil Qur’ani = seluruh Perjanjian Baru

tidak dapat dibuktikan hanya dari teks Qur’an.


BAB XXXV

TIGA HIPOTESIS TENTANG AL-INJIL

Hipotesis A

Injil Qur’ani = salah satu kitab Injil kanonik.

Masalah:

Tidak ada kesamaan nama atau satu kitab yang dinyatakan Qur’an sebagai Injil Isa.

Hipotesis B

Injil Qur’ani = sumber wahyu/original revelation kepada Isa yang tidak lagi bertahan sebagai kitab independen.

Ini lebih konsisten dengan struktur Qur’ani, tetapi secara sejarah sulit diverifikasi karena manuskrip tersebut tidak ditemukan.

Hipotesis C

Injil Qur’ani = tradisi pewahyuan tentang Yesus yang kemudian diwakili secara tidak sempurna dalam berbagai tradisi Kristen.

Hipotesis ini memungkinkan hubungan antara wahyu Isa dan tradisi gospel tanpa mengharuskan satu buku tertentu.

Tidak ada satu pun yang dapat dibuktikan secara arkeologis secara final.


BAB XXXVI

APAKAH ADA MANUSKRIP “INJIL ISA”?

Sampai bukti yang tersedia sekarang:

tidak ada.

Tidak diketahui manuskrip kuno yang dapat diidentifikasi sebagai:

“Injil yang ditulis atau didiktekan oleh Isa.”

Tidak ada pula fragmen papirus yang dapat diberi label ilmiah:

“Gospel according to Jesus.”

Ini adalah poin yang sangat penting.


BAB XXXVII

APAKAH YESUS MENULIS?

Sumber kanonik tidak menggambarkan Yesus sebagai penulis sebuah kitab.

Yesus lebih sering:

  • berbicara;

  • berkhotbah;

  • mengajar;

  • mengutip Kitab Suci;

  • berdialog.

Dalam Yohanes 8, Yohanes 1 dan Lukas, Yesus tampil sebagai pengajar.

Tetapi:

tidak ada buku yang disajikan sebagai tulisan tangannya.


BAB XXXVIII

YESUS MENULIS DI TANAH: APA ARTINYA?

Yohanes 8:6:

κατέγραφεν εἰς τὴν γῆν

“ia menulis di tanah.”

Namun:

  • isi tulisan tidak diberikan;

  • tidak menjadi sebuah kitab;

  • tidak ada tradisi yang menghubungkan tulisan tersebut dengan Injil.

Karena itu episode ini tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa Yesus menulis sebuah Injil.


BAB XXXIX

APAKAH INJIL ADALAH KATA-KATA YESUS?

Ini pertanyaan yang lebih produktif.

Keempat Injil tidak mengklaim:

“seluruh teks ini ditulis Yesus.”

Sebaliknya, mereka merupakan karya:

komunitas dan evangelis

yang mengisahkan:

perkataan + tindakan + kematian + kebangkitan Yesus.

Karena itu “Injil” bukan:

notebook pribadi Yesus.


BAB XL

MUNGKINKAH ADA DOKUMEN SUMBER YESUS YANG HILANG?

Ya, mungkin.

Ada hipotesis mengenai:

  • Q;

  • koleksi perkataan;

  • sumber mukjizat;

  • passion narrative;

  • kumpulan tanda.

Namun “mungkin” tidak berarti:

sudah ditemukan.

Sumber hipotetis adalah:

rekonstruksi ilmiah.


BAB XLI

LOGIA: TRADISI PERKATAAN YESUS

Papias, sebagaimana disimpan oleh Eusebius, berbicara tentang:

λόγια

logia

perkataan/orakel.

Perdebatan panjang:

Apakah logia berarti:

  • sayings;

  • oracles;

  • narasi;

atau kombinasi?

Bagaimanapun, tradisi kuno menunjukkan bahwa komunitas awal menyimpan:

perkataan Yesus.

Dengan demikian mungkin saja tradisi verbal mendahului Injil naratif.


BAB XLII

GOSPEL OF THOMAS DAN “INJIL PERKATAAN”

Thomas menunjukkan bagaimana sebuah karya bisa berfokus hampir seluruhnya pada:

ucapan Yesus.

Ini penting bagi pertanyaan:

“Apakah ada bentuk ‘Injil’ yang bukan biografi?”

Jawabannya:

ya.

Dan ini menjelaskan mengapa istilah Gospel dalam Kekristenan awal tidak selalu berarti empat narasi kanonik.


BAB XLIII

APAKAH THOMAS BISA MERUPAKAN “INJIL YESUS”?

Tidak dalam arti ketat.

Alasannya:

  • teks tidak ditulis oleh Yesus;

  • bahasa yang bertahan Koptik;

  • manuskrip utama abad IV;

  • kompilasi tradisi lebih kemudian;

  • atribusi kepada Thomas adalah tradisi.

Namun sebagian ucapan mungkin:

sangat tua.

Maka Thomas dapat berguna sebagai:

saksi tradisi perkataan Yesus

bukan:

autograf Yesus.


BAB XLIV

GOSPEL OF EGERTON 2

Papyrus Egerton 2 berisi fragmentari cerita tentang Yesus.

Menarik karena:

  • memiliki kemiripan dengan Yohanes;

  • juga memiliki unsur yang tidak paralel secara langsung.

Oxford Handbook menyebutnya sebagai “unknown Gospel” yang menunjukkan gema Yohanes pada abad II. (academic.oup.com)

Ini merupakan bukti penting bahwa:

tradisi Injil abad II lebih beragam daripada empat kitab kanonik.


BAB XLV

HARMONI DIATESSARON

Tatian pada abad II menyusun:

Diatessaron

sebuah harmonisasi empat Injil.

Ini menunjukkan bahwa:

  • empat Injil sudah beredar;

  • tradisi kanonik sudah cukup kuat;

  • tetapi pembaca merasa perlu menyatukan semuanya.

Diatessaron kemudian berpengaruh besar di wilayah Syriac.


BAB XLVI

KESIMPULAN TENTANG BANYAKNYA INJIL

Pernyataan:

“Dulu ada banyak Injil.”

Benar.

Tetapi:

“Semua Injil dulu setara.”

Tidak terbukti.

Sejak abad II sudah ada:

  • preferensi;

  • kritik;

  • kanonisasi;

  • pembacaan;

  • harmonisasi;

  • penolakan;

  • klasifikasi heretik;

  • dan penerimaan.


BAB XLVII

APAKAH GOSPEL OF THOMAS “TERSEMBUNYI DARI GEREJA”?

Tidak perlu menggunakan model konspiratif.

Ia tidak benar-benar hilang tanpa jejak.

Sumber patristik menunjukkan pengetahuan terhadap berbagai karya non-kanonik.

Masalahnya lebih sederhana:

tradisi tersebut tidak menjadi bagian dari kanon empat Injil.


BAB XLVIII

APAKAH APOKRIF ADALAH “INJIL YANG DILARANG”?

Istilah itu terlalu simplistik.

Nasib teks berbeda-beda:

  • sebagian dianggap berguna;

  • sebagian tidak dibaca;

  • sebagian dinilai heretik;

  • sebagian hilang;

  • sebagian diterjemahkan;

  • sebagian disalin;

  • sebagian hanya disebut oleh lawan-lawannya.

Oxford Handbook menekankan bahwa membaca teks apokrif harus dilakukan dengan memperhatikan bukti fisik manuskrip dan tidak mengasumsikan setiap teks merupakan “kitab suci” komunitas tertentu. (academic.oup.com)


BAB XLIX

APAKAH ADA “VERSI JESUS” YANG BERBEDA?

Ya.

Ada Jesus:

  • Markus;

  • Matius;

  • Lukas;

  • Yohanes;

  • Thomas;

  • Peter;

  • Mary;

  • Judas;

  • Philip;

  • apokrif lainnya;

  • Qur’an;

  • Barnabas.

Tetapi “berbeda” tidak berarti semuanya sama-sama dekat dengan Yesus historis.

Semakin penting:

“Mengapa mereka berbeda?”

Jawabannya bisa:

  • perbedaan tradisi;

  • perkembangan teologi;

  • konflik komunitas;

  • reinterpretasi;

  • kebutuhan liturgi;

  • perluasan narasi;

  • perkembangan kristologi.


BAB L

YESUS DALAM MARKUS

Yesus:

  • Mesias;

  • Anak Allah;

  • Anak Manusia;

  • penyembuh;

  • pengkhotbah;

  • tokoh apokaliptik;

  • penderita.

Salib sangat dominan.


BAB LI

YESUS DALAM MATIUS

Yesus:

  • Musa baru;

  • Guru Taurat;

  • Mesias;

  • Anak Daud;

  • Raja;

  • Immanuel.


BAB LII

YESUS DALAM LUKAS

Yesus:

  • nabi seperti tokoh Israel;

  • pembawa keselamatan universal;

  • peduli miskin;

  • penuh Roh;

  • menghadirkan keselamatan kepada bangsa lain.


BAB LIII

YESUS DALAM YOHANES

Yesus:

  • Logos;

  • Anak;

  • satu dengan Bapa;

  • “Aku adalah”;

  • pemberi hidup;

  • sumber Roh.

Ini merupakan perkembangan kristologis yang sangat tinggi.


BAB LIV

YESUS DALAM THOMAS

Yesus terutama:

guru kebijaksanaan dan pewahyu.

Ia mengarahkan pembaca kepada:

  • mengetahui;

  • menemukan;

  • memahami;

  • mengenal diri;

  • Kerajaan.


BAB LV

YESUS DALAM PETER

Yesus lebih terkait dengan:

  • penderitaan;

  • passion;

  • kebangkitan;

  • penghakiman.


BAB LVI

YESUS DALAM MARY

Yesus:

pewahyu pascakebangkitan.

Maria menjadi penerima wahyu.


BAB LVII

YESUS DALAM JUDAS

Yesus:

pembawa pengetahuan kosmik.

Yudas:

murid yang memahami sesuatu yang tidak dipahami sebelas murid lainnya.


BAB LVIII

YESUS DALAM PHILIP

Yesus:

figur sakramental dan mistik.

Bahasa:

  • bridal chamber;

  • gnosis;

  • sacrament;

  • unity.


BAB LIX

YESUS DALAM BARNABAS

Yesus:

  • nabi;

  • manusia;

  • bukan Allah;

  • menubuatkan kedatangan Muhammad menurut teks tersebut.

Namun karena kronologi teks sangat terlambat, ia tidak dapat dijadikan bukti primer mengenai Yesus abad I.


BAB LX

YESUS DALAM AL-QUR’AN

Yesus:

ʿĪsā ibn Maryam.

Ia:

  • nabi;

  • rasul;

  • Mesias;

  • kalimat Allah;

  • ruh dari-Nya;

  • hamba Allah;

  • pembawa Injil;

  • pembuat mukjizat dengan izin Allah.

Qur’an secara eksplisit menolak:

  • keilahian;

  • trinitas;

  • “Anak Allah” dalam pengertian teologis Kristen.


BAB LXI

APAKAH AL-QUR’AN MENGKONFIRMASI INJIL KANONIK?

Jawaban akademis:

tidak secara sederhana.

Qur’an mengatakan bahwa:

  • Allah memberikan Injil kepada Isa;

  • Injil memiliki petunjuk dan cahaya;

  • orang-orang Injil harus berhukum berdasarkan wahyu Allah;

  • ada relasi antara Qur’an dan kitab sebelumnya.

Tetapi Qur’an tidak berkata:

“Matius, Markus, Lukas dan Yohanes adalah empat kitab Injil yang diberikan kepada Isa.”

Maka identifikasi tersebut merupakan:

interpretasi kemudian, bukan pernyataan langsung Qur’an.


BAB LXII

APAKAH QUr’AN MENGENAL TRADISI KRISTEN?

Ya.

Qur’an muncul dalam lingkungan Late Antiquity yang berinteraksi dengan:

  • Yahudi;

  • Kristen;

  • Arab politeis;

  • tradisi monoteis dan apokaliptik.

Oxford Handbook of Qur’anic Studies secara eksplisit membahas relasi Qur’an dengan Christianity sebagai bagian penting dari konteks Qur’ani. (academic.oup.com)

Namun:

mengenal tradisi Kristen ≠ menerima semua kanon Kristen.


BAB LXIII

APAKAH “INJIL QUR’ANI” ADALAH GOSPEL BARNABAS?

Secara historis:

tidak ada dasar kuat.

Alasannya:

  1. Barnabas yang sekarang diketahui sangat terlambat.

  2. Manuskrip Italia abad XVI.

  3. Teks kemungkinan abad XIV.

  4. Tidak ada bukti abad VII.

  5. Tidak ada saksi Arab kuno yang menghubungkan al-Injīl dengan Barnabas.

  6. Teks memiliki ketergantungan pada tradisi gospel kemudian.

Dengan demikian:

Barnabas tidak dapat digunakan sebagai kandidat historis yang kuat untuk Injil Qur’ani.


BAB LXIV

APAKAH “INJIL QUR’ANI” ADALAH GOSPEL THOMAS?

Juga tidak dapat dibuktikan.

Alasannya:

  • Thomas berisi 114 sayings;

  • manuskrip utama Koptik abad IV;

  • komposisi diperdebatkan;

  • konsep teologinya sangat berbeda;

  • tidak ada tradisi Islam awal yang berkata:

    “Injil Qur’ani = Gospel of Thomas.”

Thomas dapat menunjukkan:

keragaman tradisi Yesus sebelum Islam.

Tetapi tidak dapat diidentifikasi sebagai:

Injil Isa menurut Qur’an.


BAB LXV

APAKAH ADA “INJIL QUR’ANI” DALAM BENTUK MANUSKRIP?

Jika yang dimaksud:

sebuah manuskrip kuno yang dapat ditunjukkan sebagai kitab al-Injīl yang diberikan kepada Isa,

maka:

belum ditemukan.

Kita tidak mempunyai:

  • codex;

  • papirus;

  • parchment;

  • fragmen;

  • atau kutipan kuno

yang dapat diidentifikasi secara aman sebagai:

“al-Injīl menurut Isa.”


BAB LXVI

APAKAH INJIL ISA MUNGKIN HILANG?

Secara logika sejarah:

mungkin.

Banyak karya kuno hilang.

Contoh:

  • Gospel of Hebrews;

  • Gospel of Egyptians;

  • berbagai sayings collections;

  • beberapa apocrypha.

Jadi ketiadaan manuskrip:

tidak membuktikan bahwa karya tersebut tidak pernah ada.

Tetapi:

kemungkinan adanya bukan bukti keberadaan.

Ini harus ditegaskan.


BAB LXVII

BUKTI APA YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENYEBUT SEBUAH KARYA “INJIL ISA”?

Setidaknya dibutuhkan:

1. Manuskrip awal

Idealnya abad I atau II.

2. Atribusi kuno

Penulis awal menyebut:

“ini Injil yang diterima dari Isa.”

3. Bahasa/konteks

Sesuai dengan lingkungan Palestina abad I.

4. Tradisi independen

Bukan sekadar menyalin Injil yang sudah ada.

5. Konsistensi historis

Tidak mengandung banyak anachronisme.

Tidak ada karya yang sekarang diketahui memenuhi seluruh kriteria tersebut.


BAB LXVIII

“Q” BUKAN INJIL ISA

Sering terjadi kekeliruan:

Q = Injil asli Yesus.

Tidak.

Q adalah hipotesis modern mengenai sumber bersama Matius-Lukas.

Tidak ada manuskrip Q.

Tidak ada nama “Q” dalam sumber kuno.

Dan tidak ada bukti Q diberikan kepada Isa.


BAB LXIX

“GOSPEL OF THOMAS” BUKAN AUTOGRAF THOMAS

Atribusi “Thomas” bukan bukti kepengarangan apostolik.

Banyak karya kuno memakai:

  • Peter;

  • Thomas;

  • Judas;

  • Mary;

  • Philip.

Ini disebut:

pseudepigraphy.

Nama tokoh memberikan otoritas pada teks.


BAB LXX

“GOSPEL OF BARNABAS” BUKAN AUTOGRAF BARNABAS

Masalahnya lebih kuat lagi karena manuskripnya terlambat.

Secara akademis:

Barnabas harus ditempatkan sebagai teks kemudian.

Tidak ada dasar metodologis menjadikannya sumber abad I yang independen.


BAB LXXI

APAKAH GOSPEL CANONIK ADALAH “INJIL YESUS”?

Jika “Injil Yesus” berarti:

kitab yang ditulis Yesus,

tidak.

Jika berarti:

kitab yang berisi tradisi mengenai Yesus,

ya, dalam arti luas.

Jika berarti:

wahyu yang diberikan kepada Isa menurut Islam,

tidak dapat diidentifikasi secara langsung dengan salah satu dari empat Injil melalui bukti historis yang tersedia.


BAB LXXII

EMPAT MODEL UNTUK “INJIL YESUS”

Model 1 — Autograf

Yesus menulis kitab.

Tidak ada bukti.

Model 2 — Wahyu lisan

Allah memberikan pesan kepada Isa yang kemudian tidak bertahan sebagai satu kitab.

Mungkin secara teologis, tidak dapat diverifikasi secara manuskrip.

Model 3 — Tradisi apostolik

Ajaran Yesus diteruskan oleh murid.

Didukung secara umum oleh sifat tradisi Kristen awal.

Model 4 — Gospel literer

Matius/Markus/Lukas/Yohanes mengabadikan tradisi Yesus.

Didukung oleh data manuskrip dan sejarah komposisi.

Model 2 dan 3 tidak harus saling bertentangan secara teologis, tetapi hanya Model 3/4 yang memiliki jejak dokumenter historis yang lebih nyata.


BAB LXXIII

PERTANYAAN BESAR: APAKAH YESUS MEMBAWA “KITAB”?

Dalam sumber Kristen awal:

Yesus membaca:

Kitab Suci Israel.

Ia mengajar dari:

Torah, Nabi-nabi, Mazmur.

Tetapi ia tidak diperkenalkan sebagai seseorang yang membawa sebuah codex bernama:

Injil.

Dalam Qur’an:

Yesus diberikan:

al-Injīl.

Maka dua tradisi memiliki:

model pewahyuan berbeda.


BAB LXXIV

PERBEDAAN EPISTEMOLOGIS

Kekristenan

Sumber utama mengenai Yesus:

tradisi apostolik + Injil + surat + gereja awal.

Islam

Sumber utama mengenai Isa:

Al-Qur’an + Hadis + tafsir + tradisi kemudian.

Karena itu:

“Injil” dalam Islam

tidak dapat dianalisis hanya menggunakan:

kritik teks Perjanjian Baru.

Ia harus dipahami sebagai kategori Qur’ani.


BAB LXXV

APAKAH INJIL KANONIK MENYATAKAN DIRI DITURUNKAN KEPADA YESUS?

Tidak.

Tidak satu pun dari:

  • Matius;

  • Markus;

  • Lukas;

  • Yohanes

membuka dengan:

“Allah menurunkan Injil ini kepada Yesus.”

Mereka adalah narasi mengenai Yesus.

Ini merupakan perbedaan fundamental antara:

Gospel Christian

dan:

al-Injīl Qur’anic.


BAB LXXVI

GOSPEL SEBAGAI “BERITA”, BUKAN BUKU

Secara historis, “gospel” terlebih dahulu merupakan:

message

baru kemudian:

book containing the message.

Karena itu ketika Qur’an berbicara tentang:

al-Injīl

dimungkinkan bahwa konsep tersebut tidak identik dengan “buku bernama Injil” menurut pengertian katalog modern.

Yang utama adalah:

wahyu / berita ilahi yang terkait dengan Isa.


BAB LXXVII

APAKAH GOSPEL CANONIK MEMILIKI HUBUNGAN DENGAN “INJIL” QUR’ANI?

Kita dapat membangun beberapa kemungkinan.

Kemungkinan 1

Tradisi Kristen menyimpan sebagian materi yang oleh Islam disebut Injil.

Kemungkinan 2

Injil Qur’ani merupakan wahyu yang berbeda dari empat narasi.

Kemungkinan 3

Qur’an menggunakan al-Injīl sebagai kategori tradisi wahyu Kristen yang dikenal dalam lingkungan Late Antiquity, tidak sedang menunjuk satu kodex tertentu.

Tidak satu pun dapat dibuktikan secara final hanya dengan manuskrip yang tersedia.


BAB LXXVIII

MASALAH TAHUN

Jika Isa hidup pada abad I,

sedangkan Qur’an muncul abad VII,

maka:

jarak kronologis sekitar enam abad.

Ini tidak membuat Qur’an “tidak valid” sebagai teks keagamaan.

Tetapi untuk historiografi:

“Qur’an bukan saksi langsung abad I.”

Sama seperti:

“Tacitus bukan saksi langsung setiap peristiwa yang ia tulis.”

Sumber harus diuji berdasarkan fungsi dan transmisinya.


BAB LXXIX

APAKAH TRADISI INJIL DALAM QUR’AN KUNO?

Ya, dalam arti:

Qur’an sendiri adalah dokumen abad VII.

Tetapi objek yang disebut:

al-Injīl

direpresentasikan sebagai sesuatu yang lebih tua.

Jadi ada perbedaan:

tanggal Qur’an

dan

tanggal wahyu Injil menurut Qur’an.


BAB LXXX

APAKAH INJIL QUR’ANI IDENTIK DENGAN “GOSPEL” KRISTEN?

Tidak dapat dinyatakan tanpa kualifikasi.

Kesamaan:

  • berkaitan dengan Isa/Jesus;

  • petunjuk;

  • wahyu;

  • pengajaran;

  • komunitas pengikut.

Perbedaan:

  • Qur’an memandang Injil sebagai wahyu Allah kepada Isa;

  • Injil Kristen adalah karya literer mengenai Yesus;

  • Qur’an tidak menyebut empat evangelis;

  • empat Injil berkembang melalui komunitas pasca-Yesus.


BAB LXXXI

STATUS HISTORIS EMPAT EVANGELIS

Keempat karya kanonik sebenarnya bersifat:

secara tekstual anonim.

Nama:

  • Matthew;

  • Mark;

  • Luke;

  • John

berasal dari atribusi tradisional manuskrip dan gereja.

Ini tidak berarti tradisi tersebut pasti salah.

Tetapi secara akademis:

atribusi tradisional ≠ tanda tangan pengarang dalam teks.


BAB LXXXII

MENGAPA KANON MENERIMA EMPAT?

Salah satu jawaban sejarah:

Karena empat karya tersebut:

  • sangat awal;

  • digunakan secara luas;

  • terhubung dengan tradisi apostolik;

  • sesuai dengan kristologi gereja yang berkembang;

  • diterima lintas wilayah.

Tetapi prosesnya tidak linear.

Ada:

  • variasi penerimaan;

  • perdebatan;

  • teks yang diperdebatkan;

  • perbedaan lokal.


BAB LXXXIII

KANON DAN OTORITAS

Otoritas sebuah teks dapat berasal dari:

usia

apostolicity

penggunaan liturgis

kesesuaian doktrinal

penerimaan komunitas

penyebaran geografis.

Karena itu:

“teks tertua”

tidak selalu sama dengan:

“teks paling berotoritas.”


BAB LXXXIV

PERSOALAN GOSPEL OF THOMAS DALAM KANON

Thomas menunjukkan bahwa:

usia bukan satu-satunya kriteria.

Jika Thomas memiliki tradisi yang mungkin tua, itu tidak otomatis menjadikannya kanonik.

Sebaliknya, status kanonik tidak berarti seluruh tradisinya berasal dari kata-kata Yesus.


BAB LXXXV

PERSOALAN GOSPEL OF BARNABAS

Barnabas menunjukkan contoh kebalikan:

teologi dekat dengan Islam ≠ usia tua.

Sebuah karya dapat:

  • sangat dekat dengan pandangan Muslim modern;

  • tetapi secara sejarah sangat terlambat.

Jadi hubungan doktrinal tidak membuktikan usia.


BAB LXXXVI

PERSOALAN “INJIL ASLI” DALAM PERDEBATAN POPULER

Istilah:

“Injil asli”

sering ambigu.

Ia dapat berarti:

  1. autograf Injil kanonik;

  2. tradisi Yesus paling awal;

  3. Injil yang disampaikan Yesus;

  4. al-Injīl Qur’ani;

  5. teks Kristen sebelum konsili;

  6. dokumen yang belum ditemukan.

Tanpa definisi, perdebatan menjadi kacau.


BAB LXXXVII

APAKAH “ORIGINAL GOSPEL” BERARTI MARKUS?

Jika “original gospel” berarti:

Injil kanonik tertua

maka Markus kandidat utama.

Namun:

Markus bukan “Injil yang ditulis Yesus.”

Ia adalah:

karya evangelis awal.


BAB LXXXVIII

APAKAH “ORIGINAL GOSPEL” BERARTI THOMAS?

Thomas mungkin menyimpan tradisi tua.

Tetapi:

  • tanggal komposisi diperdebatkan;

  • struktur final lebih kemudian;

  • sebagian materi mungkin berkembang;

  • atribut Thomas tidak membuktikan apostolic authorship.

Maka:

tidak cukup untuk menyebutnya Injil asli Yesus.


BAB LXXXIX

APAKAH BARNABAS ADALAH “INJIL ASLI”?

Berdasarkan bukti saat ini:

tidak.

Bukti manuskrip dan linguistik terlalu terlambat.

Kajian Joosten menempatkan teks Italia pada abad XIV, sedangkan manuskrip yang bertahan baru abad XVI. (academic.oup.com)


BAB XC

APAKAH INJIL ISA HILANG?

Secara teologis:

mungkin.

Secara historis:

tidak dapat dibuktikan.

Tidak boleh mengubah:

“tidak ditemukan”

menjadi:

“pasti pernah ada.”

Tetapi juga tidak boleh mengubah:

“tidak ditemukan”

menjadi:

“pasti tidak pernah ada.”


BAB XCI

ARGUMENTASI DARI KEHILANGAN TEKS

Sejarah kuno penuh dengan karya yang hilang.

Kita mengetahui beberapa karya:

  • karena kutipan;

  • karena judul;

  • karena polemik;

  • karena daftar buku.

Karena itu jika suatu Injil Isa hilang, secara prinsip:

mungkin saja ia meninggalkan jejak tidak langsung.

Pertanyaannya adalah:

apakah jejak semacam itu ada?

Sampai sekarang:

belum ada jejak yang dapat diidentifikasi secara meyakinkan sebagai Injil Isa Qur’ani.


BAB XCII

APAKAH LOGIA YESUS MERUPAKAN JEJAKNYA?

Mungkin dalam arti luas.

Tradisi:

  • Markus;

  • Q;

  • Thomas;

  • sumber lisan;

  • tradisi passion;

mungkin menyimpan berbagai lapisan perkataan Yesus.

Tetapi tidak satu pun dapat diberi label:

“al-Injīl yang diturunkan kepada Isa.”


BAB XCIII

KRITIK TERHADAP PANDANGAN KRISTEN

Pandangan:

“Karena gereja menerima empat Injil, maka semua teks lain pasti palsu.”

terlalu sederhana.

Teks non-kanonik:

  • dapat tua;

  • dapat memberikan data mengenai perkembangan Kekristenan;

  • dapat mengandung tradisi independen;

  • dapat menunjukkan bagaimana Yesus dipahami.

Karena itu:

non-kanonik ≠ tidak berguna.


BAB XCIV

KRITIK TERHADAP PANDANGAN ISLAM POPULER

Pernyataan:

“Gospel of Barnabas adalah Injil asli yang diselewengkan Gereja.”

tidak didukung bukti manuskrip yang tersedia.

Masalah utama:

  • manuskrip terlambat;

  • bahasa Italia;

  • pengaruh Diatessaron;

  • anachronisme;

  • ketiadaan saksi kuno.

Ini tidak berarti teologi Barnabas tidak menarik.

Tetapi:

menarik ≠ autentik.


BAB XCV

KRITIK TERHADAP SKEPTISISME RADIKAL

Pernyataan:

“Semua Injil dibuat berabad-abad setelah Yesus.”

juga tidak dapat dipertahankan.

Markus secara umum ditempatkan sekitar pertengahan abad I atau segera setelah 70 M; keempat Injil kanonik secara keseluruhan merupakan literatur abad I. (academic.oup.com)

Jadi klaim bahwa tradisi Injil baru muncul setelah abad II bertentangan dengan bukti.


BAB XCVI

APAKAH GOSPEL MENYIMPAN SEJARAH?

Ya, kemungkinan besar.

Tetapi:

sejarah + interpretasi

bukan:

rekaman stenografis.

Semua Injil memilih:

  • episode;

  • urutan;

  • dialog;

  • penekanan;

  • simbol.

Maka penelitian sejarah harus memisahkan:

event

dan

narrativization of event.


BAB XCVII

APAKAH PERKATAAN YESUS DAPAT DIREKONSTRUKSI?

Sampai batas tertentu.

Metode mencakup:

  • multiple attestation;

  • embarrassment;

  • contextual credibility;

  • linguistic plausibility;

  • coherence;

  • dissimilarity, dengan segala keterbatasannya.

Namun tidak ada metode yang memberikan kepastian 100%.


BAB XCVIII

THOMAS DALAM REKONSTRUKSI YESUS

Thomas sangat penting karena menyediakan:

tradisi non-kanonik awal-ish.

Tetapi harus dipilah:

tradisi yang mungkin tua

dari:

redaksi Thomas kemudian.

Oxford menegaskan bahwa kontribusi Thomas terhadap studi Yesus historis harus dilakukan dengan analisis kritis karena persoalan tanggal, teologi, dan sumbernya belum selesai. (academic.oup.com)


BAB XCIX

YESUS DALAM SUMBER NON-KANONIK: APAKAH LEBIH “ISLAM”?

Tidak secara sederhana.

Beberapa teks non-kanonik:

  • mengurangi salib;

  • menolak pencipta dunia sebagai Allah tertinggi;

  • menekankan spiritualitas;

  • menonjolkan gnosis.

Tetapi itu bukan otomatis:

Islam.

Perbedaan dengan Kristen Nicea tidak berarti identik dengan tauhid Islam.

Misalnya Gnostisisme dapat mempunyai:

  • dualisme kosmik;

  • demiurge;

  • aeons;

  • salvation through gnosis.

Ini sangat berbeda dari monoteisme Qur’ani.


BAB C

APAKAH ADA “INJIL MONOTEISTIK MURNI” YANG SAMA DENGAN AL-QUR’AN?

Tidak ada yang diketahui secara historis.

Gospel of Hebrews, Ebionites dan berbagai gospel Jewish-Christian memang dapat mempunyai kristologi berbeda dari Gereja Besar.

Tetapi kita hanya memiliki fragmen dan laporan sekunder.

Tidak cukup untuk mengatakan:

“inilah Injil Islam sebelum Islam.”


BAB CI

JEWISH-CHRISTIAN GOSPELS

Teks seperti Gospel of Hebrews, Ebionites, dan Nazarenes sangat penting karena menunjukkan:

pluralitas Kekristenan Yahudi awal.

Namun fragmen mereka terbatas.

Kita tidak memiliki satu “Injil Ebionit” lengkap.

Karena itu rekonstruksi harus hati-hati.

Oxford mencatat bahwa tradisi-tradisi gospel Jewish-Christian memiliki sejarah yang kompleks dan sebagian hanya dapat ditangkap melalui kesaksian penulis kemudian. (academic.oup.com)


BAB CII

APAKAH JEWISH-CHRISTIAN GOSPELS DEKAT DENGAN QUR’AN?

Ada beberapa kemungkinan titik temu:

  • monoteisme;

  • kritik terhadap Paulus;

  • hubungan khusus dengan Taurat;

  • Yesus sebagai manusia/Mesias dalam beberapa komunitas.

Tetapi:

kemiripan teologis tidak membuktikan hubungan langsung.

Hubungan:

Jewish-Christian → Qur’an

merupakan hipotesis yang harus dibuktikan melalui:

  • bahasa;

  • kronologi;

  • rute transmisi;

  • kesamaan unik;

  • bukan hanya kemiripan umum.


BAB CIII

QUR’AN DAN TRADISI KRISTEN

Studi modern menunjukkan bahwa Qur’an berinteraksi dengan lingkungan Kristen yang beragam.

Itu dapat mencakup:

  • teks;

  • liturgi;

  • tradisi lisan;

  • homili;

  • apokrif;

  • teologi populer.

Tetapi menentukan:

“Qur’an mengambil ayat dari Gospel X”

memerlukan bukti khusus.

Kesamaan ide saja tidak cukup.


BAB CIV

INJIL, KANON, DAN SEJARAH

Dapat dirumuskan:

abad I

→ tradisi Yesus
→ Paulus
→ Markus
→ Matius/Lukas
→ Yohanes.

abad II

→ empat Injil makin kuat
→ Thomas
→ Peter
→ berbagai gospel
→ harmonisasi.

abad III

→ perluasan tradisi
→ papirus
→ polemik
→ kodifikasi.

abad IV

→ Codex Sinaiticus
→ Codex Vaticanus
→ kanon semakin mapan.

abad V dan seterusnya

→ kanon Kristen stabil
→ apokrif terus hidup dalam tradisi tertentu.


BAB CV

TABEL KOMPARATIF UTAMA

KaryaPerkiraan komposisiManuskrip utamaGenreHubungan dengan YesusStatus
Markuspertengahan 60-an / sekitar 70 Mberbagai papirus kemudiannaratiftradisi Yesus awalkanonik
Matiusakhir abad Iberbagai manuskripnaratif + ajarantradisi Markus + lainnyakanonik
Lukasakhir abad Iberbagai manuskripnaratiftradisi Markus + lainnyakanonik
Yohanesakhir abad IP52, P66, P75, kodeksnaratif-teologistradisi khas + tradisi lainkanonik
Thomaskemungkinan abad II; tradisi diperdebatkanP.Oxy + Nag Hammadisayingsucapan Yesusnon-kanonik
Peterabad IIAkhmîm + P.Oxypassion gospelnarasi sengsaranon-kanonik
Maryabad IIBerlin + P.Oxy + P.Ryl.dialog/wahyuMaria sebagai penerima wahyunon-kanonik
Judasabad II; Koptik codex IVCodex Tchacosdialog kosmologisYesus–Yudasnon-kanonik
Philipakhir II/awal IIINag Hammadisayings/sakramentalteologi Yesusnon-kanonik
Protoevangelium Jamesabad IIbanyak versiinfancy/Mariakelahiran dan Marianon-kanonik
Infancy Thomasabad IImanuskrip Syriac/Latin kemudianchildhood storiesmasa kecil Yesusnon-kanonik
Barnabaskemungkinan abad XIVItalia XVI + Spanyol XVIIInaratif polemisYesus menurut perspektif kemudiannon-kanonik
al-Injīl Qur’aniwahyu menurut Qur’antidak ada manuskrip teridentifikasi independenkategori wahyuIsakategori Qur’ani

Tanggal-tanggal untuk karya non-kanonik tersebut harus dipahami sebagai rentang dan hipotesis, bukan kalender absolut; khusus Thomas dan beberapa teks apokrif, perdebatan akademis masih terbuka. (academic.oup.com)


BAB CVI

KLASIFIKASI BERDASARKAN KEDEKATAN KRONOLOGIS

Sangat dekat dengan abad I

Markus, Matius, Lukas, Yohanes.

Abad II

Thomas, Peter, Mary, Judas, Protoevangelium, Philip.

Abad III–IV sebagai bentuk manuskrip tetapi komposisi lebih tua

Sebagian teks apokrif.

Abad XIV–XVI

Barnabas.

Abad VII sebagai sumber Islam

Al-Qur’an mengenai al-Injīl.


BAB CVII

APA YANG LEBIH DEKAT DENGAN YESUS HISTORIS?

Tidak dapat dibuat hanya berdasarkan:

judul.

Yang harus dihitung:

  • tanggal;

  • sumber;

  • independensi;

  • bahasa;

  • konteks;

  • hubungan literer;

  • bentuk manuskrip.

Secara umum:

Markus memiliki keunggulan kronologis di antara empat Injil.

Thomas penting karena mungkin mempertahankan beberapa tradisi non-Sinoptik, tetapi tanggal dan ketergantungannya diperdebatkan.

Barnabas terlalu terlambat untuk menjadi saksi utama abad I.


BAB CVIII

APAKAH INJIL KANONIK PASTI PALING HISTORIS?

Tidak otomatis.

Kanonisitas:

kategori gerejawi.

Historisitas:

kategori historiografis.

Keduanya harus dikaji terpisah.

Namun kanonik Gospels memiliki:

  • saksi awal;

  • tradisi patristik;

  • kontinuitas penggunaan;

  • jaringan manuskrip luas.

Ini membuatnya menjadi sumber utama, bukan karena sekadar kanonik, tetapi karena:

kedekatan kronologis + kelimpahan kesaksian + penerimaan awal.


BAB CIX

APAKAH APOKRIF PASTI KURANG HISTORIS?

Tidak otomatis.

Beberapa tradisi apokrif mungkin menyimpan materi tua.

Contohnya:

Thomas.

Namun:

setiap perikop harus diuji secara individual.

Tidak boleh berkata:

“Thomas apokrif, maka semua salah.”

Demikian pula:

“Thomas non-kanonik, maka semua perkataannya asli.”

Keduanya tidak ilmiah.


BAB CX

APAKAH BARNABAS ADALAH KASUS BERBEDA?

Ya.

Barnabas memiliki problem historis yang jauh lebih kuat:

manuskrip terlambat.

bahasa Italia.

anachronisme.

ketergantungan pada Diatessaron.

Karena itu, secara historis ia jauh lebih lemah sebagai saksi abad I dibanding Thomas atau gospel-gospel abad II.


BAB CXI

APAKAH AL-QUR’AN “MENGGANTIKAN” INJIL?

Secara teologis Islam:

Qur’an datang sebagai:

muṣaddiq

yang membenarkan kitab sebelumnya,

dan dalam banyak tafsir sebagai:

muhaymin

yang mengawasi/mengkonfirmasi/menguji.

Namun ini merupakan konstruksi teologis Islam.

Dalam sejarah:

Qur’an tidak dapat dianggap sebagai edisi kritis Injil.

Ia adalah:

dokumen wahyu Islam dengan narasi dan teologi sendiri.


BAB CXII

APAKAH AL-QUR’AN MENYALIN SALAH SATU INJIL?

Pernyataan demikian memerlukan bukti spesifik.

Karena:

  • kesamaan tema;

  • kesamaan tokoh;

  • kesamaan cerita;

dapat berasal dari:

tradisi bersama

dan bukan penyalinan langsung.

Kajian Qur’an dan Christianity menunjukkan bahwa interaksi Qur’an dengan dunia Kristen harus dipelajari melalui konteks Late Antiquity yang lebih luas. (academic.oup.com)


BAB CXIII

APAKAH QUR’AN MENOLAK KEEMPAT INJIL?

Tidak secara eksplisit.

Al-Qur’an tidak menyebut:

Matius.

Markus.

Lukas.

Yohanes.

Ia berbicara mengenai:

al-Injīl.

Maka menyimpulkan:

“Qur’an menganggap Matius palsu”

tidak tepat.

Demikian pula:

“Qur’an mengkonfirmasi seluruh isi Matius”

juga tidak tepat.


BAB CXIV

APAKAH “INJIL” DALAM ISLAM BERARTI SATU KITAB?

Dalam kerangka Qur’ani:

ya, tampaknya sebuah wahyu tertentu yang diberikan kepada Isa.

Tetapi tidak ada manuskrip yang kita kenal yang dapat dipastikan sebagai kitab itu.

Secara historiografi:

statusnya berbeda dari empat canonical gospels.


BAB CXV

APAKAH YESUS PUNYA “KITAB” DALAM ARTI AL-QUR’AN?

Secara teologis Qur’ani:

ya, al-Injīl diberikan kepadanya.

Secara sejarah kritis:

belum ada bukti independen yang memungkinkan kita mengidentifikasi kitab tersebut secara material.

Ini merupakan salah satu batas penting antara:

teologi

dan

historiografi.


BAB CXVI

APAKAH “INJIL ISA” MUNGKIN BERBENTUK LEBIH MIRIP THOMAS?

Sebagai hipotesis:

mungkin.

Mengapa?

Karena Thomas menunjukkan bahwa tradisi Jesus-sayings dapat dikumpulkan menjadi satu karya.

Tetapi tidak ada bukti:

Thomas = Injil Isa.

Hipotesis tersebut tetap spekulatif.


BAB CXVII

APAKAH INJIL ISA MUNGKIN TELAH HILANG?

Mungkin.

Namun sejarah tidak dapat mengubah kemungkinan menjadi fakta.

Standar akademis:

Absent evidence ≠ evidence of absence

tetapi juga:

possible ≠ proven.


BAB CXVIII

APAKAH ADA TRADISI ISLAM AWAL TENTANG INJIL ISA YANG HILANG?

Dalam tradisi tafsir dan polemik Muslim terdapat berbagai pembahasan mengenai:

  • kitab Isa;

  • perubahan kitab;

  • أهل الكتاب;

  • Injil;

  • taḥrīf.

Tetapi tradisi tersebut tidak memberikan kita satu manuskrip kuno yang dapat diedit secara kritis sebagai:

Injil Isa.

Karena itu penelitian harus membedakan:

sejarah ide tentang Injil

dari:

sejarah manuskrip Injil.


BAB CXIX

EMPAT STATUS EVIDENSI

Untuk memudahkan, dapat dibuat empat level.

Level A — Didokumentasikan secara material

Keempat Injil kanonik.

Level B — Didokumentasikan sebagian

Thomas, Mary, Peter, Judas, Philip.

Level C — Diketahui melalui kutipan/fragments

Hebrews, Ebionites, Nazarenes, Egyptians.

Level D — Diketahui sebagai kategori teologis tanpa manuskrip yang dapat diidentifikasi

al-Injīl Qur’ani sebagai wahyu yang diberikan kepada Isa.


BAB CXX

APAKAH STATUS LEVEL D BERARTI PALSU?

Tidak.

Ia berarti:

tidak memiliki objek manuskrip yang saat ini dapat diverifikasi secara independen.

Ini adalah pernyataan epistemologis, bukan teologis.


BAB CXXI

KESALAHAN METODOLOGIS PERTAMA

“Apokrifi berarti palsu.”

Salah.


BAB CXXII

KESALAHAN METODOLOGIS KEDUA

“Tidak kanonik berarti pasti lebih dekat kepada Yesus.”

Salah.


BAB CXXIII

KESALAHAN METODOLOGIS KETIGA

“Barnabas menyebut Muhammad, jadi Barnabas adalah Injil asli.”

Salah.

Sebab tanggal teks harus diuji.


BAB CXXIV

KESALAHAN METODOLOGIS KEEMPAT

“Thomas ditemukan di Nag Hammadi, jadi Thomas ditulis pada abad IV.”

Salah.

Manuskrip ≠ komposisi.

Nag Hammadi codex adalah salinan abad IV; komposisi Thomas bisa lebih awal. (data.copticscriptorium.org)


BAB CXXV

KESALAHAN METODOLOGIS KELIMA

“Qur’an menyebut Injil, maka pasti yang dimaksud Matius-Markus-Lukas-Yohanes.”

Tidak terbukti.


BAB CXXVI

KESALAHAN METODOLOGIS KEENAM

“Karena Injil Isa tidak ditemukan, pasti tidak pernah ada.”

Tidak terbukti.


BAB CXXVII

KESALAHAN METODOLOGIS KETUJUH

“Gospel of Barnabas adalah satu-satunya Injil yang bertentangan dengan Kristen, sehingga pasti asli.”

Tidak.

Keberbedaan doktrinal bukan ukuran kronologi.


BAB CXXVIII

KESALAHAN METODOLOGIS KEDELAPAN

“Empat Injil sama karena membicarakan Yesus.”

Tidak.

Mereka berbeda secara:

  • kronologi;

  • kristologi;

  • gaya;

  • struktur;

  • pilihan tradisi;

  • pemaknaan salib;

  • pemaknaan Kerajaan;

  • peranan Bait Allah.


BAB CXXIX

APA YANG PALING KUAT SECARA HISTORIS?

Jika pertanyaan:

“Apa sumber tertua mengenai komunitas Yesus?”

maka:

Paulus dan tradisi awal Kristen sangat penting.

Jika:

“Apa narasi Injil tertua?”

maka:

Markus kandidat utama.

Jika:

“Apa kumpulan ucapan non-kanonik yang signifikan?”

maka:

Thomas.

Jika:

“Apa Injil yang paling dekat dengan Islam secara polemik?”

maka:

Barnabas.

Tetapi:

paling dekat secara polemik ≠ paling tua.


BAB CXXX

APAKAH ADA “INJIL YANG HILANG” YANG BENAR-BENAR TUA?

Sangat mungkin.

Literatur kuno menunjukkan bahwa banyak karya hilang.

Kita mengetahui beberapa melalui:

  • kutipan;

  • daftar;

  • polemik;

  • bibliografi;

  • fragmen papirus.

Namun sampai sekarang:

tidak terdapat teks yang dapat diidentifikasi secara akademis sebagai Injil Yesus/Isa yang hilang tersebut.


BAB CXXXI

NILAI MASING-MASING KORPUS

Injil Kanonik

Nilai utama:

rekonstruksi sejarah Yesus + sejarah Kekristenan abad I.

Thomas

Nilai:

studi tradisi perkataan Yesus + keragaman Kekristenan awal.

Peter

Nilai:

perkembangan tradisi passion dan kebangkitan.

Mary

Nilai:

otoritas wahyu + gender + Maria Magdalena.

Judas

Nilai:

Gnostisisme + reinterpretasi Yudas.

Philip

Nilai:

teologi sakramental + Valentinian tradition.

Protoevangelium

Nilai:

perkembangan Mariologi dan infancy narratives.

Barnabas

Nilai:

polemik Islam-Kristen dan sejarah teks keagamaan kemudian.

Al-Injīl Qur’ani

Nilai:

teologi Qur’an mengenai wahyu kepada Isa dan sejarah kenabian.


BAB CXXXII

KESIMPULAN UTAMA 1

“INJIL” BUKAN SATU JENIS BUKU SAJA

Secara sejarah:

Gospel adalah kategori yang berkembang.

Ada:

narasi

sayings

wahyu

passion

infancy

sacramental theology.


BAB CXXXIII

KESIMPULAN UTAMA 2

EMPAT KANONIK BUKAN SATU-SATUNYA GOSPEL

Bukti historis jelas menunjukkan adanya:

pluralitas gospel.

Tetapi pluralitas tersebut tidak membuktikan kesetaraan.


BAB CXXXIV

KESIMPULAN UTAMA 3

THOMAS BUKAN “INJIL ASLI” SECARA SEDERHANA

Thomas sangat penting.

Tetapi:

  • tanggalnya diperdebatkan;

  • kompilasi final lebih kemudian;

  • atribusi apostolik tidak terbukti;

  • beberapa materi mungkin berasal dari tradisi kanonik.


BAB CXXXV

KESIMPULAN UTAMA 4

BARNABAS BUKAN SAKSI ABAD I

Ini merupakan salah satu kesimpulan yang paling kuat.

Manuskrip yang ada berasal dari abad XVI dan XVIII, sementara argumen linguistik-historis menempatkan komposisi jauh lebih kemudian, kemungkinan sekitar abad XIV. (academic.oup.com)


BAB CXXXVI

KESIMPULAN UTAMA 5

TIDAK ADA “INJIL YESUS” YANG TERIDENTIFIKASI

Tidak ada:

  • autograf Yesus;

  • codex yang dapat dikaitkan kepada Yesus;

  • papirus yang menyatakan dirinya sebagai Injil Yesus;

  • tradisi kuno yang dapat diverifikasi sebagai kitab tulisan Yesus.


BAB CXXXVII

KESIMPULAN UTAMA 6

ADA TRADISI YESUS YANG LEBIH TUA DARIPADA EMPAT INJIL

Ya.

Tradisi:

  • lisan;

  • sayings;

  • passion;

  • liturgis;

  • mungkin Q;

  • dan berbagai sumber lainnya.

Tetapi:

tradisi ≠ kitab Injil Yesus.


BAB CXXXVIII

KESIMPULAN UTAMA 7

AL-INJĪL QUR’ANI TIDAK DAPAT DISAMAKAN SECARA OTOMATIS DENGAN EMPAT INJIL

Al-Qur’an mengenal:

الإنجيل

sebagai wahyu kepada Isa.

Namun tidak menyebut:

  • Matius;

  • Markus;

  • Lukas;

  • Yohanes.

Karena itu identifikasi langsung tidak terbukti.


BAB CXXXIX

KESIMPULAN UTAMA 8

BARNABAS TIDAK MEMECAHKAN MASALAH INJIL ISA

Barnabas justru memperlihatkan:

bagaimana sebuah teks kemudian dapat memanfaatkan tradisi Injil dan menghasilkan narasi yang mendukung teologi tertentu.

Ia sangat berguna bagi sejarah agama, tetapi bukan sebagai bukti manuskrip Injil Isa.


BAB CXL

KESIMPULAN UTAMA 9

“INJIL ISA” MUNGKIN MERUPAKAN KATEGORI TEOLOGIS

Jika umat Islam mengatakan:

“Isa menerima Injil dari Allah,”

maka ini merupakan klaim yang konsisten dengan Al-Qur’an.

Tetapi historiografi tidak dapat mengubah klaim tersebut menjadi:

“Manuskrip X adalah Injil Isa.”

tanpa bukti material.


BAB CXLI

KESIMPULAN UTAMA 10

PERBEDAAN TEOLOGI DAN HISTORIOGRAFI

Teologi bertanya:

Apa yang Allah berikan kepada Isa?

Historiografi bertanya:

Apa dokumen yang kita miliki dan dari kapan?

Keduanya mempunyai domain pertanyaan berbeda.


BAB CXLII

PUTUSAN AKHIR

Berdasarkan bukti tekstual, manuskrip, kronologi, bahasa, sejarah kanon, dan perbandingan sumber, kesimpulan paling kuat adalah sebagai berikut:

Pertama

Empat Injil kanonik adalah korpus yang sangat awal dalam sejarah Kekristenan, dengan Markus umumnya dianggap paling awal dan Matius, Lukas, serta Yohanes menyusul dalam rentang abad I. (academic.oup.com)

Kedua

Kekristenan awal memiliki lebih dari empat karya yang menyebut atau berfungsi sebagai “gospel”. Thomas, Peter, Mary, Judas, Philip, Protoevangelium, dan berbagai gospel Jewish-Christian membuktikan pluralitas tersebut. (academic.oup.com)

Ketiga

Gospel of Thomas sangat penting, tetapi tidak dapat begitu saja disebut “Injil asli Yesus”. Ia memiliki saksi Yunani abad II–III dan saksi Koptik abad IV, tetapi tanggal komposisi dan sejarah sumbernya tetap diperdebatkan. (academic.oup.com)

Keempat

Gospel of Barnabas tidak dapat secara akademis diperlakukan sebagai dokumen Barnabas abad I. Bukti manuskrip dan analisis linguistik-historis menempatkan karya yang sekarang dikenal sebagai Barnabas pada periode yang sangat lebih kemudian, kemungkinan abad XIV untuk komposisi teks Italia yang kemudian disalin dalam manuskrip abad XVI. (academic.oup.com)

Kelima

Tidak ada manuskrip yang diketahui sekarang yang dapat diidentifikasi sebagai “Injil yang ditulis oleh Yesus/Isa”.

Keenam

Tidak ada bukti historis yang cukup untuk mengidentifikasi al-Injīl Qur’ani dengan Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Thomas, Barnabas, atau karya lain yang masih bertahan.

Ketujuh

Namun tidak ditemukannya manuskrip tersebut juga tidak membuktikan secara logis bahwa wahyu Injil menurut Islam tidak pernah ada. Itu adalah wilayah klaim teologis yang tidak dapat diverifikasi secara langsung melalui bukti manuskrip yang tersedia.

Kedelapan

Jika istilah:

“Injil Yesus”

digunakan secara historiografis untuk:

“buku yang ditulis atau didiktekan Yesus”,

maka jawaban akademis adalah:

tidak ada bukti bahwa karya semacam itu diketahui atau masih bertahan.

Jika digunakan secara teologis dalam Islam:

“wahyu Allah yang diberikan kepada Isa”,

maka konsep tersebut jelas terdapat dalam Al-Qur’an, tetapi dokumen materialnya tidak dapat diidentifikasi dengan salah satu Injil yang tersedia sekarang.


BAB CXLIII

JAWABAN TERHADAP PERTANYAAN “ADAKAH INJIL YESUS ATAU ISA?”

Jawaban sejarah:

Belum ditemukan dan tidak diketahui dalam tradisi manuskrip yang dapat diidentifikasi secara aman.

Jawaban kritik teks:

Tidak ada autograf atau saksi independen yang dapat direkonstruksi sebagai “Injil Yesus”.

Jawaban sejarah Kekristenan:

Ada banyak tradisi mengenai Yesus, sebagian lebih awal daripada sebagian lainnya, tetapi bukan satu kitab yang diketahui sebagai tulisan Yesus.

Jawaban Al-Qur’an:

Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah memberikan al-Injīl kepada Isa, tetapi tidak mengidentifikasi manuskrip atau judul buku tertentu yang masih dapat kita pegang hari ini.

Jawaban akademis paling hati-hati:

“Injil Yesus/Isa” sebagai wahyu Qur’ani adalah kategori teologis yang memiliki dasar dalam Al-Qur’an; “Injil Yesus” sebagai sebuah buku abad pertama yang ditulis oleh Yesus sendiri belum memiliki bukti manuskrip atau historis yang dapat diverifikasi.


BAB CXLIV

FORMULA KESIMPULAN AKADEMIS

Dengan demikian, istilah Injil harus dibedakan menjadi:

1. εὐαγγέλιον — berita baik dalam Kekristenan awal.

2. Gospel genre — karya literer mengenai Yesus.

3. Four Canonical Gospels — Matius, Markus, Lukas, Yohanes.

4. Non-canonical/apocryphal gospels — Thomas, Peter, Mary, Judas, Philip, dan lainnya.

5. Gospel of Barnabas — teks jauh lebih kemudian dan tidak merupakan saksi abad I.

6. al-Injīl Qur’ani — wahyu yang menurut Al-Qur’an diberikan kepada Isa.

7. “Gospel of Jesus” sebagai autograf Yesus — tidak diketahui dalam bukti sejarah yang tersedia.

Dengan pemisahan tersebut, banyak polemik antara Islam dan Kekristenan dapat disusun ulang secara lebih ilmiah. Pertanyaan tidak lagi sekadar:

“Injil siapa yang benar?”

melainkan:

“Apa yang dimaksud dengan Injil, kapan teks tersebut muncul, siapa yang menyusunnya, bagaimana transmisinya, apa hubungan literernya dengan tradisi lain, dan pada level epistemologis apa klaim tentang Injil tersebut sedang dibuat?”

Itulah pertanyaan yang memungkinkan penelitian Injil bergerak dari polemik menuju historiografi.


DAFTAR PUSTAKA

A. SUMBER PRIMER

Al-Qur’an al-Karīm.

Aland, Barbara, et al., eds. Novum Testamentum Graece. 28th ed. Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 2012.

Eusebius of Caesarea. Historia Ecclesiastica.

Irenaeus of Lyons. Adversus Haereses.

Origen. Commentary on John.

Jerome. De Viris Illustribus.

Epiphanius. Panarion.

Tatian. Diatessaron.


B. INJIL KANONIK

Brown, Raymond E. The Birth of the Messiah. New York: Doubleday.

Brown, Raymond E. The Death of the Messiah. New York: Doubleday.

Dunn, James D. G. Jesus Remembered. Grand Rapids: Eerdmans.

Elliott, James Keith. “Gospel of Mark.” Oxford Bibliographies in Biblical Studies. Oxford University Press. (academic.oup.com)

Lieu, Judith M., and Martinus C. de Boer, eds. The Oxford Handbook of Johannine Studies. Oxford University Press.

Attridge, Harold W. “John and Other Gospels.” Dalam The Oxford Handbook of Johannine Studies. Oxford University Press. (academic.oup.com)


C. GOSPEL OF THOMAS

Patterson, Stephen J. “The Gospel of Thomas and the Historical Jesus.” Dalam The Oxford Handbook of Early Christian Apocrypha, 233–249. Oxford University Press. (academic.oup.com)

Poirier, Paul-Hubert. “D’Édesse à Antioche en passant par Jérusalem et Alexandrie. Où situer l’Évangile selon Thomas?” New Testament Studies (2024). (cambridge.org)

Coptic Scriptorium. Gospel of Thomas. Metadata and digital edition. (data.copticscriptorium.org)


D. GOSPEL OF PETER

Elliott, J. K., ed. The Apocryphal New Testament. Oxford University Press.

Elliott, J. K. “The Gospel of Peter.” (academic.oup.com)


E. GOSPEL OF MARY

Tuckett, Christopher. The Gospel of Mary. Oxford University Press. (academic.oup.com)

Tuckett, Christopher. “Attestation, Manuscripts, Language, Date.” Dalam The Gospel of Mary. (academic.oup.com)

P.Oxy. 3525, Gospel of Mary, Oxford Papyrology. (portal.sds.ox.ac.uk)


F. GOSPEL OF JUDAS

Turner, John. “Gospel of Judas.” Oxford Bibliographies in Biblical Studies. (academic.oup.com)

Kasser, Rodolphe, Gregor Wurst, Marvin Meyer, and François Gaudard. The Gospel of Judas. Critical edition.

Pearson, Birger A. Review of The Gospel of Judas, Together with the Letter of Peter to Philip, James, and a Book of Allogenes from Codex Tchacos. Religious Studies Review. (onlinelibrary.wiley.com)


G. GOSPEL OF PHILIP

Laflèche, Emily. “Gospel of Philip.” NASSCAL e-Clavis Christian Apocrypha. (nasscal.com)

Wilson, R. McL. “The Gospel of Philip.” Studies in Church History. Cambridge University Press. (cambridge.org)


H. PROTOEVANGELIUM OF JAMES

Goodacre, Mark. “The Protevangelium of James and the Creative Rewriting of Matthew and Luke.” Oxford University Press. (academic.oup.com)

Oxford Handbook of Religion, “Mary and Mariology.” (academic.oup.com)


I. INFANCY GOSPEL OF THOMAS

Cousland, Robert. “Infancy Gospel of Thomas.” Oxford Bibliographies in Biblical Studies. (academic.oup.com)

Elliott, J. K., ed. “The Infancy Gospel of Thomas.” The Apocryphal New Testament. Oxford University Press. (academic.oup.com)


J. GOSPEL OF BARNABAS

Joosten, Jan. “The Date and Provenance of the Gospel of Barnabas.” Journal of Theological Studies 61, no. 1 (2010): 200–215. (academic.oup.com)

Joosten, Jan. “The Gospel of Barnabas and the Diatessaron.” Harvard Theological Review 95 (2002): 73–96. (cambridge.org)

NASSCAL. “Vienna, Österreichische Nationalbibliothek, Cod. 2662.” (nasscal.com)

Centre for Muslim-Christian Studies, Oxford. “The Gospel of Barnabas.” (cmcsoxford.org.uk)

Ragg, Lonsdale and Laura. The Gospel of Barnabas. Oxford: Clarendon Press, 1907.


K. STUDI APOKRIFA

Gregory, Andrew, and Christopher Tuckett, eds. The Oxford Handbook of Early Christian Apocrypha. Oxford University Press. (academic.oup.com)

Hurtado, Larry W. “Who Read Early Christian Apocrypha?” Dalam The Oxford Handbook of Early Christian Apocrypha. (academic.oup.com)


L. STUDI AL-QUR’AN DAN KRISTEN

“The Qur’an and Christianity.” Dalam The Oxford Handbook of Qur’anic Studies. Oxford University Press. (academic.oup.com)

“Paradosis and Monotheism: A Late Antique Approach to the Meaning of Islām in the Quran.” Bulletin of the School of Oriental and African Studies. (cambridge.org)


LAMPIRAN I

HIERARKI EVIDENSI

Untuk menilai sebuah “Injil”, urutan pengujian akademis yang paling kuat adalah:

1. Manuskrip awal

2. Tanggal paleografis/kodikologis

3. Bahasa asli

4. Kutipan penulis kuno

5. Hubungan dengan manuskrip lain

6. Independensi dari Injil yang lebih tua

7. Konsistensi sejarah dan geografis

8. Konteks sosial dan teologis

9. Kemungkinan redaksi kemudian

10. Status kanonik dan penerimaan.

Status kanonik ditempatkan terakhir dalam hierarki evidensial untuk historisitas, karena kanonisitas adalah kategori sejarah gereja dan teologi, bukan bukti otomatis tentang usia atau kebenaran setiap detail.


LAMPIRAN II

MATRiks HISTORIS

PertanyaanKanonikThomasPeterMaryJudasPhilipBarnabasal-Injīl Qur’ani
Saksi abad ITidak ada autografTidakTidakTidakTidakTidakTidakTidak
Saksi abad II/IIIYaYa, fragmen YunaniYaYaTradisi patristikTidak langsungTidakTidak
Manuskrip utamaBanyakNag Hammadi IVAkhmîm VIII + P.OxyBerlin V + Yunani IIITchacos IVNag Hammadi IVItalia XVITidak teridentifikasi
Bentuk naratifYaTidak utamaYaTidakDialogTidakYaTidak diketahui
Atribusi apostolikTradisionalThomasPeterMaryJudasPhilipBarnabasIsa
Hubungan langsung dengan YesusTradisiTradisi sayingsTradisi passionWahyuDialogTeologiPolemik kemudianTeologis Qur’ani
Nilai sebagai sumber Yesus historisTinggi tetapi perlu kritikPenting namun diperdebatkanTerbatasTerbatasTerbatasSangat terbatasSangat lemahSangat berbeda fungsi

LAMPIRAN III

JAWABAN SANGAT SINGKAT TERHADAP EMPAT PERTANYAAN BESAR

Apakah Injil kanonik satu-satunya Injil yang pernah ada?

Tidak.

Ada banyak karya gospel/non-kanonik.

Apakah Gospel of Thomas adalah Injil asli yang disembunyikan Gereja?

Tidak dapat dibuktikan.

Ia adalah teks kuno yang penting, tetapi tanggal dan sejarah sumbernya diperdebatkan.

Apakah Gospel of Barnabas adalah Injil asli Isa?

Bukti yang tersedia sangat kuat menentangnya.

Teks yang bertahan terlalu terlambat dan kemungkinan berasal dari Abad Pertengahan. (academic.oup.com)

Apakah ada Injil Yesus/Isa yang masih dapat ditunjukkan secara manuskrip?

Tidak.

Tidak ada naskah yang dapat diidentifikasi secara akademis sebagai autograf atau Injil yang ditulis Yesus.

Apakah Al-Qur’an mengenal Injil?

Ya.

Al-Qur’an secara eksplisit menyebut al-Injīl sebagai wahyu yang diberikan kepada Isa.

Apakah al-Injīl Qur’ani dapat diidentifikasi dengan empat Injil kanonik?

Tidak dapat dibuktikan.

Apakah al-Injīl Qur’ani dapat diidentifikasi dengan Gospel of Barnabas?

Tidak; bukti manuskrip dan kronologinya tidak mendukung.


KESIMPULAN FINAL

Dalam sejarah agama, kata “Injil” tidak menunjuk kepada satu objek yang selalu identik sepanjang zaman. Ia mengalami perkembangan dari “berita baik” menjadi kategori literer, dan kemudian menjadi nama empat kitab kanonik. Di samping itu terdapat sejumlah karya non-kanonik yang disebut atau diperlakukan sebagai gospel.

Keempat Injil kanonik merupakan sumber utama bagi penelitian mengenai Yesus abad pertama karena relatif dekat secara kronologis dengan komunitas awal dan mempunyai transmisi manuskrip yang luas. Markus secara umum ditempatkan paling awal, sedangkan Matius, Lukas, dan Yohanes menyusul dalam abad pertama. (academic.oup.com)

Gospel of Thomas merupakan sumber yang penting dan tidak boleh diabaikan. Tiga fragmen Yunani dari Oxyrhynchus menunjukkan bahwa tradisi teks tersebut sudah ada sebelum manuskrip Koptik Nag Hammadi abad IV. Akan tetapi, ketidakpastian mengenai tanggal komposisi dan sumber membuatnya tidak sah disebut secara sederhana sebagai “Injil asli Yesus”. (academic.oup.com)

Gospel of Peter, Mary, Judas, Philip dan teks apokrif lain membuktikan bahwa terdapat pluralitas cara memahami Yesus pada abad II dan sesudahnya. Pluralitas tersebut merupakan bukti penting mengenai diversifikasi Kekristenan awal, bukan bukti bahwa semua karya tersebut secara historis memiliki bobot yang sama. (academic.oup.com)

Gospel of Barnabas harus diperlakukan terpisah. Ia memang penting bagi sejarah hubungan Islam-Kristen modern, tetapi bukti manuskrip dan kajian filologis menempatkan karya tersebut jauh sesudah zaman para rasul. Penelitian Joosten mengarah pada asal teks Italia sekitar abad XIV, dengan manuskrip yang bertahan dari abad XVI; hubungan dengan tradisi Diatessaron Italia memperkuat kesimpulan bahwa ia bukan dokumen independen dari abad I. (academic.oup.com; cambridge.org)

Pertanyaan mengenai “Injil Yesus/Isa” adalah yang paling sulit. Dalam pengertian historis-literer sebagai buku yang ditulis Yesus sendiri, tidak ada bukti manuskrip atau kesaksian kuno yang memungkinkan kita mengidentifikasinya. Yang memang ada adalah tradisi tentang perkataan dan tindakan Yesus, yang kemudian dituangkan dalam berbagai bentuk literatur.

Dalam pengertian Qur’ani, situasinya berbeda. Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah memberi Isa al-Injīl, sebuah wahyu yang mengandung petunjuk dan cahaya. Tetapi Al-Qur’an tidak menghubungkan konsep tersebut secara eksplisit dengan empat karya bernama Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Ia juga tidak memberikan manuskrip atau teks yang memungkinkan kita menunjuk kepada satu dokumen historis yang dapat diedit sebagai “Injil Isa”.

Dengan demikian, kesimpulan akademis paling hati-hati adalah:

Ada bukti kuat tentang banyak tradisi dan banyak karya “gospel” dalam Kekristenan awal, tetapi tidak ada bukti material yang memungkinkan kita mengidentifikasi sebuah manuskrip yang dapat disebut sebagai “Injil Yesus/Isa”. Empat Injil kanonik merupakan karya literer Kristen abad pertama; Gospel of Thomas dan sejumlah apokrif merupakan produk tradisi Kristen yang beragam, sebagian pada abad II dan III; Gospel of Barnabas adalah karya jauh lebih kemudian; sedangkan al-Injīl Qur’ani merupakan kategori wahyu dalam teologi Al-Qur’an yang tidak dapat diidentifikasi secara historis dengan salah satu manuskrip Injil yang masih bertahan.

Dengan kata lain:

“Injil kanonik”, “Injil apokrif”, “Gospel of Thomas”, “Gospel of Barnabas”, dan “al-Injīl Qur’ani” bukan lima nama untuk satu kitab yang sama.

Mereka adalah lima kategori sejarah, literatur, dan teologi yang harus dibedakan.

Dan mengenai pertanyaan terakhir—“Adakah Injil Yesus atau Isa?”—jawaban yang paling bertanggung jawab secara akademis adalah:

Sebagai wahyu yang menurut Al-Qur’an diberikan Allah kepada Isa: ya, itu merupakan klaim tekstual-teologis Al-Qur’an. Sebagai buku kuno yang dapat ditunjukkan dalam bentuk manuskrip dan diverifikasi sebagai tulisan atau dokumen langsung Yesus: belum ada bukti yang memungkinkan kesimpulan tersebut.