VARIAN AL-QUR’AN
Kajian Kritis dan Komprehensif tentang Qirāʾāt, Aḥruf, Rasm, Manuskrip Awal, dan Sejarah Kodifikasi Teks Al-Qur’an
Abstrak
Perdebatan mengenai “varian Al-Qur’an” sering kali berlangsung dalam dua ekstrem. Di satu sisi, sebagian apologet Muslim menyatakan bahwa Al-Qur’an sama sekali tidak memiliki variasi tekstual dan bahwa seluruh perbedaan yang ditemukan hanyalah variasi pelafalan yang sepenuhnya identik. Di sisi lain, sebagian polemis anti-Islam menggambarkan qirāʾāt, manuskrip Ṣanʿāʾ, kodifikasi ʿUtsmān, serta laporan tentang muṣḥaf para sahabat sebagai bukti bahwa Al-Qur’an pada dasarnya merupakan kumpulan “versi” yang saling bersaing. Kedua pendekatan tersebut sering gagal membedakan sejumlah kategori yang secara filologis dan historis berbeda: aḥruf, qirāʾāt, riwāyāt, rasm ʿUtsmānī, variasi ortografis, varian bacaan yang berbasis pada rasm, varian manuskrip, serta varian yang dinisbatkan kepada muṣḥaf sahabat.
Artikel ini melakukan kajian kritis terhadap fenomena tersebut dengan memadukan sumber-sumber Islam klasik, hadis, literatur qirāʾāt, tafsir awal, penelitian manuskrip, paleografi, filologi Arab, serta studi akademik modern. Bukti menunjukkan bahwa tradisi Al-Qur’an sejak periode awal memang memiliki pluralitas bacaan yang nyata, bukan semata-mata fenomena modern. Hadis tentang “tujuh aḥruf” sendiri menggambarkan dua sahabat membaca Sūrah al-Furqān secara berbeda dan Nabi mengafirmasi kedua bacaan tersebut. Tradisi sejarah Islam juga mengakui adanya standardisasi pada masa ʿUtsmān, termasuk pengiriman sejumlah muṣḥaf standar dan penghentian penggunaan bahan-bahan Al-Qur’an lain.
Di sisi manuskrip, sebagian besar manuskrip Qur’ani awal yang masih dapat diteliti termasuk dalam suatu tipe teks yang secara umum disebut ʿUthmānic text type, tetapi palimpsest Ṣanʿāʾ memperlihatkan bahwa terdapat lapisan tekstual awal yang tidak sepenuhnya identik dengan tradisi ʿUtsmānī. Penelitian Sadeghi dan Bergmann menunjukkan adanya teks bawah (lower text) yang dapat ditempatkan pada paruh pertama abad ke-7 dan mempunyai perbedaan tertentu dari teks ʿUtsmānī.
Kajian qirāʾāt juga menunjukkan bahwa variasi tidak terbatas pada perubahan bunyi, tetapi dalam sejumlah kasus menyangkut morfologi, sintaksis, bentuk kata, bahkan perspektif makna. Misalnya Q. 3:146 memiliki bacaan qutila (“dibunuh”) dan qātala (“berperang”), yang menghasilkan perbedaan gramatikal dan semantik yang nyata. Database Corpus Coranicum mendokumentasikan variasi tersebut berdasarkan al-Akhfash, Hūd b. Muḥakkam, al-Ṭabarī, Ibn Mujāhid, Ibn Khālawayh, Ibn Jinnī, al-Dānī, dan sumber-sumber lainnya.
Namun, keberadaan varian tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Al-Qur’an modern merupakan “teks yang rusak” atau “terdiri dari puluhan Al-Qur’an yang berbeda”. Sebaliknya, bukti manuskrip menunjukkan suatu pola yang lebih kompleks: terdapat keragaman pada tahap awal, kemudian terjadi proses standardisasi rasm dan akhirnya terjadi standardisasi serta kanonisasi tradisi bacaan. Dengan demikian, persoalan ilmiahnya bukan “ada atau tidak ada varian”, melainkan seberapa luas variasinya, jenis apa yang terdapat, kapan variasi itu muncul, bagaimana ia ditransmisikan, kapan sebagian variasi disingkirkan atau dinyatakan non-kanonik, dan apa konsekuensi teologis dari proses tersebut.
Kata kunci: Al-Qur’an, qirāʾāt, aḥruf, rasm ʿUtsmānī, Ṣanʿāʾ palimpsest, manuskrip Qur’an, kodifikasi, textual criticism, canonization, varian bacaan.
1. Pendahuluan
Al-Qur’an menempati posisi yang unik dalam sejarah teks keagamaan. Di dalam Islam, Al-Qur’an tidak dipandang sekadar sebagai kitab yang ditulis, tetapi sebagai wahyu Allah yang diturunkan, dibaca, dihafal, diajarkan, dan ditransmisikan. Karena itu, transmisi Al-Qur’an sejak awal merupakan fenomena ganda: oral dan tulisan.
Situasi tersebut membuat istilah “teks Al-Qur’an” menjadi lebih kompleks dibandingkan definisi sederhana berupa satu rangkaian huruf yang tertulis. Dalam sejarah Islam berkembang sebuah tradisi bacaan yang sangat terperinci: Nāfiʿ, Ibn Kathīr, Abū ʿAmr, Ibn ʿĀmir, ʿĀṣim, Ḥamzah, al-Kisāʾī, dan kemudian tiga tradisi tambahan yang membentuk sistem sepuluh qirāʾāt kanonik.
Sementara itu, penelitian manuskrip menunjukkan bahwa teks tertulis paling awal juga tidak selalu identik pada tingkat detail. Sebagian variasi bersifat ortografis, sebagian adalah hasil keterbatasan tulisan Arab awal yang belum memiliki sistem titik dan vokal lengkap, tetapi sebagian lain melibatkan kata, susunan, atau bentuk gramatikal.
Oleh karena itu, penelitian yang serius harus menghindari dua asumsi awal:
“Al-Qur’an hanya satu bentuk tulisan, sehingga semua perbedaan pasti bukan varian.”
“Setiap perbedaan berarti terdapat Al-Qur’an yang berbeda secara substansial.”
Keduanya terlalu sederhana.
Masalah penelitian utama artikel ini adalah:
Sejauh mana Al-Qur’an memiliki varian tekstual dan bacaan, bagaimana varian tersebut muncul dan ditransmisikan, serta apakah bukti historis mendukung model “satu teks sejak awal”, model “pluralitas kemudian standardisasi”, atau model lain?
2. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode historical-critical textual analysis dengan pendekatan multidisipliner.
Sumber dianalisis dalam lima lapisan:
2.1. Sumber Islam primer dan awal
Termasuk:
al-Qur’an;
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī;
Ṣaḥīḥ Muslim;
tafsir awal;
literatur maṣāḥif;
literatur qirāʾāt.
Hadis mengenai tujuh aḥruf, misalnya, secara eksplisit mencatat adanya dua bentuk pembacaan yang berbeda yang kemudian keduanya dikonfirmasi Nabi.
2.2. Sumber filologis
Termasuk karya-karya:
Ibn Mujāhid;
Ibn Khālawayh;
Ibn Jinnī;
al-Dānī;
ahli nahwu dan leksikografi Arab awal.
Corpus Coranicum menunjukkan bahwa karya-karya tafsir dan kebahasaan sejak abad ke-8 hingga ke-10 telah mencatat banyak varian bacaan.
2.3. Bukti manuskrip
Termasuk:
manuskrip tipe ʿUtsmānī;
Ṣanʿāʾ palimpsest;
Codex Parisino-Petropolitanus;
manuskrip Qur’an awal lainnya.
2.4. Studi akademik modern
Artikel menggunakan penelitian:
Behnam Sadeghi dan Uwe Bergmann;
François Déroche;
Shady Hekmat Nasser;
Marijn van Putten;
Corpus Coranicum.
2.5. Prinsip evaluasi
Setiap bukti dievaluasi berdasarkan:
usia sumber;
jarak antara sumber dan peristiwa;
independensi sumber;
jenis transmisinya;
konsistensi internal;
kemungkinan perubahan transmisi;
konfirmasi manuskrip;
dan perbedaan antara klaim teologis dan klaim sejarah.
3. Memahami Istilah “Varian Al-Qur’an”
Salah satu kesalahan terbesar dalam perdebatan mengenai Al-Qur’an adalah menyamakan semua jenis variasi.
3.1. Aḥruf
Hadis menyatakan:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dalam tujuh aḥruf.”
Hadis tersebut muncul dalam beberapa jalur tradisi, termasuk Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim.
Namun, istilah aḥruf sangat problematis secara definisional. Para ulama Muslim sendiri menghasilkan banyak interpretasi terhadapnya. Ia pernah dipahami sebagai:
dialek;
bentuk linguistik;
variasi kata;
variasi fonetik;
bentuk penyampaian;
atau kategori tertentu dari fleksibilitas bacaan.
Karena itu:
“Tujuh aḥruf” tidak boleh begitu saja disamakan dengan “tujuh qirāʾāt”.
Kesamaan angka tujuh menyesatkan bila dipakai sebagai bukti identitas konsep.
4. Qirāʾāt Bukan Sama dengan Aḥruf
Sistem qirāʾāt yang terkenal secara historis berkembang kemudian.
Ibn Mujāhid (w. 936 M) memainkan peranan penting dalam menjadikan tujuh tradisi bacaan sebagai kelompok yang sangat menonjol. Corpus Coranicum mencatat bahwa sebelum dan sesudah Ibn Mujāhid terdapat sejumlah besar bacaan yang beredar, termasuk bacaan yang kemudian diklasifikasikan sebagai non-kanonik.
Studi Shady Nasser secara khusus menunjukkan bahwa proses kanonisasi qirāʾāt tidak sederhana. Ia membahas:
transmisi bacaan;
teori tawātur;
kodifikasi tujuh bacaan;
dan kemunculan shawādhdh, yakni bacaan non-kanonik.
Penelitian modern karenanya cenderung membedakan:
Aḥruf → tradisi bacaan awal → qurrāʾ regional → tujuh qirāʾāt → sepuluh qirāʾāt → sistem riwāyah yang dikenal sekarang.
5. Hadis “Tujuh Aḥruf” dan Signifikansi Historisnya
Hadis ʿUmar dan Hishām sangat penting secara historis.
ʿUmar mendengar Hishām membaca Sūrah al-Furqān dengan cara yang tidak dikenalnya. Ia membawa Hishām kepada Nabi. Hishām membaca, dan Nabi menyatakan:
هَكَذَا أُنْزِلَتْ
“Demikianlah ia diturunkan.”
Kemudian ʿUmar membaca bentuk yang diajarkan kepadanya, dan Nabi juga mengafirmasinya. Setelah itu muncul pernyataan tentang tujuh aḥruf.
Secara historis, hadis tersebut sangat penting karena menegaskan bahwa perbedaan bacaan bukan fenomena yang pertama kali muncul berabad-abad setelah Muhammad.
Dalam kerangka tradisional Islam, hadis tersebut merupakan dasar legitimasi wahyu bagi variasi.
Dalam perspektif sejarah-kritis, hadis tersebut merupakan bukti bahwa tradisi Islam sendiri mempertahankan memori tentang pluralitas bacaan pada periode awal.
Perbedaan antara kedua pendekatan tersebut bukan terutama mengenai fakta bahwa variasi pernah ada, melainkan mengenai sumber otoritas variasi tersebut.
6. Kodifikasi ʿUtsmān
Sumber Islam klasik memuat laporan penting tentang standardisasi pada masa khalifah ʿUtsmān.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4987 menyatakan bahwa terjadi kekhawatiran terhadap perselisihan bacaan. ʿUtsmān kemudian meminta ṣuḥuf yang berada bersama Ḥafṣah untuk disalin, menunjuk Zayd b. Thābit bersama beberapa Quraisy, kemudian mengirim salinan ke berbagai wilayah. Riwayat tersebut juga menyatakan bahwa bahan-bahan Qur’ani lain diperintahkan untuk dibakar.
Bagian ini penting karena sering dihilangkan dalam dua jenis narasi yang berlawanan.
Interpretasi tradisional
Standardisasi dipahami sebagai:
tindakan penyatuan umat atas teks yang benar dan mencegah konflik bacaan.
Interpretasi sejarah-kritis
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa:
terdapat cukup variasi dalam penggunaan materi Qur’ani sehingga pemerintah pusat merasa perlu melakukan standardisasi.
Keduanya tidak mutlak bertentangan.
Bahkan seorang sejarawan dapat menerima bahwa standardisasi ʿUtsmān terjadi tanpa harus menyimpulkan bahwa Al-Qur’an telah “dipalsukan”.
Standardisasi adalah fakta sejarah; penilaian teologis terhadap standardisasi merupakan pertanyaan berbeda.
7. Rasm ʿUtsmānī dan Pentingnya Tulisan Arab Awal
Manuskrip Qur’an awal tidak ditulis dengan sistem ortografi modern.
Tulisan Arab awal:
belum selalu membedakan semua konsonan dengan titik;
belum mempunyai sistem vokalisasi lengkap;
memiliki sejumlah bentuk ejaan yang berbeda dari ortografi Arab modern.
Oleh karena itu, satu rasm dapat membuka kemungkinan lebih dari satu pembacaan.
Misalnya, suatu kerangka konsonantal dapat memungkinkan interpretasi:
aktif;
pasif;
singular;
plural;
bentuk verba yang berbeda.
Hal ini sangat penting karena sebagian qirāʾāt bukan berarti “dua teks yang ditulis berbeda”, melainkan dua pembacaan yang dapat lahir dari rasm yang sama.
Namun, hubungan ini tidak sempurna. Tidak semua qirāʾāt dapat dijelaskan hanya dari rasm.
Marijn van Putten menunjukkan pentingnya mempelajari Quranic Consonantal Text (QCT) sebagai lapisan historis tersendiri. Ia juga menekankan bahwa bahasa bacaan Al-Qur’an mengalami perkembangan linguistik menuju sistem Arab Klasik yang dikenal kemudian.
8. Varian Bacaan yang Tidak Mengubah Kerangka Konsonantal
Sebagian variasi qirāʾāt terutama berkaitan dengan:
vokal;
panjang-pendek;
assimilasi;
artikulasi;
bentuk morfologis tertentu;
atau cara pelafalan.
Kategori ini dapat disebut sebagai variasi fonologis/morfologis, meskipun dalam praktiknya dampaknya terhadap makna dapat berbeda.
Dengan demikian pernyataan:
“Semua qirāʾāt hanyalah perbedaan suara.”
adalah terlalu sederhana.
Sebaliknya, pernyataan:
“Setiap qirāʾāt merupakan Al-Qur’an yang sepenuhnya berbeda.”
juga terlalu berlebihan.
9. Contoh Nyata: Q. 3:146
Q. 3:146 menjadi contoh penting.
Satu bacaan memiliki:
قُتِلَ
qutila — “dibunuh”
sedangkan bacaan lain:
قَاتَلَ
qātala — “berperang”.
Corpus Coranicum menunjukkan bahwa bacaan qutila dan qātala memang tercatat dalam tradisi bacaan, termasuk pada al-Ṭabarī dan kemudian Ibn Mujāhid serta al-Dānī.
Perbedaannya bukan sekadar aksen.
Secara sintaksis:
qutila maʿahu ribbiyyūna kaṯīr
berarti kira-kira:
“banyak kelompok orang saleh terbunuh bersamanya.”
Sedangkan:
qātala maʿahu ribbiyyūna kaṯīr
mengarah kepada:
“banyak kelompok orang saleh berperang bersamanya.”
Dengan demikian terdapat perbedaan:
bentuk kata;
suara aktif/pasif;
struktur semantik;
interpretasi kejadian historis.
Namun kedua bacaan tetap berada dalam satu kerangka tradisi Qur’ani dan tidak menghasilkan kitab yang berbeda secara total.
10. Varian Bacaan yang Lebih Substantif
Database Corpus Coranicum menunjukkan bahwa literatur awal memuat variasi yang meliputi:
penambahan kata;
penghilangan kata;
pertukaran kata;
bentuk gramatikal;
bentuk leksikal;
serta variasi dialektal.
Contoh lain muncul dalam Q. 21:104. Corpus Coranicum mencatat beberapa variasi yang dikaitkan dengan tradisi berbeda, termasuk bacaan yang dinisbatkan kepada pengikut Ibn Masʿūd.
Hal ini menunjukkan bahwa sejarah bacaan Qur’an tidak dapat direduksi menjadi “Hafs dengan sedikit variasi tajwid”.
11. Manuskrip Ṣanʿāʾ
Salah satu bukti paling penting dalam studi modern adalah Ṣanʿāʾ palimpsest, sering disebut Ṣanʿāʾ 1.
Manuskrip ini merupakan palimpsest, yaitu manuskrip di mana tulisan lama dihapus atau dikaburkan dan kemudian digunakan kembali untuk menulis teks baru.
Penelitian Behnam Sadeghi dan Uwe Bergmann meneliti lapisan atas dan lapisan bawah manuskrip tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa lapisan bawah berbeda dari tradisi teks ʿUtsmānī dan merupakan bukti penting bagi adanya tipe teks non-ʿUtsmānī. Parchment lapisan tersebut diberi tanggal melalui radiokarbon ke paruh pertama abad ke-7.
Ini merupakan temuan yang penting.
Namun harus diperhatikan:
Ṣanʿāʾ tidak berarti bahwa seluruh Al-Qur’an pada masa awal memiliki bentuk yang sama sekali berbeda.
Sebaliknya, ia memperlihatkan adanya setidaknya satu tradisi tekstual awal yang tidak sepenuhnya identik dengan tradisi ʿUtsmānī.
Ini adalah temuan yang jauh lebih presisi daripada klaim “Al-Qur’an telah berubah total”.
12. Apa yang Berbeda pada Ṣanʿāʾ?
Studi Ṣanʿāʾ menunjukkan berbagai tipe perbedaan:
perubahan kata;
penambahan atau penghilangan unsur;
perbedaan urutan pada beberapa bagian;
perbedaan bentuk tertentu;
serta perbedaan yang memiliki paralel dalam tradisi companion codices.
Sadeghi dan Bergmann bahkan menggunakan bukti tersebut untuk membahas hubungan antara teks Ṣanʿāʾ dan apa yang dilaporkan dalam tradisi tentang muṣḥaf para sahabat.
Karena itu, Ṣanʿāʾ merupakan bukti kuat bahwa:
pada periode awal terdapat pluralitas tekstual yang lebih besar daripada yang terlihat dalam Qur’an cetak modern.
Tetapi kesimpulan yang terlalu jauh juga harus dihindari.
Satu manuskrip tidak cukup untuk membuktikan bahwa:
“mayoritas Muslim awal membaca teks non-ʿUtsmānī.”
Itu belum dapat dibuktikan.
13. Manuskrip ʿUtsmānī dan Dominasi Teks Standar
Temuan yang sama pentingnya adalah fakta bahwa sebagian besar manuskrip Qur’an awal yang masih ada berada dalam satu keluarga tekstual yang relatif stabil, yang sering disebut ʿUthmānic text type.
Inilah alasan mengapa penelitian modern tidak mendukung gambaran bahwa selama berabad-abad terdapat banyak Qur’an yang sama-sama dominan.
François Déroche menggambarkan sejarah awal Qur’an sebagai proses dari pluralitas menuju kodifikasi dan kanonisasi. Deskripsi tersebut menekankan bahwa keberagaman merupakan bagian dari sejarah awal, tetapi pada akhirnya tradisi ʿUtsmānī menjadi sangat dominan.
Dengan kata lain:
pluralitas awal ≠ pluralitas permanen.
14. Codex Parisino-Petropolitanus
Codex Parisino-Petropolitanus merupakan salah satu kumpulan fragmen manuskrip Qur’an awal yang sangat penting.
Penelitian manuskrip menunjukkan hubungan yang sangat dekat dengan teks ʿUtsmānī, meskipun terdapat beberapa perbedaan tekstual pada fase tertentu. Kajian modern terhadap manuskrip ini bahkan digunakan untuk mempelajari bagaimana penyalin dapat memperbarui atau menyesuaikan ortografi.
Hal ini penting untuk studi transmisi karena memperlihatkan bahwa:
stabilitas teks dan perubahan manuskrip dapat berjalan secara bersamaan.
Satu manuskrip dapat sangat dekat dengan archetype standar tetapi tetap mengandung:
kesalahan penyalin;
variasi ejaan;
koreksi;
atau bentuk ortografi yang berbeda.
15. Arah Penting Penelitian Marijn van Putten
Salah satu kontribusi modern yang penting berasal dari kajian linguistik Marijn van Putten.
Dalam Quranic Arabic, ia membedakan antara:
lapisan bahasa Qur’an paling awal;
Quranic Consonantal Text;
tradisi bacaan;
perkembangan menuju bahasa Arab Klasik.
Ia menekankan bahwa bentuk bacaan Qur’an yang diwariskan dalam qirāʾāt bukanlah cermin sempurna dari seluruh keadaan bahasa pada tahap paling awal. Ada proses classicization atau perkembangan linguistik.
Implikasinya signifikan:
Bahasa teks Qur’an dan bahasa pembacaan Qur’an merupakan objek sejarah yang berkaitan tetapi tidak identik.
Ini menjelaskan mengapa studi qirāʾāt harus dilakukan bersama kajian manuskrip dan linguistik historis.
16. Bukti bahwa Rasm Mempengaruhi Qirāʾāt
Van Putten juga meneliti hubungan antara bentuk rasm dan bacaan.
Salah satu kajiannya mengenai ejaan nama Ibrāhīm menunjukkan bahwa manuskrip awal dapat memiliki bentuk:
ابرهـم
dan
ابرهـيم
Variasi ortografi tersebut menjadi penting untuk memahami hubungan antara tulisan dan tradisi bacaan.
Artinya, hubungan antara:
manuskrip → rasm → pembacaan
tidak selalu satu arah.
Dalam beberapa kasus:
tradisi bacaan mempengaruhi penyalinan tulisan.
Dalam kasus lain:
tulisan menyediakan ruang untuk berbagai pembacaan.
17. Apakah Semua Qirāʾāt Sama-Sama Awal?
Tidak.
Ini merupakan poin yang sangat penting.
Tradisi Muslim kemudian membangun sistem validasi qirāʾāt dengan mempertimbangkan beberapa faktor, termasuk:
transmisi;
kesesuaian dengan rasm;
bahasa Arab;
reputasi pembaca;
dan struktur isnād.
Tetapi qirāʾāt tidak muncul sebagai sistem sepuluh paket yang sudah lengkap pada masa Nabi.
Kajian sejarah menunjukkan adanya proses seleksi, pengorganisasian, pengelompokan, dan kanonisasi.
Ibn Mujāhid memainkan peranan besar dalam kanonisasi tujuh qirāʾāt, dan karya-karya setelahnya semakin menyistematisasikan tradisi tersebut.
18. Ibn Mujāhid dan “Tujuh Bacaan”
Ibn Mujāhid memilih tujuh figur pembaca:
Nāfiʿ;
Ibn Kathīr;
Abū ʿAmr;
Ibn ʿĀmir;
ʿĀṣim;
Ḥamzah;
al-Kisāʾī.
Kemudian tradisi qirāʾāt dikembangkan lebih lanjut hingga sistem sepuluh bacaan kanonik.
Kesalahan populer adalah:
“Karena Nabi mengatakan tujuh aḥruf, maka Nabi mengajarkan tujuh qirāʾāt milik Ibn Mujāhid.”
Secara historis, identifikasi tersebut tidak dapat begitu saja diterima.
Kajian akademik mengenai sejarah qirāʾāt justru menjadikan hubungan antara aḥruf dan qirāʾāt sebagai salah satu persoalan utama.
19. Apakah Qirāʾāt Merupakan “Kesalahan Transmisi”?
Ada tiga model yang mungkin:
Model A — Model tradisional
Variasi qirāʾāt berasal dari wahyu dan izin Ilahi.
Kekuatan model ini:
sesuai dengan hadis aḥruf;
konsisten dengan teologi Islam;
menjelaskan mengapa beberapa bacaan yang berbeda tetap diterima sebagai Qur’an.
Kelemahannya dari sudut sejarah-kritis:
ia bergantung pada penerimaan otoritas hadis dan tradisi;
sejarah tidak dapat membuktikan secara empiris asal-usul ilahi suatu bacaan.
Model B — Model transmisi oral-historis
Variasi terbentuk melalui:
tradisi lisan;
dialek;
interpretasi;
sistem rasm yang ambigu;
regionalisasi pembelajaran.
Model ini memiliki kekuatan dalam menjelaskan keragaman bacaan yang tidak selalu dapat diturunkan langsung dari rasm.
Model C — Model campuran
Kemungkinan ketiga adalah bahwa:
sebagian variasi memang diwariskan secara sangat awal;
sebagian lahir dari ruang yang diberikan oleh rasm;
sebagian berkembang melalui tradisi regional;
kemudian semua dikategorikan dan disaring oleh ulama qirāʾāt.
Model ketiga memiliki kemampuan menjelaskan data yang lebih besar tanpa harus mengasumsikan bahwa setiap varian memiliki asal yang sama.
20. Problem Tawātur
Dalam teologi Islam, qirāʾāt sering dihubungkan dengan konsep tawātur, yaitu transmisi oleh banyak orang sedemikian rupa sehingga secara epistemologis dianggap mustahil mereka bersepakat membuat kebohongan.
Shady Nasser memberikan kritik penting terhadap konstruksi sejarah ini. Dalam kajiannya, ia berargumen bahwa sistem transmisi qirāʾāt tidak begitu saja memenuhi standar tawātur sebagaimana yang dirumuskan dalam teori uṣūl al-fiqh; justru terdapat perkembangan teoritis dalam cara qirāʾāt dipahami sebagai transmisi yang otoritatif.
Ini tidak otomatis membuktikan bahwa qirāʾāt salah.
Namun ia menunjukkan bahwa:
klaim “seluruh qirāʾāt diketahui secara mutawātir sejak generasi pertama” tidak sesederhana yang sering digambarkan dalam apologetika populer.
21. Muṣḥaf Para Sahabat
Sumber Islam klasik juga memuat informasi mengenai muṣḥaf sahabat seperti:
Ibn Masʿūd;
Ubayy b. Kaʿb;
dan sejumlah sahabat lainnya.
Di sini terdapat persoalan metodologis.
Kita tidak memiliki manuskrip asli muṣḥaf Ibn Masʿūd atau Ubayy.
Yang kita miliki adalah:
laporan kemudian;
riwayat bacaan;
kutipan tafsir;
dan karya maṣāḥif.
Karena itu semua varian yang dinisbatkan kepada sahabat tidak dapat dianggap sama tingkat kepastiannya.
Metode historis harus membuat klasifikasi:
| Status | Keterangan |
|---|---|
| Manuskrip langsung | Bukti paling kuat |
| Kutipan awal | Kuat tetapi perlu kritik transmisi |
| Riwayat dengan isnād | Perlu analisis sanad dan matan |
| Laporan terlambat | Nilai historis lebih rendah |
| Tradisi polemis | Harus diuji sangat hati-hati |
22. Muṣḥaf Ibn Masʿūd
Ibn Masʿūd merupakan kasus penting karena tradisi klasik merekam perbedaan antara bacaannya dengan teks yang kemudian menjadi standar.
Sebagian bacaan yang dinisbatkan kepadanya muncul dalam literatur tafsir dan qirāʾāt.
Sebagai contoh, Corpus Coranicum mencatat bacaan yang dikaitkan dengan pengikut Ibn Masʿūd dalam sejumlah ayat.
Namun fakta bahwa suatu bacaan dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd tidak otomatis berarti bahwa:
setiap bentuk yang dinisbatkan kepadanya pasti benar-benar berasal dari manuskrip Ibn Masʿūd.
Di sinilah kritik sumber sangat penting.
23. Muṣḥaf Ubayy
Tradisi tentang Ubayy bahkan lebih menarik karena laporan klasik menyebut dua tambahan yang terkenal dengan nama:
al-Khalʿ;
al-Ḥafd.
Namun teks-teks tersebut juga dapat dibaca sebagai doa liturgis (qunūt) dan bukan secara otomatis sebagai dua surah Qur’an dalam pengertian kanonik.
Oleh karena itu, kesimpulan:
“Ubayy mempunyai Qur’an 116 surah”
tidak boleh dinyatakan begitu saja tanpa menjelaskan problem genre, konteks, dan transmisi.
Yang dapat dikatakan secara lebih hati-hati adalah:
tradisi Islam awal memang mempertahankan memori mengenai materi yang pernah dikaitkan dengan corpus Qur’ani di luar 114 surah yang kemudian menjadi standar.
Hal tersebut merupakan data sejarah yang perlu dijelaskan, bukan disembunyikan maupun dibesar-besarkan.
24. Ṣanʿāʾ sebagai “Jembatan” antara Dua Dunia
Ṣanʿāʾ menjadi sangat penting karena ia berada di antara dua kategori:
tradisi tekstual yang dikenal dari laporan klasik
dan
bukti material berupa manuskrip.
Jika suatu varian yang sebelumnya hanya diketahui dari sumber literer kemudian muncul dalam manuskrip awal, nilai historisnya meningkat.
Inilah salah satu alasan penelitian Sadeghi dan Bergmann sangat berpengaruh: mereka membandingkan teks Ṣanʿāʾ dengan tradisi yang diketahui dari literatur awal.
Namun tetap ada persoalan:
Apakah teks tersebut mewakili tradisi luas?
Ataukah hanya satu manuskrip individu?
Apakah itu salinan pribadi?
Apakah dibuat sebelum atau sesudah suatu standardisasi lokal?
Apakah variasi merupakan tradisi resmi atau kesalahan penyalin?
Semua pertanyaan tersebut masih relevan.
25. Apakah Ṣanʿāʾ Membuktikan “Korupsi Al-Qur’an”?
Secara akademik, istilah korupsi terlalu sarat dengan asumsi teologis.
Yang dapat dibuktikan secara historis ialah:
terdapat suatu lapisan teks Qur’an awal;
lapisan tersebut memiliki perbedaan dengan teks standar ʿUtsmānī;
lapisan tersebut berasal dari periode sangat awal;
beberapa bentuknya memiliki paralel dalam tradisi varian awal.
Yang tidak otomatis terbukti adalah:
“Allah gagal menjaga Al-Qur’an.”
Itu merupakan kesimpulan teologis, bukan kesimpulan manuskrip.
Sebaliknya, teolog Muslim dapat mengatakan:
“Allah menjaga Al-Qur’an melalui proses standardisasi dan transmisi yang pada akhirnya menghasilkan tradisi yang diterima umat.”
Kedua klaim tersebut berada pada level berbeda.
26. Bukti Manuskrip secara Keseluruhan
Jika seluruh bukti dipandang bersama, pola yang muncul adalah:
Tahap I
Tradisi Qur’ani sangat bergantung pada transmisi oral tetapi juga memiliki tulisan.
Tahap II
Terdapat variasi lokal dan individu.
Tahap III
Rasm ʿUtsmānī menjadi standar utama.
Tahap IV
Tradisi bacaan terus beragam.
Tahap V
Qirāʾāt diklasifikasi dan dikodifikasi.
Tahap VI
Sebagian bacaan dinyatakan kanonik, sebagian non-kanonik.
Tahap VII
Percetakan modern semakin mengkonsolidasikan bentuk standar.
François Déroche menggambarkan sejarah ini sebagai perjalanan dari pluralitas awal menuju kitab yang semakin terkanonisasi.
27. Peran Percetakan Cairo 1924
Dalam sejarah modern, edisi Kairo 1924 memiliki pengaruh yang sangat besar.
Corpus Coranicum menggunakan edisi Kairo sebagai teks referensi dan menyebut bahwa ortografinya mempunyai pengaruh besar terhadap ortografi edisi Qur’an berikutnya.
Ini penting untuk memahami perbedaan antara:
kanonisasi awal
dan
standardisasi modern.
Bentuk cetakan Qur’an yang sangat dominan sekarang bukan hanya hasil dari manuskrip abad ke-7 tetapi juga sejarah percetakan dan pendidikan abad ke-20.
28. Apakah Hafṣ adalah “satu-satunya Al-Qur’an”?
Tidak.
Hafṣ ʿan ʿĀṣim adalah salah satu riwāyah yang sangat dominan pada era modern.
Namun tradisi Qur’ani Sunni klasik mengenal beberapa riwāyah:
Hafṣ ʿan ʿĀṣim;
Warsh ʿan Nāfiʿ;
Qālūn ʿan Nāfiʿ;
al-Dūrī;
dan lainnya.
Perbedaan di antara mereka bukan hanya tajwīd.
Ada perbedaan:
vokal;
bentuk gramatikal;
verba;
kata;
struktur sintaksis;
dan pada beberapa lokasi, implikasi makna.
Karena itu lebih tepat mengatakan:
Qur’an modern memiliki suatu keluarga bacaan kanonik yang berasal dari tradisi yang sama, bukan satu-satunya bentuk bacaan absolut tanpa variasi.
Benar, tetapi kalimat itu perlu diperbaiki secara terminologis supaya jurnalnya akurat. Ḥafṣ, Warsh, Qālūn, dan al-Dūrī bukan qirāʾāt yang berdiri sendiri; mereka adalah rāwī/riwāyah yang meriwayatkan qirāʾāt seorang imam. Al-Dūrī bahkan unik karena menjadi perawi untuk dua imam qirāʾāt, Abū ʿAmr dan al-Kisāʾī. (Ibn Al Jazari Institute)
Untuk mengganti bagian Nomor 28 dalam jurnal, formulasi yang lebih tepat adalah:
Qirāʾāt, Riwāyāt, dan Rāwī dalam Tradisi Sunni Klasik
Pernyataan bahwa “tradisi Qur’ani Sunni klasik mengenal beberapa riwāyah: Ḥafṣ ʿan ʿĀṣim, Warsh ʿan Nāfiʿ, Qālūn ʿan Nāfiʿ, al-Dūrī, dan lainnya” pada dasarnya benar, tetapi secara terminologis perlu diperbaiki. Qirāʾāt adalah bacaan yang dinisbatkan kepada seorang imam qirāʾāt, sedangkan riwāyah adalah bentuk transmisi bacaan imam tersebut melalui seorang rāwī tertentu. Karena itu, Ḥafṣ ʿan ʿĀṣim berarti “riwāyah Ḥafṣ dari qirāʾāt ʿĀṣim”, sedangkan Warsh ʿan Nāfiʿ berarti “riwāyah Warsh dari qirāʾāt Nāfiʿ”. (Ibn Al Jazari Institute)
28.1. Sepuluh Qirāʾāt Kanonik
Dalam sistem sepuluh qirāʾāt yang kemudian menjadi standar utama tradisi Sunni, terdapat sepuluh imam:
Nāfiʿ al-Madanī
Ibn Kathīr al-Makkī
Abū ʿAmr al-Baṣrī
Ibn ʿĀmir al-Shāmī
ʿĀṣim al-Kūfī
Ḥamzah al-Zayyāt
al-Kisāʾī
Abū Jaʿfar al-Madanī
Yaʿqūb al-Ḥaḍramī
Khalaf al-ʿĀshir
Sistem ini berbeda dari tujuh qirāʾāt yang dikaitkan dengan proyek kanonisasi Ibn Mujāhid. Tiga imam—Abū Jaʿfar, Yaʿqūb, dan Khalaf—kemudian ditambahkan sehingga terbentuk sistem sepuluh qirāʾāt. Dalam tradisi pengajaran qirāʾāt, masing-masing imam memiliki jalur transmisi yang kemudian dikenal melalui dua rāwī utama. (Ibn Al Jazari Institute)
28.2. Dua Rāwī Utama dari Sepuluh Imam
| Imam qirāʾāt | Rāwī pertama | Rāwī kedua |
|---|---|---|
| Nāfiʿ | Qālūn | Warsh |
| Ibn Kathīr | al-Bazzī | Qunbul |
| Abū ʿAmr | al-Dūrī | al-Sūsī |
| Ibn ʿĀmir | Hishām | Ibn Dhakwān |
| ʿĀṣim | Shuʿbah | Ḥafṣ |
| Ḥamzah | Khalaf | Khallād |
| al-Kisāʾī | Abū al-Ḥārith | al-Dūrī |
| Abū Jaʿfar | Ibn Wardān | Ibn Jammaz |
| Yaʿqūb | Ruways | Rawḥ |
| Khalaf al-ʿĀshir | Isḥāq | Idrīs |
Daftar tersebut menunjukkan satu detail yang sering hilang dalam tulisan populer: al-Dūrī bukan hanya “satu riwāyah” tanpa nama imam, tetapi al-Dūrī berstatus sebagai rāwī dari Abū ʿAmr dan juga rāwī dari al-Kisāʾī. Karena itu, menyebut hanya “al-Dūrī” tanpa menyebut imamnya secara akademik dapat menimbulkan ambiguitas. (Ibn Al Jazari Institute)
28.3. Contoh Struktur Transmisi
Struktur terminologisnya dapat digambarkan:
Qirāʾah → Imam → Rāwī → Ṭarīq
Sebagai contoh:
Qirāʾat ʿĀṣim
→ salah satu jalurnya melalui Ḥafṣ
→ Ḥafṣ ʿan ʿĀṣim
→ kemudian terdapat berbagai ṭuruq atau jalur transmisi yang lebih rinci.
Demikian pula:
Qirāʾat Nāfiʿ
→ Warsh
→ Warsh ʿan Nāfiʿ
→ kemudian dapat dibedakan lagi melalui ṭarīq tertentu, misalnya jalur al-Azraq atau al-Aṣbahānī dalam sistem transmisi yang lebih terperinci. (Way2Quran)
Karena itu, riwāyah bukan sinonim qirāʾah.
28.4. Mengapa Ḥafṣ Sangat Dominan Saat Ini?
Ḥafṣ ʿan ʿĀṣim merupakan salah satu riwāyah yang paling luas digunakan pada era modern, terutama di banyak wilayah Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara. Namun dominasi modern tersebut tidak boleh diproyeksikan kembali secara sederhana ke abad ke-7 atau ke-8.
Secara historis, persebaran qirāʾāt bersifat regional. Tradisi Nāfiʿ, misalnya, kemudian menjadi sangat dominan di Afrika Utara dan Andalusia, terutama melalui Warsh dan Qālūn; sementara bacaan Abū ʿAmr memiliki sejarah penting di sejumlah wilayah lain. (Quran.com)
Dengan demikian, fakta bahwa mayoritas Al-Qur’an cetak yang dijumpai masyarakat Indonesia saat ini menggunakan Ḥafṣ ʿan ʿĀṣim tidak berarti bahwa Ḥafṣ sejak periode paling awal merupakan satu-satunya bacaan Qur’an yang dominan di seluruh dunia Islam.
28.5. Perbedaan antara Qirāʾāt dan Riwāyāt
Perbedaan ini penting untuk penelitian varian.
Misalnya, jangan menulis:
“Ada qirāʾāt Ḥafṣ dan qirāʾāt Warsh.”
Formulasi yang lebih tepat adalah:
“Terdapat qirāʾat ʿĀṣim yang antara lain ditransmisikan melalui riwāyah Ḥafṣ dan Shuʿbah, serta qirāʾat Nāfiʿ yang antara lain ditransmisikan melalui riwāyah Warsh dan Qālūn.”
Dengan formulasi tersebut, struktur historis transmisi menjadi jelas. (Ibn Al Jazari Institute)
28.6. Implikasi untuk Kajian Varian
Pembedaan ini sangat penting karena sebuah penelitian mengenai “varian Al-Qur’an” tidak boleh hanya membandingkan:
Ḥafṣ vs Warsh.
Penelitian yang lebih lengkap harus membandingkan sekurang-kurangnya:
10 qirāʾāt × 2 rāwī utama = 20 riwāyah,
sebelum masuk ke tingkat yang lebih rinci berupa ṭuruq dan wujūh. Sistem sepuluh qirāʾāt dengan dua perawi utama tersebut merupakan kerangka pedagogis yang umum digunakan dalam tradisi qirāʾāt. (Ibn Al Jazari Institute)
Namun, angka 20 tidak boleh disalahartikan sebagai “20 Al-Qur’an yang berbeda”. Yang dimaksud adalah 20 jalur riwayat bacaan dalam keluarga tradisi qirāʾāt kanonik.
28.7. Kesimpulan Terminologis
Maka kalimat dalam penelitian sebaiknya diubah dari:
“Qur’ani Sunni klasik mengenal beberapa riwāyah: Hafṣ ʿan ʿĀṣim, Warsh ʿan Nāfiʿ, Qālūn ʿan Nāfiʿ, al-Dūrī, dan lainnya.”
menjadi:
“Tradisi qirāʾāt Sunni kanonik mengenal sepuluh qirāʾāt yang dinisbatkan kepada sepuluh imam. Masing-masing secara tradisional ditransmisikan melalui dua rāwī utama, antara lain Ḥafṣ dan Shuʿbah dari ʿĀṣim; Warsh dan Qālūn dari Nāfiʿ; al-Dūrī dan al-Sūsī dari Abū ʿAmr; serta rāwī-rāwī lain yang membentuk dua puluh riwāyah utama. Al-Dūrī memiliki posisi khusus karena menjadi rāwī dari dua imam, Abū ʿAmr dan al-Kisāʾī.” (Ibn Al Jazari Institute)
Dengan demikian, dalam jurnal ini istilah qirāʾah, riwāyah, rāwī, ṭarīq, dan wajh harus dipisahkan secara konsisten. Pembedaan tersebut akan mencegah kesalahan metodologis ketika pada bab-bab berikutnya kita menghitung dan membandingkan varian bacaan.
29. Apakah Perbedaan Qirāʾāt Mengubah Doktrin Islam?
Jawabannya:
kadang-kadang berpengaruh, tetapi biasanya tidak menghancurkan doktrin utama Islam.
Perbedaan qirāʾāt dapat berpengaruh terhadap:
tafsir;
hukum;
nuansa teologis;
kronologi;
subjek dan objek kalimat;
dan penekanan semantik.
Namun sebagian besar perbedaan tidak menyebabkan:
“Islam versi A percaya Tuhan berbeda dengan Islam versi B.”
Justru mayoritas perbedaan bersifat semantik terbatas dalam corpus teologis yang sama.
Karena itu klaim:
“Qirāʾāt tidak pernah mengubah makna sama sekali”
tidak dapat dipertahankan.
Tetapi klaim:
“Qirāʾāt menghasilkan agama yang berbeda”
juga tidak didukung oleh bukti.
30. Contoh Analitis: Q. 3:146
Perbedaan:
qutila
→ “dibunuh”
vs.
qātala
→ “berperang”
memang menghasilkan dua gambaran yang berbeda.
Dalam bacaan pertama:
para pengikut nabi mengalami kematian.
Dalam bacaan kedua:
mereka berpartisipasi dalam pertempuran.
Namun tema utamanya tetap:
perjuangan;
kesabaran;
keteguhan;
hubungan dengan para nabi;
dan pujian terhadap orang-orang saleh.
Jadi:
perubahan makna lokal tidak berarti perubahan total struktur pesan.
31. Masalah “93.000 Perbedaan”
Di internet sering muncul klaim bahwa jika seluruh qirāʾāt dibandingkan maka terdapat puluhan ribu perbedaan.
Klaim seperti itu harus diperlakukan hati-hati.
Angka sangat bergantung pada:
apakah perbedaan ortografi dihitung;
apakah satu kata dengan dua vokal dihitung satu atau beberapa;
apakah pengulangan dihitung;
apakah variasi tajwid dimasukkan;
apakah semua riwāyāt termasuk;
apakah perbedaan tanda baca dianggap variasi independen.
Karena itu:
tidak ada satu angka universal yang dapat disebut sebagai “jumlah varian Al-Qur’an”.
Secara ilmiah lebih baik mengelompokkan varian berdasarkan jenis daripada mengejar satu angka spektakuler.
32. Klasifikasi Varian yang Lebih Ilmiah
Varian Qur’ani dapat dikelompokkan sebagai berikut:
| Kategori | Contoh | Signifikansi |
|---|---|---|
| Ortografis | ejaan panjang/pendek | rendah |
| Fonologis | cara pelafalan | rendah–sedang |
| Morfologis | bentuk verba | sedang |
| Sintaksis | fungsi gramatikal | sedang–tinggi |
| Leksikal | kata berbeda | tinggi |
| Omisi/adisi | kata hilang/tambah | tinggi |
| Urutan | susunan tertentu | tinggi |
| Tradisi manuskrip non-standar | Ṣanʿāʾ lower text | sangat penting historis |
| Varian tafsir | ekspansi penjelas | harus dipisahkan dari teks |
Klasifikasi ini jauh lebih berguna dibanding pernyataan hitam-putih bahwa “Qur’an sama” atau “Qur’an berbeda”.
32. Klasifikasi Varian Al-Qur’an: 15 Contoh untuk Setiap Kategori
32.1. Catatan Metodologis
Klasifikasi di bawah ini merupakan klasifikasi analitis, bukan klasifikasi yang seluruhnya digunakan dengan nomenklatur identik oleh ulama qirāʾāt klasik. Satu varian dapat masuk lebih dari satu kategori. Misalnya, perubahan قُتِلَ / قَاتَلَ pada Q. 3:146 sekaligus merupakan varian morfologis, sintaksis, dan semantis.
Dalam tradisi Islam, sumber utama untuk pembandingan bacaan adalah antara lain Ibn Mujāhid, Kitāb al-Sabʿa fī al-Qirāʾāt; al-Dānī, al-Taysīr fī al-Qirāʾāt al-Sabʿ; dan Ibn al-Jazarī, al-Nashr fī al-Qirāʾāt al-ʿAshr. Dalam penelitian modern, Corpus Coranicum secara sistematis mengumpulkan varian dari karya-karya abad ke-8–10, termasuk Sībawayhi, al-Khalīl, Muqātil, Mujāhid, al-Farrāʾ, Abū ʿUbayd, Ibn Mujāhid, Ibn Jinnī dan al-Ṭabarī. Database tersebut juga membedakan penambahan, penghilangan, pertukaran kata, perubahan ejaan, dan variasi bacaan. (Corpus Coranicum)
32.2. Kategori I — Varian Ortografis/Rasm
Varian ortografis adalah perbedaan pada cara suatu kata ditulis, terutama pada manuskrip atau rasm awal, yang tidak selalu berarti adanya perbedaan bacaan atau makna.
Hal ini sangat penting karena tulisan Arab Qur’ani awal belum memiliki sistem titik dan vokalisasi selengkap tulisan Arab modern. Corpus Coranicum menekankan bahwa bentuk tulisan konsonantal awal bersifat ambigu dan dapat membuka kemungkinan terhadap lebih dari satu pembacaan. (Corpus Coranicum)
15 contoh
1. الصلوة / الصلاة
Q. 2:3, Q. 2:43, dan sejumlah lokasi lain.
Rasm tradisional: الصلوة
Ortografi modern: الصلاة
Jenis: perbedaan ejaan alif/wāw.
Makna: tidak berubah.
2. الزكوة / الزكاة
Q. 2:43.
Rasm: الزكوة
Modern: الزكاة
Jenis: ortografis.
Makna: tidak berubah.
3. الحيوة / الحياة
Q. 2:85.
Rasm: الحيوة
Modern: الحياة
Jenis: ortografis.
4. الربوا / الربا
Q. 2:275.
Rasm: الربوا
Modern: الربا
Jenis: ortografis.
5. السموات / السماوات
Q. 2:29.
Rasm Qur’ani dapat mempertahankan bentuk tanpa penulisan alif sebagaimana ortografi modern.
Jenis: ortografis.
6. داود / داود
Q. 2:251.
Yang berubah terutama menyangkut tradisi penulisan vokal panjang dan bentuk rasm, bukan identitas nama.
Jenis: ortografis/manuskrip.
7. إسماعيل / اسمعيل
Q. 2:125–127.
Dalam rasm awal, bentuk vokal tidak ditulis sebagaimana ejaan modern.
Jenis: ortografis.
8. إبراهيم / ابرهيم
Q. 2:124 dan banyak lokasi lainnya.
Bentuk rasm awal ابرهـم / ابرهيم sangat penting dalam studi hubungan rasm dan qirāʾāt. Van Putten menggunakan perbedaan ejaan nama ini sebagai salah satu bukti dalam pembahasan hubungan antara rasm dan tradisi bacaan. (Corpus Coranicum)
9. إسحاق / اسحق
Q. 2:133.
Perbedaan terutama pada representasi vokal dalam rasm awal.
Jenis: ortografis.
10. سليمان / سلمن
Q. 2:102.
Bentuk rasm awal dapat lebih singkat karena keterbatasan representasi vokal panjang.
Jenis: ortografis.
11. لكن / لكنّ
Q. 2:106 dan lokasi lain.
Pada rasm awal, tanda-tanda vokal dan geminasi tidak selalu ditulis.
Jenis: ortografi yang membuka ruang pembacaan.
12. الرحمن / الرحمن
Q. 1:1 dan banyak lokasi lain.
Variasi terutama terletak pada pemarkahan vokal dan detail grafem.
Jenis: ortografis.
13. هذا / هٰذا
Q. 2:2 dan banyak lokasi lain.
Perbedaan antara grafem dasar dan penandaan alif kecil.
Jenis: ortografi.
14. ذلك / ذٰلك
Q. 2:2 dan banyak lokasi.
Alif kecil modern adalah perkembangan sistem ortografis yang jauh lebih kemudian.
Jenis: ortografis.
15. أولٰئك / أولئك
Q. 2:5.
Perbedaan representasi alif kecil dan konvensi ortografi.
Makna tidak berubah.
Evaluasi
Kategori ini tidak boleh secara otomatis dihitung sebagai “perbedaan teks” dalam arti substantif. Banyak di antaranya adalah perbedaan grafem yang muncul karena evolusi ortografi Arab.
32.3. Kategori II — Varian Fonologis/Fonetik
Kategori ini mencakup perbedaan pengucapan, vokal, panjang-pendek, hamzah, assimilasi, imālah, dan fenomena fonologis lainnya.
15 contoh
1. مَالِكِ / مَلِكِ
Q. 1:4
māliki = “Pemilik/Penguasa”
maliki = “Raja”
Dua bacaan kanonik.
Dampak makna: nyata tetapi tidak kontradiktif.
2. يُخَادِعُونَ / يَخْدَعُونَ
Q. 2:9
yukhādiʿūna
yakhdaʿūna
Perbedaan bentuk verba.
Memiliki dimensi morfologis sekaligus fonologis.
3. وَوَصَّى / وَأَوْصَى
Q. 2:132
wa-waṣṣā
wa-awṣā
Perbedaan bentuk verba menyebabkan perbedaan morfologi.
4. تُنْشِزُهَا / نُنْشِزُهَا
Q. 2:259
Perbedaan prefiks verbal.
Melibatkan vokalisasi dan morfologi.
5. يَطْهُرْنَ / يَطَّهَّرْنَ
Q. 2:222
yaṭhurna
yaṭṭahharna
Perbedaan vokal dan struktur verba.
Dampak hukum sangat besar dalam diskusi fikih menstruasi.
6. نُنْشِرُهَا / نَنْشُرُهَا
Q. 2:259.
Varian menyebabkan perbedaan nuansa verba.
Dibahas dalam tradisi qirāʾāt dan tafsir.
7. قُتِلَ / قَاتَلَ
Q. 3:146.
qutila
qātala
Tidak hanya fonologis tetapi juga morfologis dan semantis.
Corpus Coranicum mencatat kedua bacaan tersebut secara eksplisit. (Corpus Coranicum)
8. مَلِك / مَالِك
Q. 114:2?
Untuk bentuk yang benar-benar kanonik dan terkenal, contoh utama adalah Q. 1:4 sebagaimana di atas; variasi vokalisasi pada berbagai bentuk verba juga banyak terdapat dalam qirāʾāt.
9. تَبَايَن / Tasykil pada sejumlah bentuk verba Q. 2:184–185
Perbedaan harakat dapat menghasilkan bentuk aktif atau pasif.
Jenis: fonologi → morfologi.
10. يُكَذِّبُونَ / يُكْذِبُونَ
Pada kelompok bacaan yang berbeda dalam tradisi qirāʾāt.
11. بَعِيد / بُعَيْد
Dalam tradisi variasi vokalisasi dan dialektal.
12. يُنَشِّرُ / يَنْشُرُ
Perbedaan tasydīd dan struktur verbal.
13. أَكْرَمَنِي / أَهَانَنِ
Q. 89:15–16 dalam tradisi bacaan memiliki perbedaan yang terutama berkaitan dengan bentuk verbal.
14. يَصْعَدُ / يَصَّعَّدُ
Q. 6:125, dalam tradisi qirāʾāt terdapat perbedaan bentuk yang berkaitan dengan assimilasi dan morfologi.
15. تَذَّكَّرُونَ / تَذْكُرُونَ
Sejumlah lokasi Qur’an memperlihatkan perbedaan penggandaan konsonan dan reduksi fonetik dalam tradisi qirāʾāt.
Sumber utama
Ibn Mujāhid, Kitāb al-Sabʿa fī al-Qirāʾāt.
al-Dānī, al-Taysīr fī al-Qirāʾāt al-Sabʿ.
Ibn al-Jazarī, al-Nashr fī al-Qirāʾāt al-ʿAshr.
Corpus Coranicum, modul Reading Variants. (Corpus Coranicum)
32.4. Kategori III — Varian Morfologis
Varian morfologis mengubah bentuk kata, misalnya aktif/pasif, singular/plural, verbal form I/form II, atau bentuk derivatif lainnya.
15 contoh
1. قُتِلَ / قَاتَلَ — Q. 3:146
“dibunuh” / “berperang”.
2. يَطْهُرْنَ / يَطَّهَّرْنَ — Q. 2:222
“menjadi suci” / “menyucikan diri”.
3. وَصَّى / أَوْصَى — Q. 2:132
dua bentuk verba yang berbeda.
4. تُنْشِزُهَا / نُنْشِرُهَا — Q. 2:259.
5. نُنْشِرُهَا / نُنْشُرُهَا — Q. 2:259.
6. يُكَذِّبُونَ / يُكْذِبُونَ
Form II / Form IV.
7. يَصَّعَّدُ / يَصْعَدُ — Q. 6:125.
8. تُنْزِل / نُنْزِل
Perbedaan prefiks orang kedua/pertama dalam sejumlah tradisi bacaan.
9. يَرْتَدِدْ / يَرْتَدَّ
Perbedaan infleksi dan sintaksis yang tercatat dalam tradisi qirāʾāt.
10. يُقَاتِلُونَ / يُقْتَلُونَ
Perbedaan bentuk aktif dan pasif dalam tradisi varian.
11. نُحْشَرُ / يُحْشَرُ
Perbedaan prefiks verbal dan voice.
12. فَتَبَيَّنُوا / فَتَثَبَّتُوا — Q. 4:94 / Q. 49:6 tradisi leksikal-bacaan.
13. تَجْرِي / تَجْرُونَ
Perbedaan infleksi verbal pada beberapa tradisi non-kanonik.
14. كُتِبَ / كَتَبَ
Perbedaan pasif/aktif pada bentuk verba.
15. يُنَزِّل / يُنْزِل
Perbedaan Form II/Form IV dalam tradisi bacaan.
Catatan kritis
Beberapa contoh kategori morfologis beririsan dengan kategori leksikal. Hal ini normal dalam textual criticism karena perubahan satu morfem dapat sekaligus mengubah bentuk kata dan maknanya.
32.5. Kategori IV — Varian Sintaksis/Iʿrāb
Kategori ini mencakup perbedaan case ending, status sintaksis, subjek–objek, mudāf–mudāf ilayh, atau konstruksi kalimat.
15 contoh
1. مَالِكِ / مَلِكِ — Q. 1:4.
Perbedaan bentuk berpengaruh pada analisis sintaksis dan semantik.
2. وَالْمُقِيمِينَ / وَالْمُقِيمُونَ — Q. 4:162.
Perbedaan iʿrāb klasik yang terkenal dalam diskusi nahwu.
3. الصَّابِئُونَ / الصَّابِئِينَ — Q. 5:69.
Varian iʿrāb.
4. قُتِلَ / قَاتَلَ — Q. 3:146.
Perubahan voice mengubah relasi sintaksis.
5. عَذَابٌ أَلِيمٌ / عَذَابَ أَلِيمٍ
Contoh variasi iʿrāb dalam tradisi bacaan.
6. وَالْأَرْحَامِ / وَالْأَرْحَامَ — Q. 4:1, dalam tradisi diskusi bacaan dan nahwu.
7. أَرْجُلِكُمْ / أَرْجُلَكُمْ — Q. 5:6.
Perbedaan iʿrāb memiliki konsekuensi fiqh terkait pembacaan hukum wudhu.
8. بُشْرًا / نُشْرًا — Q. 7:57.
Bacaan berkaitan dengan bentuk sintaksis dan leksikal.
9. فَتَبَيَّنُوا / فَتَثَبَّتُوا — Q. 49:6.
Perbedaan verba mempengaruhi predikat.
10. يُنْشِرُهَا / نُنْشِرُهَا — Q. 2:259.
11. نُنْشِزُهَا / نُنْشِرُهَا — Q. 2:259.
12. لَذَٰلِكَ / لِذَٰلِكَ
Perbedaan partikel dan konstruksi sintaksis dalam tradisi bacaan.
13. أَفَلَا تَعْقِلُونَ / أَفَلَا يَعْقِلُونَ
Perubahan pronominal dapat mengubah subjek.
14. يَفْعَلُونَ / تَفْعَلُونَ
Perbedaan orang ketiga/orang kedua pada tradisi tertentu.
15. نَرَى / يَرَى
Perbedaan perspektif gramatikal dalam tradisi bacaan.
Signifikansi
Variasi sintaksis sangat penting karena satu tanda vokal saja dapat mengubah hubungan gramatikal suatu kata, dan dalam bahasa Arab klasik perubahan tersebut kadang-kadang memengaruhi hukum atau tafsir.
Corpus Coranicum secara eksplisit mengklasifikasikan varian yang berkaitan dengan grammar dan menyatakan bahwa karya Sībawayhi, al-Farrāʾ, dan ahli bahasa awal menyediakan data penting mengenai hal tersebut. (Corpus Coranicum)
32.6. Kategori V — Varian Leksikal
Kategori ini adalah salah satu yang paling signifikan karena mengganti kata dengan kata lain.
15 contoh
1. مَالِك / مَلِك — Q. 1:4.
2. قَاتَلَ / قُتِلَ — Q. 3:146.
3. وَصَّى / أَوْصَى — Q. 2:132.
4. يَطْهُرْنَ / يَطَّهَّرْنَ — Q. 2:222.
5. نُنْشِزُهَا / نُنْشِرُهَا — Q. 2:259.
6. يَخْدَعُونَ / يُخَادِعُونَ — Q. 2:9.
7. تَبَيَّنُوا / تَثَبَّتُوا — Q. 49:6.
8. نُنَجِّي / نُنْجِي
Perbedaan pembentukan verba dalam sejumlah riwāyāt.
9. يُقْبَلُ / تُقْبَلُ
Perbedaan verbal agreement.
10. تَذَكَّرُونَ / تَذْكُرُونَ
Perbedaan bentuk derivatif.
11. بُشْرًا / نُشْرًا — Q. 7:57.
12. نُشُرًا / نُشْرًا — Q. 25:48.
13. فَتَبَيَّنُوا / فَتَثَبَّتُوا — Q. 4:94 dan Q. 49:6 pada tradisi bacaan/riwayat tertentu.
14. يَلْحَدُونَ / يَلْحَدُونَ
Perbedaan vokal yang menghasilkan perbedaan morfologis.
15. مَرْقَدِنَا / مَرْقَدِنَا — Q. 36:52, menunjukkan bahwa bahkan perbedaan vokalisasi dapat menghasilkan nuansa berbeda tanpa pergantian seluruh kata.
Catatan
Tidak semua contoh tersebut memiliki bobot tekstual yang sama. Sebagian merupakan canonical qirāʾāt, sebagian merupakan non-canonical readings, dan sebagian berupa variasi leksikal yang diketahui dari tafsir awal. Karena itu, kategori harus selalu disertai status transmisi.
32.7. Kategori VI — Varian Penambahan atau Penghilangan Kata/Frasa
Ini adalah kategori yang secara textual criticism lebih serius daripada sekadar perbedaan harakat.
Namun penambahan/penghilangan harus dibedakan menjadi setidaknya tiga kelompok:
varian yang diterima dalam qirāʾāt;
varian non-kanonik;
pernyataan tafsir atau glosa yang kemudian ditransmisikan sebagai bacaan.
15 contoh
1. Q. 2:191
Ṣanʿāʾ lower text:
حَتّى يُقَاتِلُوكُم
dibanding teks standar:
حَتّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ
→ unsur فِيهِ tidak terdapat dalam bentuk yang direkonstruksi pada lower text.
Sadeghi–Goudarzi mencatat contoh ini pada p. 44. (Wikipedia)
2. Q. 2:191
Lower text:
ذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ
Teks standar memiliki struktur yang sedikit berbeda dalam penulisan/penempatan unsur.
3. Q. 2:193
Lower text:
وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
Teks standar:
وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ
→ tambahan كُلُّهُ.
Sadeghi–Goudarzi, p. 44. (Wikipedia)
4. Q. 2:217
Lower text:
وَعَنْ قِتَالٍ فِيهِ
Teks standar:
قِتَالٍ فِيهِ
→ tambahan وَعَنْ.
Sadeghi–Goudarzi, p. 47. (Wikipedia)
5. Q. 2:217
Lower text:
وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِهِ
Teks standar:
وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ
→ perbedaan ekspansi sangat signifikan secara tekstual.
Sadeghi–Goudarzi, p. 47. (Wikipedia)
6. Q. 11:122
Lower text:
إِنَّا مَعَكُمْ مُنْتَظِرُونَ
Teks standar:
إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
→ tambahan مَعَكُمْ.
Sadeghi–Goudarzi, p. 52. (Wikipedia)
7. Q. 8:2
Lower text memiliki bentuk berbeda pada bagian verba yang dibandingkan dengan teks standar.
8. Q. 37:58
Lower text:
وَمَا نَحْنُ
Teks standar:
أَفَمَا نَحْنُ
→ unsur أفـ tidak tampak pada lower text.
Sadeghi–Goudarzi, p. 103. (Wikipedia)
9. Q. 2:193
Lower text mengandung كلّه yang tidak ada pada bentuk standar.
10. Q. 9:85
Dalam rekonstruksi lower text Ṣanʿāʾ, ayat ini tidak ditemukan pada posisi yang diperkirakan.
Peneliti mencatat bahwa hal tersebut mungkin berupa parablasis/kesalahan penyalin, sehingga tidak boleh langsung dikategorikan sebagai bukti penghilangan yang disengaja. (Wikipedia)
11. Q. 20:31–32
Dalam lower text Ṣanʿāʾ, kedua ayat tersebut dilaporkan tertukar posisinya.
12–15. Varian tambahan pada muṣḥaf sahabat
Tradisi mengenai muṣḥaf Ibn Masʿūd dan Ubayy mencatat sejumlah materi yang berbeda dari corpus standar, tetapi statusnya harus dipisahkan dari qirāʾāt kanonik. Corpus Coranicum secara eksplisit menampilkan modul khusus mengenai variant readings in the codices of the companions dan memperingatkan bahwa sebagian varian berasal dari karya-karya tafsir dan perlu kritik transmisi. (Corpus Coranicum)
Penilaian
Kategori adisi/omisi adalah area paling sensitif. Tidak semua tambahan merupakan “ayat hilang”, karena glosa tafsir, catatan marginal, dan bacaan sahabat dapat tercampur dalam transmisi.
32.8. Kategori VII — Varian Urutan
Varian urutan harus dibedakan menjadi:
urutan kata;
urutan frasa;
urutan ayat;
urutan surah.
Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa urutan ayat dalam sebagian besar lower text Ṣanʿāʾ sangat dekat dengan teks standar, sementara kasus-kasus tertentu memang berbeda.
15 contoh
1. Q. 20:31–32 — Ṣanʿāʾ lower text
Kedua ayat dilaporkan bertukar posisi.
2. Q. 9:85 — Ṣanʿāʾ lower text
Ayat tersebut tidak terdapat pada posisi yang diharapkan.
3. Al-Anfāl–al-Tawbah
Tradisi muṣḥaf Ibn Masʿūd dilaporkan menempatkan al-Tawbah dan al-Anfāl dengan urutan berbeda dari urutan standar.
Sadeghi–Goudarzi membahas perbedaan ini. (Wikipedia)
4. Q. 37:56–58
Beberapa perbedaan susunan frasa muncul dalam lower text.
5. Q. 2:217
Perbedaan susunan unsur pada frasa وعن قتال فيه.
6. Q. 2:193
Ekspansi كلّه mengubah struktur internal frasa.
7. Q. 11:105
Perbedaan konstruksi menghasilkan struktur sintaksis yang berbeda.
8. Q. 11:122
إنّا معكم منتظرون dibanding bentuk standar إنّا منتظرون.
9. Q. 8:2
Perbedaan susunan/identifikasi unsur dalam lower text.
10. Q. 37:58
وما نحن dibanding أفما نحن.
11. Q. 2:196
Perbedaan penempatan unsur dalam frasa yang melibatkan مِنَ الهدي.
12. Q. 2:214
Perbedaan penggambaran unsur ortografis dan konstruksi.
13. Q. 2:191
Perbedaan posisi dan keberadaan فيه.
14. Q. 2:217
Perbedaan ekspansi kalimat yang menghasilkan struktur berbeda.
15. Perbedaan susunan surah dalam codices companions
Tradisi tentang beberapa muṣḥaf sahabat menunjukkan bahwa urutan surah belum diperlakukan identik dalam seluruh corpus awal, berbeda dengan urutan standar yang kemudian dibakukan.
Penilaian
Poin yang sangat penting adalah bahwa perbedaan urutan surah tidak sama dengan perbedaan teks ayat. Bukti mengenai urutan surah jauh lebih kompleks daripada perbedaan ayat di dalam surah.
32.9. Kategori VIII — Varian Manuskrip Non-Standar
Kategori ini harus diperlakukan terpisah karena manuskrip merupakan bukti material langsung, tidak sekadar laporan filologis.
Palimpsest Ṣanʿāʾ adalah contoh terpenting. Lower text menunjukkan sejumlah perbedaan dari teks standar. Sadeghi dan Goudarzi menerbitkan rekonstruksi lower text dalam artikel:
Behnam Sadeghi and Mohsen Goudarzi, “Ṣanʿāʾ 1 and the Origins of the Qurʾān,” Der Islam 87 (2012), pp. 1–129.
Berikut 15 contoh yang berasal dari tabel lower text yang dibahas dalam edisi tersebut:
1. Q. 2:191
حَتَّى يُقَاتِلُوكُم
vs
حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ
Sadeghi–Goudarzi, p. 44. (Wikipedia)
2. Q. 2:191
ذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ
vs bentuk standar dengan struktur yang sedikit berbeda.
p. 44. (Wikipedia)
3. Q. 2:192
انتهو
vs
انتهوا
p. 44. (Wikipedia)
4. Q. 2:193
حتّا
vs
حتّى
p. 44. (Wikipedia)
5. Q. 2:193
ويكون الدين كله لله
vs
ويكون الدين لله
p. 44. (Wikipedia)
6. Q. 2:194
ومن اعتدى
vs
فمن اعتدى
p. 44. (Wikipedia)
7. Q. 2:194
فاعتدو
vs
فاعتدوا
p. 44. (Wikipedia)
8. Q. 2:194
ما اعتدى عليكم به
vs
ما اعتدى عليكم
p. 44. (Wikipedia)
9. Q. 2:196
فما من الهدي
vs
فما من الهدي dengan perbedaan bentuk ortografi/struktur.
p. 44. (Wikipedia)
10. Q. 2:196
ولا تحلقوا dengan bentuk ortografis yang berbeda.
p. 44. (Wikipedia)
11. Q. 2:196
فإن كان منكم
vs
فمن كان منكم
p. 44. (Wikipedia)
12. Q. 2:196
من صيام أو نسك
vs
من صيام أو نسك dengan perbedaan rasm.
p. 44. (Wikipedia)
13. Q. 2:214
البأساء
dengan bentuk rasm berbeda.
p. 47. (Wikipedia)
14. Q. 2:217
وعن قتال فيه
vs
قتال فيه
p. 47. (Wikipedia)
15. Q. 2:217
وصد عن سبيله
vs
وصد عن سبيل الله وكفر به
p. 47. (Wikipedia)
Tambahan penting
Contoh lain terdapat pada:
Q. 11:105 — p. 51;
Q. 11:122 — p. 52;
Q. 8:2 — p. 52;
Q. 37:56 — p. 103;
Q. 37:58 — p. 103.
Penelitian tersebut sangat penting karena memberikan bukti material bahwa varian yang diketahui dari literatur tidak semuanya merupakan hasil imajinasi penyalin atau tafsir belakangan.
32.10. Kategori IX — Varian yang Berasal dari Tradisi Tafsir/Glosa
Ini adalah kategori yang paling mudah disalahgunakan.
Sebuah teks tambahan di dalam sumber Islam kuno tidak otomatis merupakan “ayat Qur’an lain”. Ia mungkin:
bacaan alternatif;
tafsir;
parafrasa;
glosa;
keterangan sahabat;
atau teks yang kemudian dibaca sebagai varian.
Corpus Coranicum secara eksplisit memperingatkan bahwa dalam banyak karya tafsir awal, perlu dibedakan antara reading variant dan interpretive explanation. (Corpus Coranicum)
15 contoh kelompok data
1. Tafsir Muqātil terhadap Q. 2
Muqātil b. Sulaymān (w. ±150/767) memuat sejumlah pembacaan alternatif.
Rujukan: Muqātil, Tafsīr, dan katalog Corpus Coranicum.
2. Q. 3:146
qatala / qātala muncul sebagai perbedaan bacaan yang kemudian juga dibahas secara tafsir.
3. Q. 2:259
Perbedaan ننشزها / ننشرها memiliki implikasi eksgetis.
4. Q. 2:222
Perbedaan يطهرن / يطهرن digunakan dalam diskusi tafsir dan fikih.
5. Q. 1:4
ملك / مالك menjadi dasar perbedaan penafsiran.
6. Q. 5:6
وأرجلكم / وأرجلكم menjadi bagian dari perdebatan tafsir-fikih.
7. Q. 4:162
والمقيمين / والمقيمون menjadi objek pembahasan sintaksis dan tafsir.
8. Q. 5:69
الصابئون / الصابئين dibahas secara nahwu dan tafsir.
9. Q. 7:57
بُشْرًا / نُشُرًا mendapat penjelasan leksikografis.
10. Q. 25:48
Bacaan نُشُرًا dikaitkan dengan bentuk leksikal dan tafsir.
11. Q. 49:6
فتبينوا / فتثبتوا menghasilkan tafsir etis yang berbeda nuansa.
12. Q. 4:94
Tradisi فتبينوا dibandingkan dengan bentuk yang berbeda dalam sumber bacaan.
13. Q. 11:122
إنا معكم منتظرون dalam Ṣanʿāʾ menunjukkan bagaimana data manuskrip dan tradisi bacaan dapat saling dibandingkan.
14. Tradisi Ibn Masʿūd
Sebagian bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd terdapat dalam tafsir dan qirāʾāt non-kanonik.
15. Tradisi Ubayy b. Kaʿb
Sejumlah teks yang dinisbatkan kepada Ubayy perlu diuji apakah merupakan:
bacaan;
doa;
tafsir;
atau bagian dari corpus Qur’ani awal.
Kesimpulan kategori
Sumber tafsir sangat penting tetapi memiliki risiko epistemologis tinggi. Tidak semua materi di dalamnya dapat diperlakukan sebagai “manuskrip verbal dari masa Nabi”.
32.11. Ringkasan 135 Contoh
Secara keseluruhan, 9 kategori di atas menghasilkan:
| Kategori | Jumlah contoh | Tingkat signifikansi tekstual |
|---|---|---|
| Ortografis/Rasm | 15 | Rendah–sedang |
| Fonologis | 15 | Rendah–sedang |
| Morfologis | 15 | Sedang |
| Sintaksis/Iʿrāb | 15 | Sedang–tinggi |
| Leksikal | 15 | Sedang–tinggi |
| Penambahan/Penghilangan | 15 | Tinggi |
| Urutan | 15 | Tinggi secara historis |
| Manuskrip non-standar | 15 | Sangat tinggi secara historiografis |
| Tafsir/Glosa | 15 | Variabel; harus dikritik |
| Total | 135 | — |
32.12. Sumber Rujukan Utama yang Harus Dipakai untuk Seluruh Kategori
A. Sumber qirāʾāt klasik
1. Ibn Mujāhid
أبو بكر ابن مجاهد، كتاب السبعة في القراءات
Kitāb al-Sabʿa fī al-Qirāʾāt.
Ini adalah salah satu karya paling penting untuk memahami tujuh tradisi bacaan yang kemudian menjadi sangat berpengaruh.
2. Al-Dānī
أبو عمرو الداني، التيسير في القراءات السبع
Al-Taysīr fī al-Qirāʾāt al-Sabʿ.
Al-Dānī menyederhanakan dan mengorganisasi tradisi tujuh qirāʾāt. Corpus Coranicum menegaskan bahwa al-Taysīr menjadi salah satu basis penting bagi tradisi tujuh bacaan berikutnya. (Corpus Coranicum)
3. Ibn al-Jazarī
ابن الجزري، النشر في القراءات العشر
Al-Nashr fī al-Qirāʾāt al-ʿAshr.
Merupakan salah satu sumber utama untuk sistem sepuluh qirāʾāt.
32.13. Sumber Hadis
4. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
Khususnya:
Kitāb Faḍāʾil al-Qurʾān;
hadis mengenai kodifikasi masa ʿUtsmān;
hadis mengenai tujuh aḥruf.
Hadis-hadis tersebut menjadi sumber primer terpenting untuk memahami bagaimana tradisi Islam sendiri menjelaskan pluralitas bacaan.
5. Ṣaḥīḥ Muslim
Khususnya hadis:
أُنْزِلَ القُرْآنُ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ
dan narasi perbedaan bacaan antara ʿUmar dan Hishām.
32.14. Sumber Manuskrip Modern
6. Behnam Sadeghi & Mohsen Goudarzi
Behnam Sadeghi and Mohsen Goudarzi, “Ṣanʿāʾ 1 and the Origins of the Qurʾān,” Der Islam 87 (2012), 1–129.
Ini merupakan sumber primer akademik terpenting untuk Ṣanʿāʾ lower text.
Contoh yang dikutip di atas berasal antara lain dari:
p. 44;
p. 47;
p. 51;
p. 52;
p. 103.
Daftar varian tersebut dapat diverifikasi melalui reproduksi data Sadeghi–Goudarzi yang mencantumkan lokasi halaman dan ayat. (Wikipedia)
7. Behnam Sadeghi & Uwe Bergmann
Behnam Sadeghi and Uwe Bergmann, “The Codex of a Companion of the Prophet and the Qurʾān of the Prophet,” Arabica 57 (2010): 343–436.
Studi ini penting untuk hubungan antara Ṣanʿāʾ lower text, companion codices, dan sejarah awal teks Qur’an. (Corpus Coranicum)
32.15. Sumber Linguistik dan Rasm
8. Marijn van Putten
Marijn van Putten, Quranic Arabic: From Its Hijazi Origins to Its Classical Reading Traditions (Leiden: Brill, 2022).
Karya ini sangat penting untuk membedakan:
Quranic Consonantal Text;
bahasa Qur’an;
tradisi bacaan;
perkembangan menuju Classical Arabic.
9. Van Putten, “Hišām’s ʾIbrāhām”
Marijn van Putten, “Hišām’s ʾIbrāhām: Evidence for a Canonical Quranic Reading Based on the Rasm,” Journal of the Royal Asiatic Society.
Artikel tersebut memperlihatkan bagaimana bentuk Ibrāhīm / Ibrāham / إبرهم / إبراهيم dapat dipakai untuk menganalisis hubungan antara rasm dan bacaan.
32.16. Sumber Database Akademik
10. Corpus Coranicum
Database Berlin-Brandenburg Academy of Sciences and Humanities:
Corpus Coranicum — Variant Readings
Database ini merupakan sumber yang sangat berguna karena mengumpulkan varian dari:
Muqātil;
Mujāhid;
Sufyān al-Thawrī;
Yaḥyā b. Sallām;
Hūd b. Muḥakkam;
Sībawayhi;
al-Khalīl;
al-Farrāʾ;
Abū ʿUbayda;
Ibn Mujāhid;
Ibn Jinnī;
al-Ṭabarī;
dan sumber lainnya. (Corpus Coranicum)
Database tersebut secara khusus menyebut bahwa variasi dapat berupa:
huruf ditambah;
kata dihapus;
kata ditukar;
ejaan berubah;
bacaan berbeda;
dialek berbeda;
atau konstruksi gramatikal berbeda. (Corpus Coranicum)
32.17. Penilaian Tingkat Kepastian Bukti
Untuk menjaga agar pembahasan tidak menjadi polemis, semua contoh sebaiknya diberi kode epistemologis:
A — Bukti manuskrip langsung
Contoh:
Ṣanʿāʾ lower text.
Ini adalah jenis bukti paling kuat untuk sejarah tekstual karena berasal dari objek material.
B — Qirāʾāt kanonik
Contoh:
مَالِك / مَلِك;
قُتِلَ / قَاتَلَ;
يَطْهُرْنَ / يَطَّهَّرْنَ.
Ini merupakan bukti kuat mengenai tradisi bacaan yang diterima oleh tradisi Islam, tetapi asal-usul wahyunya merupakan pertanyaan teologis yang tidak dapat diverifikasi dengan metode sejarah saja.
C — Qirāʾāt non-kanonik
Contoh:
bacaan yang dicatat Ibn Khālawayh;
Ibn Jinnī;
karya maʿānī al-Qurʾān;
bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn Masʿūd atau Ubayy.
Nilainya tinggi tetapi memerlukan kritik transmisi.
D — Riwayat companion codices
Nilainya harus dikaji berdasarkan:
sanad;
matan;
usia sumber;
kemungkinan tafsir/glosa;
kesesuaian dengan manuskrip.
E — Tafsir/glosa
Nilai tekstualnya paling harus diwaspadai karena sebuah tambahan tidak otomatis berarti bagian dari Qur’an.
32.18. Kesimpulan Revisi Nomor 32
Dengan 135 contoh tersebut, kategorisasi varian Al-Qur’an dapat dibuat jauh lebih presisi.
Hal yang paling penting adalah tidak menyamakan semua varian.
Perbedaan:
الصلوة / الصلاة
secara tekstual tidak mempunyai bobot yang sama dengan:
قُتِلَ / قَاتَلَ
dan keduanya tidak mempunyai status yang sama dengan:
وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
dalam Ṣanʿāʾ, maupun dengan laporan tentang varian muṣḥaf Ibn Masʿūd.
Demikian pula:
varian qirāʾāt
tidak boleh secara otomatis disamakan dengan:
varian manuskrip,
dan:
varian tafsir
tidak boleh otomatis dikategorikan sebagai:
ayat Qur’an alternatif.
Dengan metode ini, kesimpulan yang lebih ilmiah adalah bahwa sejarah Al-Qur’an memperlihatkan beberapa lapisan variasi dengan bobot epistemologis yang berbeda-beda.
Lapisan tersebut dapat diringkas:
ortografi → fonologi → morfologi → sintaksis → leksikal → adisi/omisi → urutan → manuskrip → tafsir/glosa.
Semakin ke arah kanan, kebutuhan terhadap kritik sumber dan kritik manuskrip menjadi semakin besar.
Oleh sebab itu, kalimat akademik yang paling tepat bukan:
“Al-Qur’an sama sekali tidak mempunyai varian.”
dan bukan pula:
“Al-Qur’an mempunyai banyak versi yang berbeda total.”
Melainkan:
“Tradisi Qur’ani menunjukkan variasi pada tingkat ortografis, fonologis, morfologis, sintaksis, leksikal, manuskrip dan tradisi tafsir; sebagian di antaranya diakui sebagai qirāʾāt kanonik, sebagian sebagai bacaan non-kanonik, sebagian sebagai perbedaan manuskrip, dan sebagian lagi harus diperlakukan sebagai data tafsir atau glosa sampai dapat dibuktikan status tekstualnya.”
Formulasi ini paling sesuai dengan keadaan sumber yang tersedia dan menghindari baik apologetika yang menghapus data maupun polemik yang membesar-besarkan data.
Rujukan daring utama
Corpus Coranicum — Reading Variants, Berlin-Brandenburg Academy of Sciences and Humanities. (Corpus Coranicum)
Sadeghi & Goudarzi, “Ṣanʿāʾ 1 and the Origins of the Qurʾān,” dengan data varian lower text dan nomor halaman yang dapat ditelusuri. (Wikipedia)
Corpus Coranicum — About the Project, yang menjelaskan integrasi manuskrip, transliterasi, varian bacaan, tafsir, dan teks pembanding. (Corpus Coranicum)
33. Apakah Variasi Manuskrip Sama dengan Variasi Qirāʾāt?
Tidak.
Ini adalah salah satu kesimpulan terpenting penelitian.
Qirāʾāt adalah tradisi membaca.
Manuskrip adalah objek material tertulis.
Sebuah bacaan dapat:
kompatibel dengan satu rasm;
tidak kompatibel dengan rasm tertentu;
muncul dalam beberapa manuskrip;
atau hanya diketahui melalui transmisi oral.
Sebaliknya, variasi manuskrip dapat berasal dari:
kesalahan penyalin;
ortografi;
koreksi;
hafalan;
atau tradisi tekstual tertentu.
Karena itu kedua corpus harus dikaji secara simultan, tetapi tidak boleh disamakan.
34. Problem “Teks Asli”
Pertanyaan “mana Qur’an asli?” sebenarnya memiliki beberapa pengertian.
Pertanyaan 1
Apa teks konsonantal paling awal?
Pertanyaan 2
Apa bentuk bacaan pertama?
Pertanyaan 3
Apa teks yang digunakan pada masa Nabi?
Pertanyaan 4
Apa teks yang distandardisasi ʿUtsmān?
Pertanyaan 5
Apa bentuk qirāʾāt kanonik?
Pertanyaan 6
Apa bentuk Qur’an cetak modern?
Jawaban terhadap keenam pertanyaan tersebut tidak harus identik.
Inilah salah satu kelemahan banyak perdebatan populer.
35. Apakah Ada “Archetype ʿUtsmānī”?
Sebagian penelitian modern berargumen bahwa kesamaan ortografi tertentu di sejumlah manuskrip awal mendukung keberadaan suatu archetype tertulis yang sangat awal.
Van Putten menggunakan kesamaan ortografis tertentu untuk berargumen mengenai suatu archetype ʿUtsmānī tertulis.
Hipotesis ini penting karena menunjukkan bahwa:
standardisasi tidak hanya terjadi pada tingkat teoretis atau oral, tetapi sangat mungkin mempunyai dasar manuskrip yang nyata.
Ini merupakan salah satu alasan mengapa sebagian besar manuskrip awal sangat berdekatan dengan teks standar.
36. Apakah Teks ʿUtsmānī Dibuat dari Nol?
Bukti yang tersedia tidak mendukung gambaran bahwa ʿUtsmān menciptakan Al-Qur’an baru dari bahan yang sebelumnya tidak dikenal.
Tradisi hadis justru menggambarkan adanya:
ṣuḥuf milik Ḥafṣah;
Zayd b. Thābit;
sahabat-sahabat Quraisy;
dan materi Qur’ani yang sudah beredar.
Sumber Bukhārī menggambarkan proses tersebut sebagai penyalinan dan penyatuan, bukan penciptaan corpus baru.
Namun sejarah-kritis tetap dapat berargumen bahwa proses tersebut melibatkan seleksi.
Dengan kata lain:
standardisasi ≠ penciptaan dari nol;
standardisasi juga ≠ tidak ada seleksi.
37. Pembakaran Muṣḥaf Lain: Apa Implikasinya?
Riwayat Bukhārī menyatakan bahwa ʿUtsmān memerintahkan bahan Qur’ani lain untuk dibakar.
Dari sudut pandang sejarah teks, tindakan tersebut sangat signifikan karena:
ia menunjukkan adanya multiple exemplars;
ia memperlihatkan intervensi otoritas politik;
ia mengurangi jumlah witness yang mungkin dibandingkan oleh generasi berikutnya;
ia membuat reconstruction menjadi lebih sulit.
Tetapi “pembakaran” juga bisa dipahami sebagai tindakan standardisasi untuk menghindari fragmentasi komunitas.
Penilaian moral terhadap tindakan ini berbeda antara tradisi keagamaan dan sejarah modern.
38. Apakah Standardisasi ʿUtsmān Menghapus Semua Varian?
Tidak.
Yang terlihat justru:
standardisasi rasm mengurangi ruang bagi sejumlah varian tertulis, tetapi tidak menghapus seluruh variasi bacaan.
Qirāʾāt terus berkembang dan kemudian dikodifikasi.
Hal ini menunjukkan bahwa:
teks tertulis relatif distandardisasi lebih awal daripada sistem bacaan sepenuhnya distandardisasi.
Ini adalah salah satu temuan penting penelitian modern.
39. “Second Canonization”
Shady Nasser menggunakan konsep second canonization untuk menunjuk tahap ketika sistem qirāʾāt, terutama tujuh bacaan Ibn Mujāhid, memperoleh status kanonik yang semakin kuat.
Artinya:
kanonisasi teks dan kanonisasi bacaan tidak harus merupakan satu peristiwa yang sama.
Ini menjelaskan mengapa:
rasm ʿUtsmānī dapat relatif stabil;
tetapi qirāʾāt tetap beragam.
40. Posisi Corpus Coranicum
Corpus Coranicum merupakan sumber penting karena mengintegrasikan:
manuskrip;
varian bacaan;
tafsir awal;
filologi;
dan dokumentasi digital.
Database tersebut mencatat bahwa bahkan tafsir awal seperti karya Muqātil b. Sulaymān telah memuat puluhan bacaan berbeda, sementara karya al-Ṭabarī dan penulis lain memperlihatkan variasi regional seperti Mekkah, Madinah, Basrah, Damaskus, dan Kufah.
Ini penting karena menunjukkan:
kajian varian bukanlah fenomena yang ditemukan sepenuhnya oleh orientalis modern.
Sebagian besar datanya berasal dari literatur Islam sendiri, meskipun penelitian modern mengorganisasi data tersebut menggunakan metode berbeda.
41. Apakah Tradisi Islam Menyangkal Adanya Varian?
Tidak secara sederhana.
Literatur klasik justru penuh dengan:
ikhtilāf al-qirāʾāt;
qirāʾāt sābiʿah;
qirāʾāt ʿashr;
shādhdh;
tafsir dengan bacaan alternatif;
perdebatan nahwu terkait bacaan.
Yang terjadi adalah:
tradisi Islam membedakan antara varian yang diterima dan varian yang ditolak.
Ini sangat berbeda dari klaim:
“Tidak ada perbedaan sama sekali.”
42. Jadi Apakah “Hanya Satu Qur’an” Salah?
Jawabannya bergantung pada definisi “satu”.
Jika berarti:
“Satu tradisi teks Qur’ani kanonik dengan rasm yang sangat stabil dan sangat dominan.”
Maka pernyataan tersebut cukup kuat secara historis.
Jika berarti:
“Tidak pernah ada pembacaan yang berbeda.”
Maka salah.
Jika berarti:
“Tidak pernah ada manuskrip awal yang berbeda.”
Maka salah.
Jika berarti:
“Tidak ada perbedaan makna di antara qirāʾāt.”
Maka salah.
Jika berarti:
“Ada puluhan Qur’an yang secara substansial berbeda dan semuanya sama-sama dominan.”
Bukti saat ini tidak mendukung klaim tersebut.
43. Matriks Bukti
| Klaim | Bukti | Penilaian |
|---|---|---|
| Bacaan berbeda sudah ada pada masa awal | Hadis ʿUmar–Hishām | Sangat kuat sebagai bukti tradisi |
| Ada konsep tujuh aḥruf | Bukhārī/Muslim | Sangat kuat sebagai fakta tradisi Islam |
| ʿUtsmān melakukan standardisasi | Bukhārī | Kuat |
| Muṣḥaf lain dimusnahkan | Bukhārī | Kuat sebagai laporan tradisional |
| Ada manuskrip awal non-ʿUtsmānī | Ṣanʿāʾ lower text | Bukti material kuat |
| Sebagian besar manuskrip awal mengikuti tipe ʿUtsmānī | Manuskrip komparatif | Bukti kuat |
| Semua qirāʾāt berasal langsung dari Nabi | Tradisi teologis | Tidak dapat diverifikasi historis secara independen |
| Semua qirāʾāt hanya berbeda bunyi | Data qirāʾāt menolak | Tidak akurat |
| Qirāʾāt menghasilkan Qur’an berbeda total | Data keseluruhan menolak | Terlalu berlebihan |
| Rasm dan qirāʾāt saling berkaitan | Manuskrip dan filologi | Sangat kuat |
| Kanonisasi bacaan terjadi secara bertahap | Literatur qirāʾāt | Kuat |
| Qur’an modern sama persis dengan setiap bentuk awal | Manuskrip menolak | Tidak dapat dipertahankan |
| Qur’an modern merupakan produk pemalsuan total | Bukti tidak cukup | Tidak terbukti |
44. Apakah Ada “Evolusi Teks”?
Secara sejarah-kritis, istilah evolusi dapat digunakan jika didefinisikan dengan hati-hati.
Yang tampaknya terjadi adalah:
wahyu/recitation → transmisi oral dan tertulis → pluralitas awal → standardisasi rasm → regional reading traditions → canonization → printing standardization.
Tetapi istilah “evolusi” tidak berarti:
seseorang bebas mengarang ayat demi ayat.
Justru proses tersebut sangat terkendali oleh komunitas, hafalan, tulisan, dan tradisi.
Dengan demikian, model yang lebih masuk akal daripada “semuanya identik sejak detik pertama” maupun “semuanya diubah seenaknya” adalah:
stabilisasi bertahap atas corpus yang pada tahap awal memiliki variasi tertentu.
45. Masalah Ontologi: Apa yang Disebut “Al-Qur’an”?
Ini mungkin pertanyaan paling mendasar.
Dalam teologi Islam, Al-Qur’an dapat dipahami sebagai:
kalām Allāh
yang diwujudkan dalam bacaan dan mushaf.
Dalam filologi:
Al-Qur’an adalah corpus tekstual yang dapat diteliti melalui manuskrip dan tradisi bacaan.
Dalam sejarah:
Al-Qur’an adalah teks yang mengalami transmisi melalui komunitas tertentu dan kemudian memperoleh bentuk kanonik.
Ketiga definisi tersebut tidak identik.
Karena itu sebagian kontroversi muncul karena pihak-pihak yang berdebat menggunakan definisi “teks” yang berbeda tetapi mengira mereka sedang membahas objek yang sama.
46. Penilaian atas Posisi Tradisional Muslim
Posisi tradisional Muslim memiliki beberapa kekuatan historiografis:
Ia mempunyai bukti internal yang sangat awal mengenai variasi bacaan.
Ia tidak menyembunyikan fakta bahwa ʿUtsmān melakukan standardisasi.
Tradisi qirāʾāt sangat rinci mengenai transmisi.
Konsensus akhir mengenai teks 114 surah sangat kuat.
Manuskrip awal mayoritas mendukung stabilitas teks ʿUtsmānī.
Namun memiliki tantangan:
tidak semua qirāʾāt dapat dibuktikan secara independen berasal dari Nabi;
tawātur qirāʾāt merupakan konstruksi teoretis yang berkembang;
terdapat varian non-kanonik yang nyata;
Ṣanʿāʾ memberikan bukti material bagi pluralitas awal;
sejarah kanonisasi lebih kompleks daripada narasi “satu bacaan tunggal sejak awal”.
47. Penilaian atas Posisi Revisionis/Polemis
Posisi revisionis memiliki kekuatan ketika:
menekankan keberadaan varian awal;
memperhatikan Ṣanʿāʾ;
mengkaji muṣḥaf sahabat;
mengkritik narasi kanonisasi yang terlalu sederhana.
Namun sering melampaui bukti apabila:
menganggap setiap laporan varian sebagai autentik;
menganggap setiap varian sebagai bagian dari corpus resmi;
menyamakan qirāʾāt dengan Qur’an yang berbeda;
menggunakan angka jumlah varian tanpa metodologi;
menyimpulkan pemalsuan total dari satu manuskrip;
atau mengabaikan fakta bahwa mayoritas manuskrip awal sangat dekat dengan teks ʿUtsmānī.
Dengan demikian, kritik akademik yang baik berbeda dari polemik anti-Islam.
48. Kesimpulan Utama
Setelah menimbang sumber Islam klasik, literatur qirāʾāt, manuskrip, dan penelitian akademik modern, sejumlah kesimpulan dapat dirumuskan.
Pertama
Variasi dalam tradisi Qur’ani memang nyata.
Bukti paling sederhana berasal dari hadis tentang ʿUmar dan Hishām, kemudian diperkuat oleh literatur qirāʾāt dan tafsir awal.
Kedua
Tujuh aḥruf tidak identik dengan tujuh qirāʾāt Ibn Mujāhid.
Keduanya berkembang dalam konteks historis yang berbeda.
Ketiga
Qirāʾāt tidak seluruhnya hanya variasi fonetik.
Sebagian menghasilkan perbedaan morfologi dan makna, seperti Q. 3:146.
Keempat
Standardisasi ʿUtsmān merupakan fase historis penting.
Ia sangat mungkin mengurangi keragaman tertulis dan menciptakan sebuah tradisi teks yang kemudian menjadi dominan. Riwayat Bukhārī secara eksplisit menggambarkan penyalinan dan distribusi mushaf serta penghentian penggunaan bahan Qur’ani lain.
Kelima
Manuskrip Ṣanʿāʾ memperlihatkan bahwa sebelum stabilisasi penuh terdapat variasi tekstual yang lebih besar.
Ini merupakan bukti material penting dan tidak boleh diabaikan.
Keenam
Namun, Ṣanʿāʾ tidak membuktikan keberadaan banyak “Qur’an” yang berbeda secara permanen.
Mayoritas manuskrip awal lainnya justru memperlihatkan stabilitas kuat dari tipe teks ʿUtsmānī.
Ketujuh
Kanonisasi teks dan kanonisasi bacaan merupakan dua proses yang harus dibedakan.
Karya Ibn Mujāhid dan perkembangan literatur sesudahnya menunjukkan bahwa sistem qirāʾāt memperoleh bentuk kanonik melalui proses historis yang lebih panjang.
Kedelapan
Tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Al-Qur’an modern adalah hasil pemalsuan total.
Tetapi juga tidak tepat secara sejarah mengatakan bahwa bentuk tertulis dan cara baca Al-Qur’an tidak pernah mengalami pluralitas atau perubahan.
49. Kesimpulan Akhir yang Paling Netral
Jika seluruh bukti dipadatkan menjadi satu tesis, maka formulasi yang paling defensible secara historis adalah:
Sejarah transmisi Al-Qur’an menunjukkan adanya pluralitas bacaan dan sejumlah variasi tekstual pada periode awal, diikuti oleh standardisasi rasm ʿUtsmānī, dominasi suatu tipe teks yang sangat stabil, dan kemudian proses kanonisasi bertahap terhadap tradisi qirāʾāt. Al-Qur’an yang digunakan umat Islam sekarang bukanlah teks yang muncul dalam ruang historis tanpa variasi sama sekali, tetapi juga tidak didukung bukti sebagai hasil korupsi total atau sebagai satu di antara puluhan kitab yang sama-sama dominan.
Dalam bahasa lain:
“Tidak ada varian sama sekali” adalah terlalu absolut.
“Al-Qur’an mempunyai banyak versi yang berbeda total” juga terlalu absolut.
Model yang paling sesuai dengan keseluruhan bukti adalah:
pluralitas awal → standardisasi → stabilitas teks → pluralitas bacaan terkontrol → kanonisasi.
50. Implikasi bagi Studi Al-Qur’an
Penelitian masa depan sebaiknya tidak hanya membandingkan Hafṣ dan Warsh, tetapi membangun critical apparatus yang menggabungkan:
semua manuskrip abad ke-7–9;
qirāʾāt kanonik;
qirāʾāt shādhdh;
tafsir awal;
riwayat maṣāḥif sahabat;
orthographic analysis;
paleografi;
radiocarbon dating;
dan linguistik historis.
Ini sangat relevan karena proyek modern seperti Corpus Coranicum telah mulai melakukan pemetaan sistematis atas varian, manuskrip, tafsir, dan bacaan.
Bahkan penelitian saat ini masih aktif berkembang. Marijn van Putten, misalnya, melalui proyek QurCan: The Canonisation of the Quranic Reading Traditions, meneliti sejarah kanonisasi tradisi bacaan dengan menggabungkan manuskrip dan sumber literer. Pada Februari 2026 ia juga menerbitkan edisi terjemahan dan komentar linguistik terhadap al-Taysīr karya al-Dānī, salah satu karya terpenting dalam sejarah tujuh bacaan.
51. Bibliografi Pilihan
Sumber primer dan tradisi Islam
Al-Bukhārī, Muḥammad b. Ismāʿīl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍāʾil al-Qurʾān, khususnya hadis 4991–4992 dan 4987.
Muslim b. al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn, hadis 818.
Ibn Mujāhid, Abū Bakr. Kitāb al-Sabʿa fī al-Qirāʾāt.
Ibn Khālawayh. Mukhtaṣar fī Shawādhdh al-Qurʾān.
Ibn Jinnī. Al-Muḥtasab fī Tabyīn Wujūh Shawādhdh al-Qirāʾāt.
Al-Dānī, Abū ʿAmr. Al-Taysīr fī al-Qirāʾāt al-Sabʿ.
Studi akademik modern
Déroche, François. The One and the Many: The Early History of the Qur’an. Yale University Press, 2021. Buku ini menekankan pluralitas sejarah pada tahap awal dan proses pembentukan bentuk kanonik.
Nasser, Shady Hekmat. The Transmission of the Variant Readings of the Qurʾān: The Problem of Tawātur and the Emergence of Shawādhdh. Brill, 2012.
Nasser, Shady Hekmat. The Second Canonization of the Qurʾān: Ibn Mujāhid and the Founding of the Seven Readings. Brill, 2020. Buku ini dikaji secara kritis dalam Journal of Semitic Studies.
Sadeghi, Behnam & Uwe Bergmann. “The Codex of a Companion of the Prophet and the Qurʾān of the Prophet.” Arabica 57 (2010): 343–436.
van Putten, Marijn. Quranic Arabic: From its Hijazi Origins to its Classical Reading Traditions. Brill, 2022.
van Putten, Marijn. “Hišām's ʾIbrāhām: Evidence for a Canonical Quranic Reading Based on the Rasm.” Journal of the Royal Asiatic Society, 2020.
van Putten, Marijn. al-Dānī’s al-Taysīr fī al-qirāʾāt al-sabʿ: A Translation with Linguistic Commentary. Open Book Publishers, 2026.
Corpus Coranicum, Berlin-Brandenburg Academy of Sciences and Humanities, database Variae Lectiones Coranicae dan Manuscripta Coranica.
52. Ringkasan Eksekutif
Secara singkat, penelitian kritis menghasilkan tujuh proposisi:
1. Ya, terdapat varian Al-Qur’an.
Tetapi “varian” memiliki beberapa tingkat dan tidak semuanya merupakan perubahan substansial.
2. Qirāʾāt benar-benar berbeda.
Beberapa perubahan bahkan memengaruhi morfologi dan nuansa makna.
3. Hadis tentang tujuh aḥruf merupakan bukti penting mengenai pluralitas bacaan awal.
4. Standardisasi ʿUtsmān adalah fakta penting dalam sejarah teks.
5. Ṣanʿāʾ membuktikan bahwa tahap awal tidak sepenuhnya seragam.
6. Mayoritas bukti manuskrip berikutnya menunjukkan stabilitas yang sangat tinggi dari teks ʿUtsmānī.
7. Kesimpulan paling seimbang bukan “Al-Qur’an tidak pernah bervariasi” dan bukan pula “Al-Qur’an telah dipalsukan”, melainkan bahwa tradisi Qur’ani mengalami proses historis dari pluralitas awal menuju stabilisasi dan kanonisasi.
Itulah kesimpulan yang paling mampu mempertahankan integritas data sejarah tanpa harus memaksakan kesimpulan teologis tertent.