Benarkah Muḥammad Buta Huruf?
Kajian Historis-Kritis atas Istilah al-Ummī, Kesaksian al-Qur’an, Hadis, Sīrah, Tradisi Sunni–Syiah, Tafsir Klasik, dan Bukti Epigrafis
Nama penulis:TeloGodog
Bidang: Studi Islam, Sejarah Islam Awal, Filologi Arab, Historiografi
Metode: historis-kritis, filologis, isnād/matn criticism, komparatif, dan analisis epigrafis
Abstrak
Pertanyaan apakah Muhammad benar-benar buta huruf merupakan persoalan yang tampak sederhana tetapi secara historis sangat kompleks. Tradisi Islam mayoritas memahami predikat al-nabī al-ummī sebagai “nabi yang tidak membaca dan menulis”, terutama berdasarkan Q.S. al-Aʿrāf 7:157–158 dan al-ʿAnkabūt 29:48, serta sejumlah hadis. Namun, terdapat persoalan semantik: ummī dalam al-Qur’an tidak selalu berarti “buta huruf”, dan dapat berkaitan dengan kategori “orang yang tidak memiliki kitab sebelumnya” atau “gentile/scriptureless”. Selain itu, hadis Ṣaḥīḥ al-Bukhārī mengenai Ṣulḥ al-Ḥudaybiyyah memiliki redaksi yang secara literal tampak menyatakan bahwa Muḥammad menulis sendiri: فأخذ رسول الله الكتاب فكتب (fa-akhaḏa rasūlu llāhi al-kitāba fa-kataba), sementara riwayat lain mengatakan وليس يحسن أن يكتب، فكتب (wa-laysa yuḥsinu an yaktuba, fa-kataba). Sebaliknya, mayoritas ulama kemudian menakwilkannya sebagai “memerintahkan penulisan” atau sebagai kejadian luar biasa.
Kajian ini menunjukkan bahwa tiga proposisi harus dipisahkan: (1) apakah Muḥammad tidak memiliki kemampuan baca-tulis sebelum kenabian; (2) apakah ia pernah memperoleh kemampuan tersebut setelah kenabian; dan (3) apakah istilah ummī secara linguistik identik dengan “illiterate”. Bukti tradisional sangat kuat untuk proposisi pertama dalam kerangka historiografi Islam klasik, tetapi tidak memberikan kepastian mutlak menurut standar sejarah modern. Bukti yang menyatakan atau mengisyaratkan kemampuan menulis setelah kenabian juga ada, terutama tradisi Ḥudaybiyyah dan beberapa sumber Syiah, tetapi memiliki persoalan interpretasi dan transmisi. Bukti epigrafis menunjukkan bahwa Arabia abad keenam–ketujuh bukan masyarakat tanpa tulisan; namun fakta bahwa masyarakat mengenal tulisan tidak membuktikan bahwa Muḥammad sendiri literat.
Kesimpulan paling hati-hati secara akademis adalah: tradisi Islam awal dan mayoritas klasik memang menggambarkan Muḥammad sebagai tidak membaca dan tidak menulis, terutama sebelum turunnya al-Qur’an; tetapi pernyataan bahwa secara historis dapat dibuktikan dengan kepastian absolut bahwa ia sama sekali tidak pernah mampu membaca atau menulis sepanjang hidupnya melampaui bukti yang tersedia. Kemungkinan adanya literasi terbatas atau perubahan kemampuan setelah kenabian tidak dapat dikesampingkan secara historis.
I. Pendahuluan
Istilah “buta huruf” dalam bahasa Indonesia mempunyai konotasi yang lebih luas daripada sekadar tidak mampu membaca atau menulis. Dalam bahasa modern, seseorang yang disebut buta huruf biasanya berarti tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis secara fungsional.
Namun, jika pertanyaannya diterapkan kepada Muḥammad pada abad ke-7, kita harus membedakan:
tidak mampu membaca teks;
tidak mampu menulis;
tidak pernah memperoleh pendidikan literasi formal;
mampu mengenali beberapa kata atau nama tetapi tidak mampu membaca teks panjang;
mampu membaca tetapi tidak menulis;
mampu menulis secara terbatas setelah kenabian;
tidak memiliki kitab suci sebelumnya (scriptureless);
ummī sebagai kategori sosial-keagamaan, bukan kemampuan literasi.
Masalah menjadi semakin rumit karena sumber-sumber utama yang kita miliki berasal dari beberapa lapisan kronologis:
al-Qur’an abad ke-7;
tradisi hadis yang ditransmisikan secara lisan dan kemudian dikodifikasi;
Sīrah Ibn Isḥāq yang kita kenal terutama melalui Ibn Hishām;
tafsir abad ke-8–10;
historiografi seperti al-Ṭabarī;
tradisi Syiah;
kamus Arab klasik;
dan bukti epigrafis.
Karena itu, penelitian ini tidak akan berangkat dari kesimpulan teologis terlebih dahulu, baik “Muḥammad pasti buta huruf” maupun “Muḥammad pasti literat”.
II. Pertanyaan Penelitian
Penelitian ini mengajukan enam pertanyaan:
1.
Apa arti asli ummī dalam al-Qur’an?
2.
Apakah Q.S. 29:48 secara gramatikal menyatakan Muḥammad tidak dapat membaca dan menulis sepanjang hidupnya?
3.
Apa yang dikatakan hadis paling awal mengenai kemampuan membaca dan menulis Muḥammad?
4.
Bagaimana tradisi Ṣulḥ al-Ḥudaybiyyah harus dipahami?
5.
Apakah sumber Syiah memberikan gambaran berbeda?
6.
Apa yang dapat disimpulkan dengan metode sejarah modern?
III. Metodologi dan Hirarki Sumber
Untuk penelitian ini sumber dibagi menjadi lima tingkat.
| Tingkat | Jenis sumber | Nilai historis |
|---|---|---|
| I | al-Qur’an | sangat tinggi untuk sejarah ide dan terminologi abad ke-7 |
| II | hadis awal/kanonik | tinggi tetapi harus dianalisis transmisi dan redaksi |
| III | Sīrah dan sejarah Islam awal | penting tetapi lebih problematis secara kronologis |
| IV | tafsir dan kamus klasik | sangat penting untuk sejarah interpretasi, bukan otomatis bukti abad ke-7 |
| V | sumber modern | digunakan untuk menguji metode dan interpretasi |
Salah satu prinsip utama penelitian ini adalah:
Sebuah tafsir abad ke-10 yang mengatakan “ummī berarti tidak dapat membaca” merupakan bukti kuat mengenai bagaimana umat Islam abad ke-10 memahami istilah tersebut, tetapi bukan otomatis bukti bahwa orang Arab abad ke-7 pasti menggunakan istilah itu dengan makna yang sama.
Ini merupakan perbedaan fundamental antara history of interpretation dan history of the original event.
IV. Sumber Primer I: Al-Qur’an
A. Q.S. al-Aʿrāf 7:157
Teks Arab
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ
Transliterasi
alladhīna yattabiʿūna al-rasūla al-nabiyya al-ummiyya alladhī yajidūnahu maktūban ʿindahum fī al-tawrāti wa-l-injīl.
Terjemahan
“Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummī, yang mereka dapati tertulis pada mereka dalam Taurat dan Injil…”
Analisis
Di sini ummī menjadi sifat langsung bagi al-nabī.
Interpretasi tradisional:
al-nabī al-ummī = nabi yang tidak membaca dan menulis.
Namun secara sintaksis ayat itu sendiri tidak mendefinisikan ummī sebagai “buta huruf”.
Makna itu diperoleh melalui:
penggunaan kata di tempat lain;
hadis;
tafsir;
tradisi leksikografis.
Ini penting.
V. Q.S. al-ʿAnkabūt 29:48
Ini merupakan ayat paling penting dalam perdebatan.
Bahasa Arab
وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
Transliterasi
wa-mā kunta tatlū min qablihi min kitābin wa-lā takhuṭṭuhu bi-yamīnika idhan la-irtāba al-mubṭilūn.
Terjemahan literal
“Dan engkau tidak pernah membaca sebuah kitab sebelumnya, dan tidak pula menuliskannya dengan tangan kananmu; jika demikian, orang-orang yang batil pasti akan ragu.”
Hal yang sangat penting
Perhatikan frasa:
مِن قَبْلِهِ
min qablihi
“sebelumnya”
Secara gramatikal ayat ini berbicara mengenai keadaan sebelum al-Qur’an.
Jadi secara logika bahasa:
“Engkau tidak membaca kitab sebelumnya dan tidak menulisnya dengan tangan kananmu.”
tidak identik dengan:
“Engkau tidak pernah belajar membaca atau menulis sampai meninggal.”
Perbedaan ini sangat penting.
VI. Tafsir al-Ṭabarī
Al-Ṭabarī (w. 923 M) merupakan salah satu sumber paling penting karena ia mengumpulkan tradisi tafsir yang jauh lebih tua.
Dalam tafsir Q.S. 7:157 ia mengutip Qatādah:
Arab
وَهُوَ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ أُمِّيًّا لَا يَكْتُبُ
Transliterasi
wa-huwa nabiyyukum ṣallā Allāhu ʿalayhi wa-sallam, kāna ummiyyan lā yaktubu.
Terjemahan
“Dia adalah nabi kalian… ia adalah ummī, tidak menulis.”
Ini merupakan bukti penting karena tradisi tersebut dikaitkan kepada Qatādah, seorang tabiʿī.
Namun harus diberi catatan:
kita tetap menerima tradisi tersebut melalui karya al-Ṭabarī, bukan melalui manuskrip abad pertama Islam yang ditulis langsung oleh Qatādah.
VII. Tafsir al-Ṭabarī atas “al-Ummī”
Dalam tafsir Q.S. 2:78, al-Ṭabarī memberikan definisi yang sangat eksplisit:
Arab
الأُمِّيُّ: الَّذِي لَا يَكْتُبُ
Transliterasi
al-ummī: alladhī lā yaktubu.
Terjemahan
“Al-ummī adalah orang yang tidak menulis.”
Ia kemudian menghubungkan makna tersebut dengan hadis:
إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ
innā ummatun ummiyyatun lā naktubu wa-lā naḥsubu.
“Kami adalah umat yang ummī; kami tidak menulis dan tidak menghitung.”
Nilai historis
Ini merupakan bukti kuat bahwa pada abad ke-9–10, tradisi tafsir Sunni memahami ummī terutama sebagai ketidakmampuan membaca/menulis.
Tetapi belum menjawab pertanyaan apakah makna tersebut merupakan satu-satunya makna kata itu pada abad ke-7.
VIII. Hadis Ṣaḥīḥ al-Bukhārī: “Kami umat ummī”
Hadis Ibn ʿUmar:
Arab
إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا
Transliterasi
innā ummatun ummiyyatun, lā naktubu wa-lā naḥsubu, al-shahru hākadhā wa-hākadhā.
Terjemahan
“Kami adalah umat yang ummī; kami tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu demikian dan demikian.”
Riwayat ini terdapat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim. (Hadith Prophet)
Apakah “kami” berarti semua orang Arab?
Tidak harus.
Tradisi syarah kemudian menjelaskan bahwa:
الكتابة كانت فيهم عزيزة
al-kitābah kānat fīhim ʿazīzah
“kemampuan menulis di kalangan mereka jarang.”
Artinya, hadis tersebut lebih tepat dibaca sebagai karakterisasi komunitas secara umum, bukan pernyataan bahwa setiap orang Arab sama sekali tidak bisa membaca.
Ini sangat penting karena kita mempunyai bukti lain tentang adanya para penulis Arab.
IX. Hadis “Iqraʾ — mā anā bi-qāriʾ”
Dalam riwayat awal wahyu yang terkenal:
Arab
فَقَالَ: اقْرَأْ، قَالَ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ
Transliterasi
fa-qāla: iqraʾ. Qāla: mā anā bi-qāriʾ.
Terjemahan
“Ia berkata: ‘Bacalah!’ Ia menjawab: ‘Aku bukan seorang pembaca.’”
Riwayat ini terdapat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dalam kisah awal wahyu. (Wikisource)
Apakah ini bukti pasti bahwa Muḥammad buta huruf?
Tidak secara logika formal.
Frasa:
mā anā bi-qāriʾ
dapat dipahami sebagai:
“Saya tidak bisa membaca.”
“Saya bukan pembaca.”
“Apa yang harus saya baca?”
“Saya tidak tahu bagaimana membaca teks yang Anda berikan.”
Tradisi Islam kemudian memilih interpretasi pertama.
Tetapi secara linguistik, frasa tersebut mendukung ketidakmampuan membaca dalam konteks awal wahyu, tetapi tidak sendirian membuktikan keadaan seumur hidup.
X. Perbandingan Dua Bukti Utama
Kita sekarang memperoleh dua kelompok bukti:
Kelompok A
Q.S. 29:48:
وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ
wa-lā takhuṭṭuhu bi-yamīnika
“dan engkau tidak menuliskannya dengan tangan kananmu.”
serta:
مَا أَنَا بِقَارِئٍ
mā anā bi-qāriʾ
“Aku bukan pembaca.”
Kelompok B
Riwayat Ḥudaybiyyah:
فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ الْكِتَابَ فَكَتَبَ
fa-akhaḏa rasūlu llāhi al-kitāba fa-kataba
“Rasul Allah mengambil dokumen itu lalu menulis.”
(Islamweb)
Di sinilah pusat kontroversi.
XI. Ṣulḥ al-Ḥudaybiyyah: Bukti Paling Sulit
Dalam Ṣaḥīḥ Muslim terdapat versi:
Arab
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: أَرِنِي مَكَانَهَا، فَأَرَاهُ مَكَانَهَا فَمَحَاهَا وَكَتَبَ ابْنَ عَبْدِ اللهِ
Transliterasi
fa-qāla rasūlu llāhi: arinī makānahā, fa-arāhu makānahā fa-maḥāhā wa-kataba ibn ʿabdi llāh.
Terjemahan
“Rasul Allah berkata: ‘Tunjukkan kepadaku tempatnya.’ Maka ditunjukkan tempatnya, lalu beliau menghapusnya dan menulis ‘Ibn ʿAbd Allāh’.”
Dalam salah satu redaksi al-Bukhārī yang dikutip oleh Ibn Ḥajar:
فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ الْكِتَابَ وَلَيْسَ يُحْسِنُ أَنْ يَكْتُبَ فَكَتَبَ
Transliterasi
fa-akhaḏa rasūlu llāhi al-kitāba wa-laysa yuḥsinu an yaktuba fa-kataba.
Terjemahan
“Rasul Allah mengambil dokumen itu, sementara ia tidak pandai menulis, lalu ia menulis.”
(Islamweb)
Ini merupakan teks yang sangat problematis bagi teori “Muḥammad tidak pernah menulis dalam keadaan apa pun”.
XII. Empat Interpretasi terhadap Ḥudaybiyyah
Interpretasi 1 — Muḥammad memang menulis
Ini adalah pembacaan literal.
فكتب
berarti:
“ia menulis.”
Sebagian ulama klasik menerima pembacaan tersebut.
Al-Bājī termasuk tokoh yang mempertahankan kemungkinan bahwa Muḥammad menulis setelah kenabian. (Islamweb)
Interpretasi 2 — “Menulis” berarti memerintahkan orang lain menulis
Dalam bahasa Arab klasik, tindakan yang dilakukan atas perintah seorang pemimpin dapat dinisbatkan kepada pemimpin tersebut.
Karena itu:
كتب رسول الله إلى قيصر
tidak harus berarti:
“Muḥammad sendiri memegang pena.”
Bisa berarti:
“Muḥammad mengirim surat kepada Kaisar.”
Tradisi mayoritas kemudian menggunakan penafsiran ini.
Al-Nawawī mencatat bahwa mayoritas ulama memahami fa-kataba bukan sebagai Muḥammad menulis dengan tangannya sendiri, melainkan sebagai perintah penulisan. (Islamweb)
Interpretasi 3 — Ia menulis satu kata/nama tetapi tidak menjadi literat penuh
Ini merupakan posisi tengah.
Seseorang dapat:
mengenali namanya;
meniru beberapa huruf;
menulis kata sederhana;
tanpa memiliki kemampuan membaca teks panjang.
Secara historis ini sangat mungkin.
Maka:
“Muḥammad menulis Ibn ʿAbd Allāh”
tidak otomatis berarti:
“Muḥammad adalah penulis terdidik.”
Interpretasi 4 — Kejadian mukjizat
Sebagian ulama kemudian mengatakan:
Muḥammad tetap ummī, tetapi Allah membuat tangannya dapat menulis secara khusus pada peristiwa itu.
Al-Nawawī mencatat pendapat ini. (Islamweb)
Ini adalah penjelasan teologis, bukan kesimpulan historis.
Metode sejarah tidak dapat menguji apakah kemampuan tersebut merupakan mukjizat.
XIII. Tradisi Sunni Klasik: Konsensus atau Tidak?
Ada kecenderungan kuat bahwa mayoritas ulama Sunni memahami:
Muḥammad tidak dapat membaca dan menulis.
Ibn Manẓūr dalam Lisān al-ʿArab:
Arab
وَالأُمِّيُّ: الَّذِي لَا يَكْتُبُ
Transliterasi
wa-l-ummī: alladhī lā yaktubu.
Terjemahan
“Al-ummī adalah orang yang tidak menulis.”
Ia juga menghubungkan ummī dengan keadaan seseorang sebagaimana ketika dilahirkan ibunya, yaitu belum memperoleh pendidikan menulis. (Islamweb)
Namun, perlu hati-hati:
Ibn Manẓūr meninggal pada 1311 M.
Jadi kamusnya merupakan bukti penting tentang bahasa Arab klasik, tetapi bukan rekaman langsung bahasa Mekah tahun 610 M.
XIV. Bukti Bahwa Masyarakat Arab Mengenal Tulisan
Salah satu argumen yang sering muncul:
“Jika Muḥammad hidup di masyarakat yang mengenal tulisan, mengapa ia harus buta huruf?”
Ini bukan argumen valid secara logis.
Masyarakat dapat memiliki:
penulis profesional;
pedagang yang menggunakan dokumen;
administrasi tertulis;
sementara sebagian besar masyarakat tetap tidak literat.
Bukti epigrafis menunjukkan bahwa Arabia pra-Islam memiliki tradisi tulisan yang jauh lebih kompleks daripada gambaran “Arab semuanya buta huruf”.
Kajian Oxford mengenai lanskap linguistik Arabia pra-Islam menegaskan adanya bukti epigrafis untuk tulisan, literasi, perkembangan aksara Arab, dan multilingualisme. (OUP Academic)
Bahkan penelitian mengenai ortografi Hijazi menunjukkan adanya praktik penulisan yang cukup maju pada periode pra-Islam. (De Gruyter Brill)
Konsekuensi metodologis
Bukti tersebut membantah:
“Arab pra-Islam tidak mengenal tulisan.”
Tetapi tidak membuktikan:
“Muḥammad pasti bisa membaca dan menulis.”
Dua proposisi itu harus dipisahkan.
XV. Bukti dari Sīrah Ibn Isḥāq/Ibn Hishām
Salah satu data menarik muncul dalam kisah keluarga ʿAbd al-Muṭṭalib.
Ibn Isḥāq meriwayatkan:
Arab
لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ قِدْحًا، ثُمَّ يَكْتُبُ فِيهِ اسْمَهُ
Transliterasi
li-yaʾkhudh kullu rajulin minkum qidḥan, thumma yaktubu fīhi ismahu.
Terjemahan
“Hendaknya setiap orang mengambil sebuah anak panah, kemudian menuliskan namanya di atasnya.”
(IslamWeb)
Apakah ini membuktikan keluarga Muḥammad literat?
Belum tentu.
Pertama, ini berbicara tentang anak-anak ʿAbd al-Muṭṭalib, bukan Muḥammad.
Kedua, kisah tersebut diriwayatkan jauh setelah masa kejadian.
Ketiga, Ibn Isḥāq sendiri menggunakan formula:
فيما يزعمون
fīmā yazʿamūn
“menurut apa yang mereka klaim.”
Artinya bahkan dalam narasi sīrah tersebut terdapat tanda bahwa penulis menyadari sifat tradisional/legendaris sebagian materi.
XVI. Muḥammad dan Para Penulis Wahyu
Sumber-sumber Islam sangat jelas menunjukkan keberadaan para penulis yang menuliskan wahyu.
Misalnya Zayd b. Thābit dikenal sebagai salah satu penulis wahyu.
Implikasinya:
al-Qur’an tidak membutuhkan Muḥammad sebagai penulis tangan.
Model transmisinya dapat berupa:
Muḥammad → membaca/menyampaikan secara lisan → para sahabat menghafal → penulis menuliskan.
Karena itu:
“Al-Qur’an ditulis”
tidak sama dengan:
“Muḥammad menulis Al-Qur’an.”
XVII. Apakah Ummī Selalu Berarti “Buta Huruf”?
Ini salah satu bagian paling penting dari penelitian modern.
Dalam al-Qur’an kita menemukan:
Q.S. 2:78
وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ
wa-minhum ummiyyūna lā yaʿlamūna al-kitāb.
“Di antara mereka ada orang-orang ummī yang tidak mengetahui kitab.”
Q.S. 3:20
وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ
wa-qul li-lladhīna ūtū al-kitāba wa-l-ummiyyīn.
“Dan katakan kepada orang-orang yang diberi kitab dan kepada kaum ummiyyīn.”
Q.S. 62:2
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ
huwa alladhī baʿatha fī al-ummiyyīna rasūlan minhum.
“Dialah yang mengutus kepada kaum ummiyyīn seorang rasul dari kalangan mereka.”
Dalam ayat-ayat tersebut, ummiyyūn dapat dipahami sebagai lawan dari:
أُوتُوا الْكِتَابَ
ūtu al-kitāb
“orang-orang yang diberi kitab.”
Hal ini membuka kemungkinan bahwa ummī pada level Qur’anic semantics berarti:
“orang yang tidak termasuk komunitas pemilik kitab wahyu sebelumnya”
atau
“scriptureless/gentile”
dan tidak selalu:
“orang yang secara teknis tidak mampu membaca.”
Nicolai Sinai, dalam Key Terms of the Qur’an, melakukan analisis historis-kritis terhadap istilah-istilah Qur’ani dengan membandingkan bahasa Qur’an, tradisi Yahudi-Kristen, puisi Arab, dan epigrafi Arabia. (ORA)
XVIII. Apakah Ummī Berasal dari “Umm al-Qurā”?
Ini adalah argumen yang sangat penting dalam sebagian tradisi Syiah.
Sumber Syiah: ʿIlal al-Sharāʾiʿ
Al-Ṣadūq (w. 991 M) meriwayatkan:
Arab
فَقُلْتُ: إِنَّ النَّاسَ يَزْعُمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ لَمْ يَكْتُبْ وَلَا يَقْرَأْ. فَقَالَ: كَذَبُوا لَعَنَهُمُ اللهُ، أَنَّى يَكُونُ ذَلِكَ؟
Kemudian:
وَاللهِ لَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللهِ يَقْرَأُ وَيَكْتُبُ بِاثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ أَوْ ثَلَاثَةٍ وَسَبْعِينَ لِسَانًا
Transliterasi
fa-qultu: inna al-nāsa yazʿamūna anna rasūla llāhi ṣallā Allāhu ʿalayhi wa-ālihi lam yaktub wa-lā yaqraʾ. Fa-qāla: kadhibū, laʿanahumu Allāh, annā yakūnu dhālika?
wa-Allāhi la-qad kāna rasūlu llāhi yaqraʾu wa-yaktubu bi-ithnayn wa-sabʿīna aw thalāthatin wa-sabʿīna lisānan.
Terjemahan
“Aku berkata: orang-orang beranggapan bahwa Rasul Allah tidak menulis dan tidak membaca. Ia menjawab: ‘Mereka berdusta—semoga Allah melaknat mereka. Bagaimana mungkin demikian?’”
“Demi Allah, Rasul Allah membaca dan menulis dalam 72 atau 73 bahasa.”
Sumber ini terdapat dalam ʿIlal al-Sharāʾiʿ karya al-Ṣadūq. (Usul)
XIX. Nilai Historis Riwayat Syiah Ini
Riwayat tersebut sangat penting karena menunjukkan bahwa:
tradisi Islam klasik tidak monolitik.
Ada tradisi Syiah yang secara eksplisit menolak:
Muḥammad = tidak bisa membaca/menulis.
Namun terdapat masalah serius.
Riwayat tersebut dikodifikasi oleh al-Ṣadūq sekitar abad ke-10 M, jauh setelah Muḥammad.
Selain itu, beberapa penelitian internal Syiah sendiri mempertanyakan sanad riwayat tersebut. Salah satu kajian Syiah modern bahkan mencatat masalah pada identifikasi salah satu perawi dan kualitas sanadnya. (Al-Jawadain Server)
Jadi:
Nilai sebagai bukti sejarah langsung:
rendah–menengah.
Nilai sebagai bukti sejarah perkembangan doktrin:
sangat tinggi.
XX. Riwayat Syiah yang Lebih Moderat
Dalam tradisi Syiah terdapat pula riwayat:
Arab
كَانَ النَّبِيُّ يَقْرَأُ الْكِتَابَ وَلَا يَكْتُبُ
Transliterasi
kāna al-nabiyyu yaqraʾu al-kitāba wa-lā yaktubu.
Terjemahan
“Nabi membaca tulisan tetapi tidak menulis.”
Ini menarik karena menghasilkan kemungkinan ketiga:
literat pasif tetapi tidak literat produktif.
Dengan kata lain:
membaca = ya;
menulis = tidak.
Hal ini menunjukkan bahwa istilah “literasi” sendiri terlalu kasar untuk menggambarkan realitas sejarah.
XXI. Apakah Muḥammad Menulis Surat kepada Para Raja?
Tradisi Islam menyebut surat-surat kepada:
Heraclius;
Kisra;
al-Muqawqis;
penguasa Bahrain;
penguasa Yaman;
dan lain-lain.
Tetapi fakta bahwa surat tersebut disebut:
كتاب رسول الله
“surat Rasul Allah”
tidak berarti Muḥammad sendiri memegang pena.
Dalam budaya administrasi, seorang penguasa dapat “menulis surat” dalam arti:
mengeluarkan/mendiktekan surat.
Hal yang sama terjadi dalam bahasa modern:
“Presiden menulis surat kepada…”
meskipun sekretaris yang mengetiknya.
Karena itu bukti tersebut tidak konklusif.
XXII. Apakah Perintah “Tulislah” kepada Para Sahabat Membuktikan Muḥammad Tidak Bisa Menulis?
Tidak secara mutlak.
Yang dapat dibuktikan adalah:
praktik administrasi komunitas Muḥammad menggunakan juru tulis.
Ini tidak menentukan apakah pemimpin komunitas itu sendiri mampu menulis.
Namun, jika kita menggabungkannya dengan:
Q.S. 29:48;
hadis mā anā bi-qāriʾ;
al-nabī al-ummī;
hadis lā naktubu;
maka probabilitas historis bahwa Muḥammad tidak memiliki literasi formal sebelum kenabian menjadi cukup kuat.
XXIII. Argumen “Pedagang Pasti Bisa Membaca dan Menulis”
Argumen ini juga tidak memadai.
Muḥammad memang digambarkan sebagai pedagang.
Tetapi perdagangan tidak mensyaratkan literasi pribadi.
Seorang pedagang dapat menggunakan:
mitra;
juru tulis;
agen;
hafalan;
saksi;
sistem lisan.
Bahkan dalam masyarakat dengan perdagangan internasional, literasi dapat terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Karena itu:
“Muḥammad pedagang”
tidak sama dengan:
“Muḥammad pasti literat.”
XXIV. Bukti Epigrafis: Arabia Tidak “Non-Literate”
Di sisi lain, tidak benar pula jika kita menggambarkan Hijaz sebagai dunia tanpa tulisan.
Proyek OCIANA Oxford menunjukkan banyak sekali korpus tulisan Arabia Utara kuno—Dadanitic, Safaitic, Hismaic, Taymanitic dan lainnya. (krc.orient.ox.ac.uk)
Kajian epigrafi juga menunjukkan perkembangan praktik tulisan yang cukup sophisticated sebelum dan sekitar munculnya Islam. (De Gruyter Brill)
Tetapi:
Tidak ditemukan sebuah prasasti yang berbunyi:
“Muḥammad ibn ʿAbd Allāh tidak dapat membaca.”
atau:
“Muḥammad ibn ʿAbd Allāh dapat membaca.”
Ini sangat penting.
Epigrafi memberi konteks sosial, bukan biografi langsung Muḥammad.
XXV. Apakah Ada Sumber Non-Muslim Awal tentang Literasi Muḥammad?
Sejauh bukti yang tersedia, tidak ada sumber non-Muslim abad ke-7 yang secara eksplisit mengatakan apakah Muḥammad bisa membaca atau menulis.
Ini adalah argument from silence.
Kita tidak boleh mengatakan:
“Karena sumber non-Muslim tidak menyebutnya, berarti ia buta huruf.”
Tetapi kita juga tidak boleh mengatakan:
“Karena tidak ada sumber non-Muslim yang menyebutnya buta huruf, berarti ia literat.”
Kesimpulan yang benar:
sumber eksternal awal tidak memberikan penyelesaian terhadap persoalan ini.
XXVI. Daftar Sumber Kuno/Klasik yang Relevan
Berikut korpus sumber yang dapat digunakan dalam penelitian lanjutan:
| No. | Sumber | Periode | Posisi |
|---|---|---|---|
| 1 | Q.S. 7:157 | abad VII | ummī |
| 2 | Q.S. 7:158 | abad VII | al-nabī al-ummī |
| 3 | Q.S. 29:48 | abad VII | tidak membaca/menulis kitab sebelumnya |
| 4 | Q.S. 62:2 | abad VII | ummiyyīn |
| 5 | Q.S. 2:78 | abad VII | ummiyyūn |
| 6 | Q.S. 3:20 | abad VII | ummiyyīn vs ahl al-kitāb |
| 7 | Q.S. 3:75 | abad VII | ummiyyīn |
| 8 | Q.S. 96:1–5 | abad VII | iqraʾ, pena |
| 9 | Q.S. 68:1 | abad VII | pena |
| 10 | Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Badʾ al-Waḥy | abad IX | mā anā bi-qāriʾ |
| 11 | Ṣaḥīḥ Muslim, Īmān | abad IX | awal wahyu |
| 12 | Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣawm | abad IX | lā naktubu |
| 13 | Ṣaḥīḥ Muslim, Ṣiyām | abad IX | lā naktubu |
| 14 | Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Maghāzī | abad IX | Ḥudaybiyyah |
| 15 | Ṣaḥīḥ Muslim, Jihād | abad IX | Ḥudaybiyyah |
| 16 | Ibn Isḥāq/Ibn Hishām, Sīrah | VIII–IX | tradisi biografis |
| 17 | al-Wāqidī, Maghāzī | IX | Ḥudaybiyyah |
| 18 | Ibn Saʿd, Ṭabaqāt | IX | biografi |
| 19 | al-Balādhurī, Ansāb al-Ashrāf | IX | biografi |
| 20 | al-Ṭabarī, Tafsīr | IX–X | makna ummī |
| 21 | al-Ṭabarī, Tārīkh | IX–X | historiografi |
| 22 | Ibn Abī Shaybah, Muṣannaf | IX | tradisi menulis |
| 23 | Aḥmad b. Ḥanbal, Musnad | IX | Ḥudaybiyyah |
| 24 | al-Nasāʾī, Sunan | IX | Ḥudaybiyyah |
| 25 | al-Bayhaqī, Dalāʾil al-Nubuwwah | XI | literasi/mukjizat |
| 26 | al-Bukhārī melalui riwayat al-Barāʾ | IX | fa-kataba |
| 27 | al-Nawawī, Sharḥ Muslim | XIII | analisis kontroversi fa-kataba |
| 28 | Ibn Ḥajar, Fatḥ al-Bārī | XV | kritik varian riwayat |
| 29 | Ibn Manẓūr, Lisān al-ʿArab | XIII–XIV | definisi ummī |
| 30 | al-Rāghib al-Aṣfahānī, Mufradāt | XI | semantik ummī |
| 31 | al-Zamakhsharī, al-Kashshāf | XII | tafsir ummī |
| 32 | Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Tafsīr | XII | argumentasi teologis |
| 33 | al-Qurṭubī, Tafsīr | XIII | literasi Muḥammad |
| 34 | al-Ṣadūq, ʿIlal al-Sharāʾiʿ | X | Muḥammad literat |
| 35 | al-Ṣafār al-Qummī, Baṣāʾir al-Darajāt | X | membaca/menulis |
| 36 | al-Kulaynī, korpus hadis Syiah | X | tradisi literasi |
| 37 | al-Mufīd | X–XI | ummī |
| 38 | al-Majlisī, Biḥār al-Anwār | XVII | kompilasi tradisi |
| 39 | OCIANA | pra-Islam/awal Islam | bukti epigrafis |
| 40 | Inskripsi Arabia Utara | pra-Islam | konteks literasi |
Catatan: daftar ini bukan berarti 40 sumber tersebut independen. Banyak merupakan transmisi dari tradisi yang sama. Dalam penelitian sejarah, 40 buku tidak otomatis berarti 40 kesaksian independen.
XXVII. Rekonstruksi Kronologis
Sekarang mari kita susun kemungkinan historis.
Tahap 1 — Masa sebelum kenabian
Tradisi mayoritas menggambarkan Muḥammad sebagai:
ummī
dan tidak membaca/menulis.
Q.S. 29:48 mendukung bahwa sebelum wahyu Qur’ani ia tidak membaca kitab dan tidak menulisnya.
Tingkat keyakinan:
cukup tinggi dalam historiografi Islam tradisional.
Tahap 2 — Awal kenabian
Hadis:
مَا أَنَا بِقَارِئٍ
mā anā bi-qāriʾ
menunjukkan kesulitan membaca pada episode awal wahyu.
Tingkat keyakinan historis:
menengah–tinggi, jika menerima kerangka hadis Sunni.
Tahap 3 — Masa Madinah
Di sini situasi menjadi lebih rumit.
Muḥammad:
mendiktekan dokumen;
memiliki para penulis;
mengeluarkan surat;
mengatur dokumen;
terlibat dalam perjanjian tertulis.
Hal ini membuktikan:
Muḥammad hidup dalam lingkungan administratif yang literat.
Tetapi belum membuktikan literasi pribadinya.
Tahap 4 — Ḥudaybiyyah
Muncul:
فكتب
“lalu ia menulis.”
Ini merupakan bukti tekstual paling kuat bagi kemungkinan bahwa ia melakukan tindakan menulis sendiri.
Tetapi terdapat:
varian riwayat;
interpretasi gramatikal;
perbedaan ulama;
kemungkinan fa-kataba = “memerintahkan penulisan”.
Karena itu bukti tersebut ambigu, bukan palsu dan bukan pula bukti konklusif.
XXVIII. Apakah Q.S. 29:48 Menghalangi Kemungkinan Ia Belajar Setelah Kenabian?
Tidak secara mutlak.
Ayat berbunyi:
مِنْ قَبْلِهِ
min qablihi
“sebelumnya.”
Maka pembacaan literal paling sempit adalah:
“Sebelum al-Qur’an, engkau tidak membaca kitab dan tidak menulisnya.”
Ini tidak menyatakan secara eksplisit:
“Setelah itu engkau selamanya tidak akan bisa menulis.”
Sebagian ulama klasik bahkan menggunakan argumen ini untuk memungkinkan adanya perubahan kemampuan setelah kenabian. Ibn Ḥajar mencatat perdebatan tersebut. (Hadith Portal)
XXIX. Tetapi Mengapa Mayoritas Ulama Tetap Menganggapnya Ummī?
Karena mereka menggabungkan seluruh data:
al-nabī al-ummī;
mā anā bi-qāriʾ;
lā naktubu;
Q.S. 29:48;
praktik penggunaan para juru tulis;
tujuan teologis bahwa al-Qur’an bukan hasil membaca kitab sebelumnya.
Dari kombinasi itu terbentuk doktrin:
Muḥammad tidak membaca dan menulis.
Ini menjadi pandangan Sunni dominan.
XXX. Argumentasi Teologis vs Argumentasi Historis
Ini perlu dipisahkan secara tegas.
Argumen teologis
“Muḥammad tidak bisa membaca dan menulis sehingga al-Qur’an pasti bukan hasil membaca kitab sebelumnya.”
Ini merupakan argumentasi apologetik/teologis.
Argumen historis
“Apakah Muḥammad secara empiris tidak mampu membaca dan menulis?”
Ini adalah pertanyaan sejarah.
Metode sejarah tidak dapat menyimpulkan:
“Karena al-Qur’an adalah wahyu, maka Muḥammad pasti buta huruf.”
Itu membalikkan metode.
Sebaliknya, seorang kritikus juga tidak boleh mengatakan:
“Karena al-Qur’an sangat kompleks, Muḥammad pasti bisa membaca.”
Itu juga bukan bukti.
XXXI. Persoalan “Menulis Al-Qur’an”
Salah satu kesalahpahaman populer adalah:
“Kalau Muḥammad buta huruf, bagaimana Al-Qur’an bisa menjadi kitab?”
Jawabannya sederhana:
kemampuan pengarang/penyampai dan kemampuan juru tulis berbeda.
Budaya oral dapat menghasilkan teks tertulis.
Model yang mungkin:
recitation → memorization → dictation → writing
bukan:
author → personally writes manuscript.
Karena itu keberadaan mushaf tidak membuktikan Muḥammad sendiri menulisnya.
XXXII. “Iqraʾ” dan Makna “Membaca”
Ada persoalan tambahan.
Kata:
اقرأ
iqraʾ
berasal dari akar ق ر أ.
Maknanya dapat berhubungan dengan:
membaca;
melafalkan;
membacakan;
mengucapkan.
Dalam budaya oral, qirāʾah tidak selalu identik dengan membaca tulisan.
Hal ini sangat penting untuk memahami awal wahyu.
XXXIII. “Yang Mengajarkan dengan Pena”
Q.S. al-ʿAlaq 96:4:
Arab
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Transliterasi
alladhī ʿallama bi-l-qalam.
Terjemahan
“Yang mengajar dengan pena.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa pena dan tulisan merupakan konsep yang sangat penting dalam dunia Qur’ani.
Tetapi ayat tersebut tidak mengatakan:
“Muḥammad sendiri menggunakan pena.”
Justru secara teologis ayat tersebut dapat dibaca sebagai kontras:
Allah mengajarkan manusia melalui pena, sedangkan Muḥammad menerima wahyu melalui proses kenabian.
XXXIV. Tradisi Ummī sebagai “Gentile/Scriptureless”
Secara historis-kritis, ini merupakan hipotesis penting.
Dalam Q.S. 3:20:
وَالْأُمِّيِّينَ
berdiri berlawanan dengan:
الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
“orang-orang yang diberi kitab.”
Dengan demikian ummiyyūn dapat mempunyai makna:
“orang-orang di luar komunitas kitab.”
Dalam konteks ini, ummī tidak harus berarti:
“tidak bisa membaca.”
Kajian Nicolai Sinai secara eksplisit menempatkan ummī dalam analisis istilah Qur’ani, termasuk hubungannya dengan kategori scriptural/non-scriptural dalam Late Antiquity. (ORA)
XXXV. Namun Apakah Teori “Ummī = Gentile” Menyelesaikan Masalah?
Tidak.
Karena walaupun ummī dapat berarti “scriptureless”, tetap ada bukti lain:
مَا أَنَا بِقَارِئٍ
dan
وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ
serta tradisi:
لَا يَكْتُبُ
Jadi:
Kesimpulan:
“Ummī tidak harus berarti buta huruf”
benar.
Tetapi:
“Karena ummī tidak selalu berarti buta huruf, maka Muḥammad pasti literat”
tidak benar.
XXXVI. Masalah Kronologi Sumber
Ini merupakan kritik paling penting.
Muḥammad wafat:
sekitar 632 M.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dikodifikasi:
abad ke-9.
Al-Ṭabarī:
abad ke-9–10.
Ibn Manẓūr:
abad ke-13–14.
Al-Ṣadūq:
abad ke-10.
Karena itu kita harus membedakan:
Bukti langsung
dokumen yang berasal dari masa Muḥammad.
Bukti dekat
tradisi yang dapat ditelusuri kepada generasi awal.
Bukti retrospektif
interpretasi beberapa abad kemudian.
Ini membuat kesimpulan absolut menjadi sulit.
XXXVII. Kritik Isnād
Dalam tradisi hadis Sunni, sanad memberikan alat evaluasi:
siapa meriwayatkan dari siapa?
Namun sanad yang tampak lengkap tidak otomatis membuktikan bahwa:
teks tersebut secara verbatim berasal dari Muḥammad.
Sejarawan modern juga memeriksa:
common link;
perkembangan matn;
varian redaksi;
konteks polemik;
fungsi teologis;
kronologi penyebaran hadis.
Karena itu penelitian historis modern tidak sekadar bertanya:
“Apakah Bukhārī menilai hadis ini sahih?”
tetapi:
“Apa yang dapat kita simpulkan secara historis dari keberadaan tradisi ini?”
XXXVIII. Kritik Matn terhadap Hadis Ḥudaybiyyah
Kita memiliki beberapa bentuk:
A
فكتب
“ia menulis.”
B
فمحاها وكتب ابن عبد الله
“ia menghapusnya dan menulis ‘Ibn ʿAbd Allāh’.”
C
فأمر عليا أن يمحاها
“ia memerintahkan ʿAlī menghapusnya.”
Perbedaan redaksi menunjukkan bahwa tradisi telah mengalami variasi transmisi.
Namun fakta bahwa motif “Muḥammad menulis/menghapus” muncul berulang dalam tradisi yang berbeda membuatnya tidak layak begitu saja dibuang.
Sebaliknya, kita juga tidak dapat mengabaikan redaksi yang secara eksplisit menggambarkan ʿAlī sebagai penulis.
XXXIX. Apakah Hadis Ḥudaybiyyah Lebih Kuat daripada Q.S. 29:48?
Tidak tepat membandingkannya begitu saja.
Al-Qur’an adalah sumber abad ke-7 yang paling dekat.
Hadis adalah sumber transmisi kemudian.
Namun ayat 29:48 berbicara tentang:
sebelum al-Qur’an
sedangkan Ḥudaybiyyah terjadi:
beberapa tahun setelah kenabian.
Maka keduanya dapat secara logis direkonsiliasikan:
Model A
Muḥammad tidak literat sebelum kenabian → tetap tidak literat.
Model B
Muḥammad tidak literat sebelum kenabian → memperoleh kemampuan terbatas kemudian.
Model C
Muḥammad tidak membaca kitab sebelumnya → tetapi ummī bukan sinonim “buta huruf”.
Model D
Muḥammad mampu menulis secara terbatas tetapi tidak memiliki literasi kitabiah.
Semua model tersebut secara logis mungkin.
XL. Penilaian Probabilitas Historis
Jika kita menyusun bukti secara kritis:
| Hipotesis | Penilaian |
|---|---|
| Muḥammad tidak memiliki pendidikan literasi formal sebelum kenabian | cukup mungkin/kuat |
| Muḥammad tidak dapat membaca kitab sebelum kenabian | didukung kuat tradisi |
| Muḥammad tidak dapat menulis sebelum kenabian | didukung kuat tradisi |
| Ummī selalu berarti “buta huruf” | tidak dapat dipertahankan secara semantik absolut |
| Muḥammad tidak pernah menulis satu huruf pun sepanjang hidupnya | tidak dapat dibuktikan dengan kepastian |
| Muḥammad menulis secara fungsional setelah kenabian | mungkin, tetapi bukti ambigu |
| Muḥammad menjadi penulis terdidik penuh | tidak didukung bukti kuat |
| Muḥammad mampu membaca/menulis dalam banyak bahasa | berasal terutama dari tradisi Syiah yang problematis sanadnya |
| Arabia pra-Islam sepenuhnya buta huruf | salah |
| Keberadaan tulisan di Arabia membuktikan Muḥammad literat | salah |
XLI. Kesimpulan Utama
Setelah membandingkan al-Qur’an, hadis Sunni, sīrah, tafsir, kamus klasik, tradisi Syiah dan bukti epigrafis, jawaban terhadap pertanyaan:
“Benarkah Muhammad buta huruf?”
harus dibuat dalam beberapa tingkat.
Kesimpulan 1 — Menurut tradisi Islam Sunni klasik
Ya.
Mayoritas ulama memahami Muḥammad sebagai:
الأمي
dalam arti:
tidak membaca dan tidak menulis.
Hal tersebut didukung oleh:
Q.S. 7:157;
Q.S. 29:48;
hadis mā anā bi-qāriʾ;
hadis innā ummatun ummiyyah lā naktubu;
tafsir al-Ṭabarī;
tradisi leksikografis.
XLII. Kesimpulan 2 — Menurut analisis linguistik
Jawabannya:
tidak sesederhana itu.
Ummī tidak selalu identik dengan “buta huruf”.
Dalam beberapa konteks Qur’ani, ummī tampaknya berfungsi sebagai lawan dari:
ahl al-kitāb
“orang-orang yang memiliki kitab.”
Karena itu terjemahan:
“unlettered”
atau:
“gentile/scriptureless”
dapat menjadi pilihan bergantung konteks.
XLIII. Kesimpulan 3 — Menurut sejarah kritis
Pernyataan:
“Muḥammad pasti tidak bisa membaca dan menulis sepanjang hidupnya”
tidak dapat dibuktikan secara absolut.
Alasannya:
Q.S. 29:48 dibatasi oleh مِنْ قَبْلِهِ — min qablihi (“sebelumnya”).
Riwayat Ḥudaybiyyah memiliki redaksi فكتب — fa-kataba.
Beberapa ulama klasik menerima pembacaan literal bahwa ia menulis.
Tradisi Syiah tertentu bahkan menyatakan ia dapat membaca dan menulis.
Bukti sosial menunjukkan lingkungan Hijaz mengenal tulisan.
XLIV. Kesimpulan 4 — Tetapi “Muḥammad pasti literat” juga tidak terbukti
Kita tidak mempunyai:
surat asli yang dapat dipastikan ditulis tangan Muḥammad;
prasasti bertanda tangan Muḥammad;
manuskrip yang dapat diverifikasi sebagai tulisan tangan Muḥammad;
dokumen administratif kontemporer yang secara eksplisit menyatakan “Muḥammad menulis sendiri”.
Karena itu klaim:
“Muḥammad sebenarnya seorang penulis terdidik”
juga lebih jauh daripada bukti yang tersedia.
XLV. Kesimpulan Akhir yang Paling Netral
Jika penelitian ini harus menghasilkan satu proposisi akademis, maka formulasi paling defensible adalah:
Bukti tradisional Islam secara kuat menggambarkan Muḥammad sebagai tidak membaca dan tidak menulis sebelum atau pada awal kenabian, tetapi istilah Qur’ani al-ummī tidak secara linguistik harus berarti “buta huruf” dalam setiap konteks. Selain itu, sejumlah riwayat mengenai Ṣulḥ al-Ḥudaybiyyah membuka kemungkinan bahwa pada masa setelah kenabian Muḥammad memiliki kemampuan menulis yang terbatas, atau setidaknya melakukan tindakan yang oleh sebagian transmisi disebut “menulis”. Bukti tersebut tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang literat penuh, tetapi juga membuat klaim absolut bahwa ia tidak pernah mampu membaca atau menulis sepanjang hidupnya menjadi tidak pasti secara historiografis.
Dengan demikian:
“Muḥammad buta huruf”
adalah kesimpulan tradisional yang sangat kuat.
“Muḥammad pasti tidak bisa membaca/menulis seumur hidup”
adalah klaim yang lebih kuat daripada apa yang dapat dipastikan oleh metode sejarah modern.
“Muḥammad pasti bisa membaca dan menulis”
juga tidak terbukti secara memadai.
Posisi akademis yang paling hati-hati adalah:
ketidakliteratan awal/ketidakmampuan membaca kitab sangat mungkin dan sangat kuat dalam tradisi awal Islam; status literasinya setelah kenabian tetap terbuka dan diperdebatkan.
XLVI. Catatan Penting tentang “Buta Huruf”
Ada satu kesalahan terminologis yang sebaiknya dihindari.
Jangan menyamakan:
أُمِّيّ — ummī
dengan:
جاهل — jāhil
“bodoh”.
Tradisi Islam sendiri tidak menjadikan ummī sebagai sinonim kebodohan.
Seseorang dapat:
tidak membaca dan menulis,
tetapi:
sangat cerdas, memiliki kemampuan retorika tinggi, memori kuat, pengetahuan sosial luas, kemampuan politik dan administratif.
Karena itu istilah “buta huruf” dalam bahasa Indonesia tidak boleh diterjemahkan menjadi:
“Muḥammad tidak berpendidikan atau tidak berpengetahuan.”
Itu adalah dua proposisi berbeda.
XLVII. Bibliografi Primer
Al-Qur’an
Q.S. 2:78
Q.S. 3:20
Q.S. 3:75
Q.S. 7:157–158
Q.S. 29:48
Q.S. 62:2
Q.S. 96:1–5
Q.S. 68:1
Hadis
al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ, Kitāb Badʾ al-Waḥy.
al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ, Kitāb al-Ṣawm.
al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ, Kitāb al-Maghāzī.
Muslim, Ṣaḥīḥ, Kitāb al-Īmān.
Muslim, Ṣaḥīḥ, Kitāb al-Ṣiyām.
Muslim, Ṣaḥīḥ, Kitāb al-Jihād wa-l-Siyar.
Aḥmad b. Ḥanbal, al-Musnad.
al-Nasāʾī, al-Sunan.
Ibn Abī Shaybah, al-Muṣannaf.
Sīrah dan sejarah
Ibn Isḥāq, al-Sīrah al-Nabawiyyah, melalui Ibn Hishām.
al-Wāqidī, al-Maghāzī.
Ibn Saʿd, al-Ṭabaqāt al-Kubrā.
al-Balādhurī, Ansāb al-Ashrāf.
al-Ṭabarī, Tārīkh al-Rusul wa-l-Mulūk.
al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān.
Tafsir dan leksikografi
al-Ṭabarī.
al-Zamakhsharī, al-Kashshāf.
Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb.
al-Qurṭubī, al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān.
al-Rāghib al-Aṣfahānī, Mufradāt Alfāẓ al-Qurʾān.
Ibn Manẓūr, Lisān al-ʿArab.
Tradisi Syiah
al-Ṣadūq, ʿIlal al-Sharāʾiʿ.
al-Ṣafār al-Qummī, Baṣāʾir al-Darajāt.
al-Kulaynī, al-Kāfī.
al-Mufīd, karya-karya teologi dan hadis.
al-Majlisī, Biḥār al-Anwār.
XLVIII. Bibliografi Akademik Modern
Nicolai Sinai, Key Terms of the Qur’an: A Critical Dictionary, Princeton University Press, 2023. Karya ini merupakan salah satu rujukan modern paling penting untuk kajian semantik historis istilah Qur’ani dan menggunakan pendekatan multidisipliner, termasuk sumber Yahudi-Kristen, puisi Arab pra-Islam, dan epigrafi Arabia. (ORA)
Kajian Oxford mengenai linguistik Arabia pra-Islam juga secara khusus membahas writing, literacy, emergence of Arabic script, dan multilingualism, sehingga penting untuk menghindari stereotip bahwa Arabia pra-Islam merupakan masyarakat tanpa tulisan. (OUP Academic)
Kajian tentang perkembangan ortografi Hijazi menunjukkan bahwa praktik kepenulisan di Hijaz sudah memiliki tingkat formalitas dan kompleksitas sebelum Islam, meskipun distribusi literasi individual tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan sistem tulisan. (De Gruyter Brill)
Putusan akhir penelitian
| Pertanyaan | Jawaban akademis |
|---|---|
| Apakah tradisi Islam mayoritas menganggap Muhammad tidak bisa membaca/menulis? | Ya, sangat kuat. |
| Apakah Q.S. 29:48 mendukung ketidakmampuan membaca/menulis? | Ya, terutama sebelum al-Qur’an. |
| Apakah ummī selalu berarti buta huruf? | Tidak harus. |
| Apakah ummī dapat berarti scriptureless/gentile? | Ya, ada dasar semantik yang serius. |
| Apakah ada hadis yang tampaknya mengatakan Muhammad menulis? | Ya, terutama Ḥudaybiyyah. |
| Apakah hadis tersebut tidak terbantahkan? | Tidak. |
| Apakah sebagian ulama klasik menganggap Muhammad benar-benar menulis? | Ya. (Islamweb) |
| Apakah ada tradisi Syiah yang menyatakan Muhammad literat? | Ya. (Usul) |
| Apakah sanad tradisi tersebut bebas masalah? | Tidak selalu. |
| Apakah ada dokumen asli tulisan tangan Muhammad? | Tidak ada yang dapat diverifikasi secara independen. |
| Apakah Arabia pra-Islam mengenal tulisan? | Ya, jelas. (krc.orient.ox.ac.uk) |
| Apakah itu membuktikan Muhammad literat? | Tidak. |
| Apakah dapat dibuktikan ia buta huruf seumur hidup? | Tidak dengan kepastian absolut. |
| Posisi paling hati-hati? | Kemungkinan kuat tidak literat secara formal pada awal kenabian; status literasi setelahnya tetap terbuka. |
Jadi, jika pertanyaannya adalah “Benarkah Muhammad buta huruf?” jawaban ilmiah yang paling tepat bukan sekadar “ya” atau “tidak”. Secara historis, tradisi paling awal dan paling dominan memang mempresentasikannya sebagai ummī dan tidak mampu membaca/menulis; tetapi ketika seluruh korpus sumber dibaca secara kritis, terutama Q.S. 29:48, variasi redaksi Ḥudaybiyyah, dan tradisi Syiah, bukti tidak cukup untuk menyatakan dengan kepastian historis bahwa ia sama sekali tidak pernah memperoleh kemampuan membaca atau menulis sampai akhir hidupnya.
No comments:
Post a Comment